Satu lagi perjalanan kutempuh. Kali ini Jakarta kembali menjadi tujuanku. Entah kenapa, perasaan begitu berkecamuk menjelang keberangkatanku. Memang biasanya aku sedikit gelisah apabila hendak bepergian jauh, namun kegelisahanku kali ini begitu hebatnya, sampai-sampai makanan yang disediakan di airport lounge hampir tak terjamah, walaupun sebenarnya perutku lapar karena tak sempat sarapan pagi. Apakah suatu pertanda buruk? Aku tak tahu. Yang pasti aku hanya bisa berpasrah pada keadaan, toh tiket sudah di tangan.
Alasanku kali ini ke Jakarta bagi beberapa temanku agak berlebihan, yaitu menghadiri pernikahan seorang teman. Menurut mereka sebenarnya aku tak punya kewajiban untuk datang, mengingat biaya yang tentunya tidak sedikit ditambah lagi dengan kenangan masa lalu yang mungkin bisa membuatku sakit hati. Namun, entah kenapa aku tak bisa menolak permintaan untuk hadir. Dalam hati kecilku, aku mungkin masih menyayangi dia, mungkin juga bisa menjadikan diriku untuk berdamai dengan perasaan masa lalu. Well… inilah rumitnya seorang melankolis. Nah, agar waktuku bisa efektif, aku pun meminta bantuan seorang teman di milis untuk mengadakan mini-gathering para gadgeter.
Jumat siang aku mendarat di Jakarta dan langsung menaiki bus damri menuju ke tengah kota. Tujuan pertama ada kantor pusatku di kawasan Thamrin. Sepanjang perjalanan aku banyak melamun menatap kosong pemandangan kota yang cukup kumuh dan ruwet. Mungkin inilah yang jadi alasanku tak ingin pindah ke Jakarta, begitu kataku dalam hati. Setibanya di Thamrin, aku menuju McD untuk mengisi perutku yang sudah tidak bersahabat, namun lagi-lagi semuanya itu kutelan dengan sia-sia tanpa ada kenikmatan. Kegelisahan ternyata mengalahkan rasa laparku. Setelah jam istirahat usai, aku menuju ke kantor untuk bertemu dengan beberapa bos untuk membicarakan tentang pekerjaan.
Menjelang malam aku menuju ke Senayan City untuk acara mini-gathering dengan sedikit perjuangan berhimpitan dengan banyak manusia di dalam busway. Setibanya di lokasi acara, ternyata cukup ramai yang datang, dilanjutkan dengan obrolan ringan dan agenda rutin, yaitu pamer gadget untuk difoto. Acara berlangsung hingga malam, sehingga aku pulang dengan badan capek.
Sabtu, seharian kuhabiskan dengan mengobrol dengan temanku yang rumahnya kutumpangi. Baru malamnya kupergi menuju hotel tempat acara pernikahan digelar. Mengingat sedikitnya undangan yang kukenal, malam itu aku merasakan kesendirian di tengah-tengah ratusan undangan yang hadir. Malam itu aku kembali melihat temanku yang tampil sangat cantik di pelaminan. Sudah cukup lama aku tak berjumpa dan malam itu aku berjumpa dalam pesta pernikahannya. Memang, rasa sayang itu tak pernah hilang, namun dalam hati aku berdoa agar dia bisa berbahagia selamanya hingga akhir hayat.
Di hari Minggu siang kubangun dari tidurku yang kurang nyaman akibat gangguan segerombolan nyamuk yang mengganggu sepanjang malam. Siang tadi lagi-lagi aku merepotkan seorang kenalan di milis, bersama keluarganya kami bersantap siang di sebuah depot sambil mengobrol lepas tanpa topik yang pasti. Selepas makan, aku diantar ke bandara walaupun masih kepagian, namun cukup sudah kerepotan yang telah kutimbulkan. Ternyata ada baiknya juga, karena jadwalku bisa dimajukan untuk mengisi kekosongan pesawat yang akan terbang pada jam tersebut. So, here i am… di dalam pesawat duduk di depan sendiri… yang setara dengan kelas bisnis, terbang kembali ke pulau Dewata untuk melanjutkan kembali rutinitasku.
