Selamat malam Indonesia… malam ini aku lagi-lagi tak bisa menutup mata. Long weekend kemarin memang membuatku benar-benar mengistirahatkan tubuhku, walaupun aku merasakan kebosanan pada libur yang terlalu lama. Besok, mungkin tepatnya 5 jam ke depan aku kembali lagi pada rutinitas kerja; tapi tetap saja mataku tak bisa terpejam. Ada banyak hal yang menggangguku, problem sehari-hari, kerjaan di kantor, hal kecil atau besar, bercampur menjadi satu… keinginan yang bercampur dengan kegalauan.
Jumat lalu aku menyempatkan diri untuk menonton film Rambo IV. Sudah lama aku tidak melihat aksi Stallone sebagai Johnny Rambo ini, yang kuingat film Rambo terakhir yang kutonton itu saat aku masih duduk di bangku sekolah, entah SD atau SMP aku lupa. Game Nintendonya pun terakhir kumainkan saat masih SMP. Jujur, film aksi Johnny Rambo kali ini sedikit membuatku merinding dan jijik, mungkin kalau aku tidak tahan bisa-bisa muntah. Begitu banyak adegan kekerasan yang bahkan untuk orang dewasa pun bisa membuat mimpi buruk saat tidur malam, apalagi untuk anak kecil atau remaja. Memang sich, filmnya berdasarkan pada kisah pelanggaran HAM di Burma aka. Myanmar yang bisa dibilang sadis dan brutal. Well, terlepas dari adegan kekerasan yang ada di film tersebut, ada sepenggalan kalimat menarik dari si Rambo yang miskin ekspresi itu, “Died for nothing or Live for something”. Kalimat ini mengingatkan pada harapanku saat memasuki tahun 2008 ini, harapan untuk menjadi lebih baik dan bangun dari kesedihan yang kurasakan di tahun-tahun sebelumnya.
Kadang aku merasa apa yang kulakukan tidaklah bisa merubah keadaan, namun “petuah” si Rambo ini memberikan arti baru bahwa setidaknya aku bisa menjalani hidupku ini untuk “sesuatu” daripada hanya berdiam diri dan menyerah kalah pada situasi. Hmmm… kalau diingat-ingat… sounds like film The Lords of The Ring! Yeah… aku jadi teringat si Samwise Gamgee dengan muka polosnya mengatakan: “That there’s some good in this world, and it’s worth fighting for, Mr. Frodo”. Well… he’s right! Masih banyak hal yang baik di luar sana untuk kuperjuangkan, mungkin apa yang kulakukan tidaklah bisa merubah keadaan saat ini, namun aku percaya bahwa apapun yang kulakukan akan mengisi sepenggal cerita kehidupan ini. Bless me God, I can do it!
Selamat malam Indonesia…
JN. Rony
20080211
Menjadi orang menyebalkan telah menjadi 1/2 perjalanan hidupku. Buat sebagian orang yang begitu mengenalku, memberi predikat “tukang komplain” padaku. Well, itulah salah satu sisi menyebalkan dari diriku, suka komplain… terutama pada sesuatu yang menurutku kurang benar, kurang sempurna, kurang bagus, dan sebagainya yang menurut ukuranku kurang ideal. Sepanjang hidupku, entah apa yang belum pernah kulawan… mulai hansip di kampung, hingga birokrasi beberapa bank pun kulawan. Sebagian bisa kumenangkan, sebagian lagi aku harus mengalah… semuanya menguras tenaga, bahkan ada beberapa yang menguras uang 🙂 Aku memang cukup gila dalam hal komplain, jika sudah niat… berbagai cara akan kutempuh hingga permasalahanku bisa menang. Entah, aku sendiri heran dengan tabiatku yang satu ini, mungkin sifat turunan dari keluargaku yang cukup keras dan sangat menjunjung tinggi hak dan kewajiban. Kewajiban harus dilakukan dan hak harus dituntut… begitulah caraku hidup.
