Di kamarku ada 3 jenis jam di kamarku, yaitu jam yang umum kita gunakan, jam mundur dan jam 24 jam. Jam mundur? Jam 24 jam? Kedua jam antik ini sebenarnya hanyalah kreasi “nakal” dari pebisnis tangguh yang kerap disapa Mr. Joger. Jam Mundur adalah jam yang berputarnya dari kanan ke kiri, berlawanan arah dengan jam pada umumnya yang berputar dari kiri ke kanan; sedangkan jam 24 jam adalah jam yang dalam 1 hari berputar 1x putaran, sebab pada jam tersebut terdapat 24 angka jam, berbeda dengan jam pada umumnya yang hanya memiliki 12 angka jam dan dalam 1 hari berputar 2x putaran. Awal mula butuh adaptasi beberapa minggu saat menggunakan jam mundur atau jam 24 jam, yang sering membuat aku salah waktu akibat salah melihat jam. Namun lambat-laun, aku pun mulai terbiasa melihat ke-3 jenis jam tersebut.
Bila aku melihat jam mundur, seolah aku melihat kembali pada masa lalu, tentang apa yang sudah dan belum aku perbuat. Kadang aku tersenyum jika mengingat segala kenangan manis di masa kecil, kadang aku pun bisa malu sendiri jika mengingat kekonyolan yang pernah kuperbuat, kadang aku jengkel dan marah jika teringat akan kesempatan yang telah terlewatkan di masa lalu, namun kadang aku pun menyesali kenangan akan hal-hal merugikan yang dulu kuperbuat. Sejenak aku melihat kepada jam 24 jam, inilah perjalananku saat ini. Dalam sehari aku telah diberi waktu 24 jam oleh Tuhan dan entah berapa jam telah aku lalui begitu saja. Jam 24 jam ini seolah mengingatkan bahwa dalam hari yang kulalui ini tak dapat kuulangi seiring dengan putarannya yang hanya 1x dalam 1 hari. Bila 1x putaran tersebut habis, maka bergantilah hari. Seketika aku pun melihat kembali pada jam biasa yang beputar seperti jam lainnya, maju dan 2x putaran dalam sehari. Aku menyadari bahwa hidupku makin pendek dan begitu cepat berlalu. Begitu banyak hal yang harus kulalukan namun masa depan begitu cepat menjemput, seolah waktu begitu cepat berlalu. Ada kiasan, so many things to do, so little time i have. Itulah yang kurasakan hari demi hari, berkutat dengan berbagai hal yang entah layak atau tidak layak untuk dikhawatirkan. Mungkin karena aku takut menyongsong hari esok karena ketidaksiapanku. Mungkin juga karena begitu banyak peristiwa terjadi di luar perkiraanku selama ini.
Beberapa tahun lalu aku pernah membaca dan cukup terinspirasi oleh sebuah buku yang berjudul “Who Moved My Cheese?” Buku ini bercerita tentang tikus yang terjebak dalam sebuah labirin dan menemukan kenyataan bahwa persediaan keju mereka habis. Ada tikus yang berjuang untuk mencari sarang keju baru dan ada yang menyerah. Selama bertahun-tahun aku mencoba untuk menjadi tikus yang berjuang mencari sarang keju baru dengan menyusuri labirin kehidupan yang semrawut. Seorang teman pernah berkata padaku demikian, “kamu adalah seorang pejuang, aku percaya kamu bisa mengatasi permasalahmu hingga pada detik terakhir”. Sejauh ini aku bersyukur bahwa Tuhan selalu memberi jalan untuk bertahan dan mencari jalan keluar; walau kadang aku ingin menyerah karena tak tahu lagi harus berbuat apa saat menemui jalan buntu.
Well, agaknya aku harus berusaha lebih keras untuk mencari sarang keju yang baru, seiiring dengan putaran jarum jam yang detik demi detiknya tak pernah berhenti berputar.