Lewat perjalananku kali ini ada banyak hal yang kupelajari, hikmah yang kuperoleh dan kebaikan yang kudapat. Semuanya lewat orang-orang di sekitarku yang begitu baik padaku, baik yang telah kukenal lama, maupun orang yang baru kukenal beberapa menit. Hanya lewat doa kupanjatkan demi semua hal yang telah kuterima dari mereka semua. Terima kasih buat segenap gadgeter yang berkenan hadir di Senayan City (specially bos Sentot yang telah meng-organize), buat Sihombing family yang telah menerima saya layaknya keluarga, buat pak Bambang dan ibu Naumi (serta kedua junior yang lucu) yang telah men-traktir plus mengantar saya ke bandara, dan tak lupa kupanjatkan doaku untuk “little bunny” agar happy ever after.
Di dalam pesawat Boeing 737-400 Flight No. KI0334,
JN. Rony
20061008
Manusia akan berubah, begitu kata seorang teman mayaku. Berawal dari diskusi tentang perilaku kawin-cerai artis/pejabat yang lagi hangat diberitakan di infotainment di tivi, sampailah pada kesimpulan tersebut. Well… ada benarnya juga sich. Tinggal masalahnya perubahan menuju ke arah yang lebih baik atau buruk? Malam ini aku berusaha untuk memecahkan pertanyaan itu. Selagi hawa panas kembali menyerang kota Denpasar diselingi dengan hujan pertama setelah sekian lama kota ini kering, itupun langit terkesan setengah hati mencurahkan airnya ke bumi. Entah berapa suhu malam ini, yang jelas tubuhku sangat berkeringat walaupun kipas anginku terus berputar berusaha mendinginkan hawa dalam kamarku.
Bila kucoba membuka catatan perjalananku, tak terasa hampir setahun aku mulai “bermasalah” dengan kehidupanku secara pribadi. Lebaran tahun 2005 adalah saat dimana aku mengambil keputusan untuk berpisah dengan seseorang yang kusayangi. Keputusan yang mungkin berat dan menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus kuhadapi. Seseorang yang saat itu kuharapkan bisa menjadi orang yang mengerti dan mempercayai aku. Namun, dugaanku salah. Semuanya harus berakhir dengan kekecewaan yang teramat dalam. Aku mencoba untuk tegar dan tak menangis, namun hatiku tak kuasa untuk menahan pedihnya dikhianati dan dikecewakan. Saat itu aku kehilangan arah dan tujuanku, bahkan tensiku pun naik seiring dengan emosiku yang kerap meluap karena alasan sepele.
Manusia akan berubah, aku pun berubah karena peristiwa itu. Aku pun kembali mengucilkan diri dari beberapa komunitas, aku berusaha keras untuk bisa melupakan sumber kepahitanku tersebut. Seorang temanku menegurku bahwa aku terlalu melankolis, bahkan terlalu ekstrim, suatu hal yang tak bisa kupungkiri. Aku adalah pribadi yang tak ingin disakiti, begitu rentannya saat perasaan terluka teramat dalam. Segala upaya kulakukan untuk bangkit kembali, banyak alasan kucoba ungkapkan untuk menguatkan diriku. Namun, malam ini… aku menyadarinya bahwa aku belum berhasil melupakan yang telah terjadi. Ketergantunganku begitu kuatnya sehingga seringkali aku malu pada diriku sendiri. Entah harus dengan cara apa lagi aku bisa terbebas dari dosa yang menempel padaku ini…
Cinta, apakah sebenarnya cinta itu? Jika 2 manusia harus bersatu atas nama cinta, mengapa masih saja ada alasan untuk meragukan cinta, mengkhianati cinta, dan memisahkan cinta? Mungkin aku termasuk golongan mereka yang mempercayai sebuah kehidupan dongeng Romeo dan Juliet, sebuah kisah percintaan abadi yang berakhir dengan hidup bahagia selama-lamanya. Mungkin aku termasuk pula dalam golongan mereka yang percaya pada cinta pandangan pertama, cinta sejati, dan cinta-cinta seperti dalam sebuah kisah roman picisan. Bagaimanapun juga aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa bagiku cinta adalah sebuah rasa yang berdasarkan pada kepercayaan dan komitmen. Bila tak lagi saling percaya, bagaimana bisa menyebut diri mencintai? Well… manusia berubah.