Minggu lalu aku memecat 2 orang. Yang pertama adalah salah satu karyawanku, dan yang satunya adalah seorang kurir. Karyawan yang kuberhentikan itu karena memang tidak sesuai harapanku dan aku merasa sudah cukup memberinya waktu; sedangkan kurir yang diberhentikan itu hasil aku melabrak sebuah bank ternama di negeri ini. Kasusnya adalah karena ada 2 bulan tagihan kartu kreditku yang tak pernah tiba di kantorku dan pihak bank selalu menjawab sudah dikirim. Aku sudah cukup bersabar sejak pertengahan Desember lalu memberi mereka kesempatan untuk melacak kiriman tagihan tersebut. Bagiku, lembar tagihan itu adalah hak yang harus kutuntut, mengingat bank pun selalu menuntut aku membayar tepat waktu. Mengingat sang kurir sering berbohong bahwa tagihan sudah terkirim, maka kasus kuangkat hingga terjadi cukup kehebohan di kantor bank tersebut. Akhirnya dengan deadline keras dariku, barulah terungkap bahwa surat memang tak pernah dikirim oleh sang kurir dan berita yang kudengar sang kurir akhirnya diberhentikan. Kejam? Mungkin… namun daripada mempertahankan seseorang yang tidak produktif, lebih baik menggantinya dengan orang lain yang niat kerja, masih banyak pengangguran mencari kerja di luar sana; begitu kataku pada si bos kurir yang kudamprat tempo hari.
Hari ini adalah permulaan masa Pra Paskah, masa dimana Gereja mengajak kita merenungkan penderitaan Yesus menuju kematian-Nya di kayu salib. Seperti tahun-tahun yang lalu, aku pun memasuki Pra Paskah ini dengan pantang dan puasa dengan “gayaku”. Puasa dan pantang makan/minum buatku mungkin bukanlah hal yang sulit, mengingat aku sudah cukup keras menempa diriku sejak 10 tahun yang lalu; ditambah lagi ini adalah tahun ke-3 aku menambah menu vegetarian ke dalam program pantanganku. Namun yang terutama adalah proses dimana aku harus belajar lebih mengendalikan emosi dan kebiasaan buruk seperti suka komplain. Tujuannya tak lain adalah menahan agar aku tidak sampai stroke akibat darah tinggi di kemudian hari 🙂
Malam makin larut, ini adalah malam Imlek namun aku masih berdiam seorang diri dalam kesunyian kantorku. Sejenak kumelihat cerminan diriku pada kaca di depan mejaku dan masih terlihat jelas tanda abu yang ada di dahiku. Abu itu menjadi tanda dimulainya masa pertobatan dan perubahan diri menjadi lebih baik. Mungkin mustahil menghilangkan sifat menyebalkan dalam diriku, namun setidaknya aku akan terus belajar mengurangi sisi negatifku itu.
Selamat malam Indonesia, Gong Xi Fat Coi… Selamat berpantang dan berpuasa!
JN. Rony
20080206
Jendral itu telah pergi… Siang tadi, Jendral tua itu akhirnya menutup mata setelah cukup lama berjuang melawan sakitnya. 32 tahun berkuasa ternyata benar-benar membuat karisma dan wibawanya masih terasa hingga hari ini, walaupun 10 tahun sudah tak lagi merajai negeri ini. Aku teringat 12 tahun lalu saat sang ibu tiada, negeri ini seolah disulap menjadi negeri yang berduka, tak ada moment tanpa mengenang sang ibu… dan hari ini ingatan itu serasa di-rewind dalam pikiranku. Hampir semua stasiun TV berlomba menanyangkan kilas balik perjalanan sang Jendral tua. Banyak tokoh numpang nampang mengungkapkan kekagumannya pada sang Jendral tua dan untuk sesaat, lenyaplah segala kontroversi hukum yang sebelumnya terus-menerus menghantamnya.