Dalam kesunyian malam,
JN. Rony
20070904
Malaysia, Truly Asia… baru kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kebenaran slogan negeri jiran yang jadi tetangga kita. Lewat berbagai pertimbangan, akhirnya kuputuskan untuk ikut serta dalam acara bertajuk Performance Appreciation Gathering yang diselenggarakan oleh perusahaan tempatku mencari nafkah sehari-hari. Well, inilah kali pertama pasporku ada gunanya, karena selama ini pasporku hanya dibuat sekedar untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu diperlukan. Mengambil waktu di libur long weekend, kami dari cabang-cabang di daerah berkumpul sehari sebelumnya di Jakarta. Aku sendiri transit dulu di Surabaya dan berangkat bersama rombongan dari cabang area timur. Malam itu kami tiba di Jakarta lebih lambat dari jadwal, karena entah kenapa hari itu semua penerbangan ke Jakarta mengalami delay berjam-jam. Kemacetan Jakarta pun langsung kurasakan kembali dan malam itu kuhabiskan dengan berjalan-jalan di mall dekat hotel tempat menginap. Paginya, setelah makan pagi kami langsung diberangkatkan dalam bus hotel yang ternyata kapasitasnya tidak sebanding dengan jumlah peserta. Dengan sedikit berdesak-desakan, sampailah di Cengkareng Terminal 2. Setelah menunggu beberapa jam dan mendapatkan instruksi dari tour leader, kami melewati beberapa prosedur pemeriksaan di terminal keberangkatan international plus ditambah sedikit delay, terbanglah kami dengan pesawat Garuda Indonesia. Mulailah perjalananku di negeri jiran…
Day 1 – 17 Mei 2007. Setelah melewatkan beberapa jam di pesawat Boeing 747-400, mendaratlah aku di KLIA. Amazing! Suasana yang sangat berbeda langsung kurasakan begitu memasuki KLIA. Jujur, langsung deh Cengkareng yang merupakan bandara paling modern di Indonesia serasa ga ada apa-apanya 🙂 butuh kerja keras bertahun-tahun untuk bisa mewujudkan airport seperti KLIA, aku jadi membayangkan bagaimana model Changi yang terkenal itu ya? Setelah naik trem penghubung bandara dengan terminal (so cool) dan melewati beberapa prosedur imigrasi plus pengambilan bagasi, kami diajak makan siang di Eden KLIA Restaurant. Ciri khas masakan Melayu-India mulai kurasakan, entah karena memang kenyang atau masih belum terbiasa, aku ga banyak makan. Setelah makan, rombongan langsung diajak ke Genting Highland, sebuah kota yang terletak 2000 meter di atas permukaan laut. Genting yang terkenal dengan kasinonya ini kami capai dengan menaiki kereta gantung. Saat tiba di Genting, kami langsung makan malam, sedikit pengarahan dari direksi perusahaan dilanjutkan dengan cek-in di Genting Hotel dan malam itu aku berjalan-jalan di sekitar Genting dan melihat suasana di kasino yang sangat ramai dengan orang yang ingin menguji keberuntungannya. Ada sedikit pemandangan yang unik namun mengenaskan, saat aku melihat cukup banyak orang yang rela tidur di arena permainan dengan ala kadarnya hanya demi menghemat uang hotel agar bisa berjudi, berharap dewi fortuna berpihak pada mereka. Hmmm… pengalamanku mengatakan bahwa bandar tidak pernah kalah, namun aku pun tak bisa menyalahkan mereka yang berharap begitu besar pada judi… Entahlah, setidaknya di sini aku merasakan bahwa aku harus bersyukur bahwa aku tak perlu sampai begitu desperado dan mengharapkan kaya dari judi yang notabene hampir mustahil. Bahkan guide lokal yang mendampingi groupku mengatakan bahwa di semua hotel di Genting memang tidak ber-AC, karena hawanya sudah cukup dingin, namun jendela kamar saat ini hanya bisa dibuka sekitar 5-10 cm saja, mengingat dulunya banyak yang bunuh diri dengan cara melompat dari kamar hotel akibat kalah judi. Malam pun tak terasa berlalu…
Day 2 – 18 Mei 2007. Pagi itu aku bangun agak kesiangan. Setelah berkemas aku langsung makan pagi, namun ternyata tak ada menu yang menarik seleraku untuk makan. Ga biasa sarapan sih 🙂 Setelah makan, aku pun mulai mencoba Outdoor Theme Park yang katanya wajib untuk dicoba. Dengan membayar tiket terusan (seperti di Dufan), seharga RM 33 pengunjung bisa menikmati isi permainan sepuasnya sampai tutup, tapi orientasiku saat itu hanya mencoba permainan yang menguras adrenalin. Yang pertama adalah Flying Coaster. Permainan ini harus membayar lagi seharga RM 10, namun bisa 2x main. Flying Coaster ini mirip Roller Coster namun dalam posisi tidur seperti Superman sedang terbang dan berada di bawah rel. Setelah 2x putaran, aku lanjut ke permainan yang dinamakan Space Shot, dimana kita diangkat ke ketinggian 185 feet (sekitar 56 meter) lalu diterjunkan ke bawah dengan kecepatan 67 km/jam, sungguh pengalaman dengan gravitasi yang cukup menyenangkan. Permainan ketiga dan terakhir yang kunaiki adalah roller coaster yang dinamakan Corkscrew, karena waktunya untuk berkemas dan kembali ke Kuala Lumpur. Informasi tentang Genting Highland bisa dilihat di http://www.genting.com.my. Siang itu kami sekali lagi naik kereta gantung dan dibawa ke Kuala Lumpur. Di tengah perjalanan kami diajak mengunjungi Batu Cave, yang cukup menguras tenaga untuk menaiki tangganya yang berjumlah lebih dari 270 anak tangga. Setibanya di Kuala Lumpur, rombongan dilepas di KLCC untuk belanja, kemudian makan malam di Sri Thai Restaurant dan berakhir di Berjaya Times Square Hotel. Malam itu, kulewatkan dengan sedikit jalan-jalan dan menikmati minuman di cafe hotel.