Malam telah berubah menjadi pagi buta. Tak lama lagi gema sahur akan dikumandangkan, walau mungkin tak sekeras saat ku tinggal di Jawa. Aku masih tak bisa menghentikan putaran otakku apalagi memejamkan mataku. Aku menyadari bahwa aku telah berubah lebih buruk dan perubahan itu sedikit demi sedikit telah menggerogoti aku. Aku sadar aku tak bisa terus bertahan seperti ini. Aku sadar aku harus menghadapi buah yang dihasilkan dari pohon masa laluku. Entah apakah aku bisa, aku tak tahu… yang kutahu adalah aku tak boleh menyerah!
Entahlah… apapun hasilnya, aku harus tetap berjuang… sampai nanti, sampai mati…
JN. Rony
20061002
“Kalau kau pernah takut mati, sama…” — Letto
Bulan Agustus akan segera berakhir, tinggal beberapa hari lagi aku akan memasuki bulan September dan aku yakin tak terasa diriku pun akan segera mengganti kalender dengan yang baru, tahun 2007. Waktu begitu cepat berjalan tak terasa, seiring dengan aktivitas dan kesibukan sehari-hari menjalankan sebuah rutinitas hidup. Hebatnya, aku tak pernah membayangkan diriku akan seperti saat ini, bila aku mengingat-ingat masa kecil dan masa sekolahku. Mungkin bisa dikatakan, hidupku saat ini adalah sebuah keajaiban dan mujijat nyata dari sebuah rencana yang lebih tepat disebut Misteri Allah. Memang tak pernah terlintas sedikit pun bahwa aku akan bekerja dan hidup seperti sekarang ini.
Minggu lalu kita baru saja merayakan (tapi tak merasakan) pesta ulang tahun kemerdekaan negara ini. Sudah 61 tahun kita merdeka, begitu kata banyak orang. Aku ingat, sejak kecil aku terdidik oleh lingkunganku sehingga begitu bangga menjadi seorang anak bangsa Indonesia. Walau kusadar kenyataan sering berbicara lain, lewat perlakuan dan perkataan terhadap diriku yang kebetulan dilahirkan oleh keluarga yang bukan pribumi ini; tapi entah kenapa aku tetap mencintai tanah ini dan begitu bangga jadi anak negeri yang carut-marut ini. Seminggu sebelum pesta bangsa ini, aku mendapatkan satu makna tentang sebuah kemerdekaan, yaitu bukan sekedar merdeka dari penjajahan, bukan pula merdeka untuk berekspresi seperti yang terjadi pada era reformasi; melainkan kita baru benar-benar merdeka apabila kita bisa memerdekakan diri dari menindas dan menjajah orang lain.
Selama beberapa hari ini aku banyak menerung tentang kondisiku saat ini. Aku menyadari ternyata betapa banyak perubahan yang terjadi pada diriku. Beberapa teman yang mengenalku bertahun-tahun mengatakan bahwa aku berubah. Perkataan itu ditujukan pada diriku baik perubahan secara fisik maupun sikap. Memang, secara fisik aku memang berubah, tepatnya makin gendut dan rambutpun mulai rontok 🙂 tapi yang lebih kupikirkan adalah secara sikap aku mengalami perubahan juga. Apakah benar? Karena aku sering merasa bahwa aku masihlah aku yang dulu. Setelah kurefleksi diriku, ternyata memang aku berubah! Tanpa kusadari aku telah menjadi seorang yang penuh dengan kekhawatiran yang memenuhi otakku sehingga membuatkan lebih sering murung dibandingkan tersenyum. Seperti dalam film Doraemon yang kutonton tadi pagi, seperti si Nobita yang sedang sedih sampai auranya berwarna hitam pekat. Mungkin itulah gambaran diriku saat ini.