Dari diskusiku dengan beberapa teman, berbagai respon kurasakan. Ada yang bersimpati atas sakitnya, ada pula yang bersorak dan menganggap sakitnya itu sebagai karma atas segala perbuatannya, dsb. Dari berbagai tayangan kilas balik perjalanan hidup sang Jendral, terkesan begitu banyak jasa-jasa yang telah diberikan oleh sang Jendral pada negeri ini. Well… saat sang Jendral berkuasa aku memang masih terlalu kecil untuk mengerti arah kepemimpinannya… yang kutahu adalah aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan sebagai keluarga keturunan Perancis, kata seorang teman… maksudnya Peranakan Cina Surabaya. Masa-masa aku bersekolah hingga lulus SMA adalah masa dimana aku harus merasakan hidup sebagai warga negara kelas 2, dimana lebih banyak aturan-aturan yang harus kami jalani tanpa bisa melawan. Istilah “cino singkek” begitu akrab di telingaku semenjak aku menginjak TK nol kecil. Well, namun aku tetap menjalani kehidupanku mengingat kami sudah terlatih menghadapi “propaganda” saat itu.
Semenjak sang Jendral lengser keprabon oleh paksaan reformasi, negeri ini toh tak kunjung selesai persoalannya, terlalu kronis kata beberapa pakar, sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Pemimpin telah berganti, namun tetap saja belum ada perubahan berarti, bahkan bagi mereka yang merasakan 6 jaman, ada yang berpendapat bahwa jaman kedualah yang terbaik mengingat saat itu mencari nafkah dirasa paling mudah dibandingkan saat ini. Namun tentunya sepak terjang sang Jendral pun meninggalkan luka mendalam bagi sebagian orang, entah yang berseberangan pendapat atau hanya sekedar orang yang berada di tempat dan waktu yang salah. Sekarang, Cinta dan Benci berbaur mengantarkan kepergian sang Jendral ke alam baka.
Hmmm… memang, sang Jendral adalah sosok karakter yang kuat dalam bersikap; namun sang Jendral pun manusia yang punya keterbatasan. Kulihat ada hal-hal positif yang telah diwujudkan sang Jendral bagi negeri ini; di sisi yang lain aku pun melihat ada hal-hal yang dihancurkan oleh sang Jendral. Dielukan dan dihujat, itulah akhir kepemimpinan sang Jendral. Bagiku, akhir hidup sang Jendral menyisakan rasa sedih, prihatin dan gembira dalam diriku. Sedih, karena negeri ini harus kehilangan seorang Jendral Besar yang karismanya begitu besar dan berjasa begitu besar bagi bangsa ini; Prihatin, karena sang Jendral harus mengalami tarik-ulur nyawa dengan sang malaikat maut, entah karena fisiknya yang kuat ataukah itu hukuman akibat dosa-dosa semasa hidupnya; dan Gembira karena sang Jendral Tirani itu akhirnya pergi juga, cukup sudah penderitaan yang telah ditimbulkannya pada negeri ini. Pada akhirnya, aku pun harus belajar untuk melepaskan kepergian sang Jendral dalam damai, berdoa semoga sang Jendral dapat beristirahat di alam baka sambil melihat secara jelas negeri ini dari atas sana. Manusia hidup dengan 2 sisi, baik dan buruk; aku mencoba untuk melihatnya pada sosok sang Jendral yang tentu tak sempurna. Aku hanya berharap semoga dengan kepergian sang Jendral dapat membawa negeri ini lebih baik di hari esok.
Betapa hatiku tak’kan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku tak’kan sedih
Hamba ditinggal sendiriSiapakah kini p’lipur lara nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejatiTelah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh s’ribu
Tanah Air jaya saktiGugur bungaku di taman bakti, di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambah sari, Tanah Air jaya sakti
Selamat jalan Jendral! Requiescat in Pace!
JN. Rony
20080127
In Memoriam: HM. Soeharto

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 