Day 3 – 19 Mei 2007. Lagi-lagi aku bangun kesiangan, yang berakibat aku tidak ikut sarapan. Ternyata aku sudah ditunggu oleh rombongan untuk memulai city tour. Secara garis besar, aku kagum dengan kota Kuala Lumpur ini, karena cukup tertata rapi. Well, bisa jadi rumput tetangga lebih hijau khan? 🙂 Sampai siang, kami diajak ke beberapa objek untuk foto-foto, menaiki wahana (semacam bianglala di Dufan) Eye On Malaysia – sebuah wahana yang diadakan hanya pada tahun 2007, belanja di pusat per-coklat-an (phew, serem liatin teman-teman kantor pada kesetanan belanja coklat) , foto group dengan latar Petronas Twin Tower . Setelah makan siang di MinMax Chinese Restaurant, kami dilepas di tempat perbelanjaan bernama Sungai Wang hingga sore, di sini aku membeli beberapa souvenir kecil. Sorenya kami kembali ke hotel untuk bersiap makan malam di Sri Melayu Restaurant dan malamnya kulewati dengan acara kecil yang ga jelas di tempat yang aku ga ingat pula namanya 😀
Day 4 – 20 Mei 2007. Pagi itu aku mulai kepayahan… maklum, sudah beberapa malam aku kurang tidur. Setelah dibangunkan dengan paksa, aku langsung bersiap dan makan pagi. Untunglah bawaanku sudah kusiapkan sejak malam. Setelah proses cek-out, rombongan dibawa menuju Putrajaya untuk foto-foto dan dilanjutkan dengan makan siang di Putajaya Seafood Restaurant. Setelah itu, kami langsung menuju ke KLIA untuk bersiap kembali ke Indonesia. Ada hal yang menarik dalam rombonganku ini, yaitu bawaan bagasinya adalah yang terbanyak diantara rombongan yang ada. Guide lokal kami pun cukup terkesima, mengingat jumlah rombongan sekitar 40-an orang, sedangkan jumlah bagasi sebanyak 80-an belum termasuk tas yang dibawa ke dalam kabin pesawat 😀 Di KLIA, setelah cek-in tiket, berbelanja sedikit oleh-oleh di Duty Free Airport, kami terbang kembali ke Indonesia dengan Garuda Indonesia, kali ini dengan pesawat Boeing 737-400 yang jelek banget 🙁
Hmmm… ada beberapa hal yang menarik dalam perjalanan ke Malaysia yang walau cuma beberapa hari tersebut, di antaranya adalah keteraturan dan kebersihan. Jujur, aku sangat nyaman dengan kebersihan kota Kuala Lumpur. Design kotanya juga menarik dan di beberapa daerah terlihat penataan kota yang apik, walaupun cuaca di sana cukup panas menyengat. Yang cukup membuat nyaman adalah walaupun Malaysia adalah negara yang menerapkan hukum Islam, namun kebebasan bagi warga non-muslim tetap terjaga. Dari pengamatanku, mayoritas di sana terdiri dari 3 jenis manusia: Melayu, China dan India. Praktis penggunaan bahasa Melayu, Inggris dan Mandarin sangat akrab di telinga. Berakhir sudah perjalanan senang-senang ke negeri tetangga… tinggallah kenangan hidup beberapa hari di negeri orang. Thanks untuk teman-teman yang seperjalanan denganku yang turut menceriakan hari-hariku, thanks pula untuk Lisa, tour leader rombongan kami yang cantik dan sangat sabar, terlebih lagi thanks untuk board of director dari SMS yang sudah meng-entertain kami…
Pada akhirnya… Malaysia memang layak untuk disebut Truly Asia…
JN. Rony
20070610
“Cintaku bukan biasa…” — Siti Nurhaliza
Mungkin sudah lama aku kurang begitu memperhatikan berkat yang kuperoleh hari demi hari, semua akibat rutinitas dan kesibukan sehari-hari yang membuatku lupa bahwa Tuhan banyak berkarya lewat hal-hal kecil dan sederhana. Hampir setiap malam aku tertidur dalam kondisi payah dan tak ada lagi waktu untuk mensyukuri hari yang telah kulalui. Jujur, kadang aku rindu masa-masa dimana aku aktif dalam sebuah tim PD saat aku masih di Surabaya. Saat-saat itu aku diajarkan dan diingatkan untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal. Berkat atau bencana di mata manusia kadang berbeda makna di mata Allah. Untuk itulah aku mencoba untuk bersyukur dalam segala perkara, walaupun aku tahu itu berat… namun yang terpenting adalah kesadaran untuk senantiasa mencoba bersyukur.