Hmmm… semenjak cece angkatku pindah dari Surabaya beberapa tahun lalu, aku memang kehilangan tempat terbaik untuk curhat. Tak ada lagi tempat untuk kuberbagi tawa dan tangis. Memang hingga saat ini aku pun masih belum memiliki tempat berbagi cerita. Ceceku sendiri saat ini tinggal di negeri yang berbeda 9 jam denganku, sehingga sudah 2 tahun ini aku tak lagi berbicara dengannya. Komunikasi hanya lewat email, itupun jarang sekali karena kesibukannya sebagai pekerja dan ibu rumah tangga yang harus mengurus anaknya masih kecil. Kalaupun kangen, aku biasanya hanya memandangi fotonya saat masih di Surabaya.
11 tahun sudah sejak aku meninggalkan bangku sekolah, begitu banyak kejadian kualami, begitu banya mujizat yang telah kurasakan, begitu banyak berkat dan rahmat Tuhan yang kuterima; namun semuanya sering kulupakan ketika beberapa hal sepele yang tidak kuharapkan terjadi. Saat-saat di bangku kuliah adalah saat pergumulan paling hebat yang pernah kualami, begitu banyak membuka mata, pikiran dan hatiku akan sebuah kenyataan dunia. Namun, saat itu pula aku benar-benar merasakan apa yang disebut sebagai MUJIZAT, JAMAHAN, dan KEKUATAN dari Roh Kudus. Kini 5 tahun sudah kutinggalkan bangku kuliah, kutinggalkan pula semua kenangan itu dan tenggelam dalam rutinitas kerja.
Malam makin larut, aku merasakan sebenarnya aku ini sungguh beruntung saat ini. Kepindahanku ke Bali mungkin memang adalah salah satu dari misteri rencana Allah padaku. Lewat banyak peristiwa di pulau ini aku belajar banyak hal. Walau aku lebih sering merasakan beban yang teramat berat yang harus kujalani dalam kesendirian, tapi lewat perenungan yang kucoba rutin untuk kulakukan, aku merasakan bahwa aku tak pernah berjalan sendiri. Terutama lagi, aku senantiasa mendapatkan kekuatan dari doa-doa yang selalu dipanjatkan oleh para sahabat dan imam yang menyayangi aku.
Hmmm… hari berganti, umurpun bertambah. Entah apa lagi yang akan terjadi padaku, saat ini aku mencoba untuk menjalani saja kehidupanku. Berat? Mungkin. Yang terutama adalah aku harus terus menggali dan memahami akan siapa diriku. Who Am I? adalah pertanyaan yang sudah 10 tahun terakhir terus-menerus berdengung di kepalaku dan itulah yang terus kucari dalam pengembaraan hidupku. Samar-samar lagu “Bintang Keabadian”-nya Ronnie Sianturi menemaniku melewati keheningan pagi buta ini… aku berharap aku pun dapat menemukannya…
Hidup tak lagi bermakna
Bilaku menjauh dariMu
Seperti malam tanpa bintang
Aku kesepianHidup tak lagi berwarna
Bila ku tak dekat padaMu
Seperti ladang tak bertuan
Aku kesepianDi langit tanpa batas aku terbang mencari satu bintang keabadian
Kemana ku melangkah suatu saat pasti kan kutemukan bintang keabadian
Selamat pagi Indonesia!
JN. Rony
20060828
Here I Am, Lord…

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 