Tak terasa tahun 2007 sudah mulai memasuki pertengahan tahun, waktu begitu cepat berlalu ataukah aku yang kurang memperhatikan waktu? Aku tak tahu, namun dalam beberapa kesempatan aku mencoba untuk menyendiri dan menjauh dari berbagai rutinitasku… aku mencoba merefleksikan segala kejadian yang sudah menimpaku, baik itu berkat ataupun bencana yang sudah kulalui. Tahun 2006 mungkin adalah tahun terberatku dalam pekerjaan yang sedang kujalani saat ini… tahun itu pula aku menjalani hidupku dalam sebuah pertanyaan besar, “who am i” dan “what i want”. Berbagai konflik kulalui di tahun itu, mulai dari hal sepele hingga serius. Namun di tahun 2006 pula, aku belajar untuk “malu” dengan mengakui dosa dan kelemahan yang kututupi selama ini. Aku belajar bahwa hidup bukanlah hitam atau putih, namun begitu banyak area abu-abu yang menuntut perubahan sudut pandang dariku.
Tahun 2007 menjadi gong bagiku untuk memulai hidup yang baru, hidup dimana aku mencoba untuk lebih ceria. Rambut yang memanjang pun kupotong habis. Sayang? Mungkin, tapi aku tak pernah menyesali keputusanku dalam hidup. Rambut panjang memberiku banyak pelajaran tentang hidup, tentang bagaimana orang memandang dan menilaiku berbeda 180 derajat hanya dari ukuran panjang rambut. Bagiku rambut panjang banyak mengajariku untuk lebih bersabar, maklum… mengurus rambut panjang lebih sulit ketimbang rambut pendek… untunglah ini adalah kali ketiga aku memanjangkan rambutku hingga sebahu. Mungkin rambut panjang bisa juga sebagai peringatan 2 tahun perusahaan tempatku bekerja melaksanakan kewajibannya pada para nasabah akibat kejadian yang menimpa reksadana di Indonesia di bulan September 2005.
Bulan lalu aku mencoba untuk mengisi Personality Test kembali, ternyata hasil yang kuperoleh sungguh di luar dugaan… aku makin melankolis! Nyaris sempurna bahkan… sampai ada seorang teman yang terheran-heran dan mengatakan jarang sekali dia menemukan cowok yang melankolis seperti aku. Test semacam itu memang bukanlah jaminan pribadi seseorang, namun setidaknya aku dapat melihat siapakah dan seperti apakah aku saat ini. Baik-buruknya tentu kembali pada bagaimana aku mengarahkan kepribadianku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sulit memang, namun setidaknya aku terus mencoba… tak ada salahnya khan?
Bulan Mei ini mungkin bisa dikatakan berkat kembali diberikan padaku. Kali pertama akhirnya pasporku distempel! Udik memang, tapi jika bukan karena kantor, aku tak sanggup untuk ke luar negeri. Walau dalam proses keberangkatannya aku banyak sekali menghadapi masalah yang hampir membuatku urung berangkat, namun akhirnya toh aku untuk pertama kalinya menginjakkan kakiku di negeri tetangga… seperti kata Tukul, wong ndeso! Belum cukup, sepulangnya aku lagi-lagi mendapatkan lembaran kertas yang selama ini hanya ada di angan-anganku… yeap! Lembar kelulusan itupun dapat kuperoleh setelah sekian lama aku merelakan weekendku untuk kuliah. Lagi-lagi kata Tukul, wong ndeso!
Malam main larut… aku tahu problem hidupku belum berhenti sampai di sini, namun aku sudah makin mengerti bahwa salibku haruslah kupikul dan salibku berbeda dengan salib orang lain. Kadang rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, begitu pula aku sering mengeluh bahwa cobaan yang kualami adalah yang paling berat. Aku bersyukur bahwa aku memiliki orang-orang yang begitu memperhatikan, menyayangi dan mendoakan aku walaupun mereka bukanlah keluargaku, mereka adalah teman-teman dan para romo yang telah menjadi bagian dari hidupku. Oh… malam makin sepi, hanya sesekali terdengar bunyi motor milik tetangga kost yang baru pulang. Musik mellow kembali mengalun di speaker komputerku… lagi-lagi lagu favoritku, Where Are You Now-nya Jimmy Harnen, memecahkan kesunyian malam. Ya, aku memang sedang rindu… dan agaknya lagu itu cocok untuk mengobati rasa rinduku…
Selamat malam Tuhan, terima kasih atas berkatMu selama ini… Selamat malam Indonesia, selamat malam Bali…
JN. Rony
20070526

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 