16 Mar 2008 @ 4:42 PM 

Tak terasa Minggu Palma pun telah datang, itu artinya 40 hari sudah aku telah berpuasa dan berpantang menjadi seorang vegetarian. Sudah 3 tahun ini, puasa dan pantangku kulakukan dengan caraku yang memang dipandang oleh sebagian orang agak aneh, mengingat aku menggabungkan unsur katolik, islam dan budhist 🙂 Harus kuakui, caraku “menyiksa” diriku agak ekstrim, yaitu makan hanya sekali sehari selepas pukul 6 sore, sepanjang hari aku berpuasa total tidak makan dan minum dan sebagai pantangan aku memilih menjadi seorang vegetarian, tidak makan daging sama sekali. Awalnya, cara vegetarian ini terasa begitu berat untukku, sebab aku sangat menyukai daging dan termasuk pemilih dalam hal makanan, sehingga hanya beberapa jenis sayuran saja yang bisa kumakan. Untuk puasa makan-minum seharian aku sudah terlatih sejak duduk di bangku SMA. Jadilah 3 tahun ini aku mencoba untuk menempa diriku dalam menahan keinginan lahiriahku melalui menu vegetarian setiap hari dan sejauh ini aku bisa melaluinya dengan baik, bahkan aku merasakan manfaat dari puasa-pantang caraku ini, yaitu berat badan turun dan pencernaan menjadi lebih lancar.

Tadi pagi, untuk yang kedua kalinya aku mengikuti prosesi Minggu Palma di salah satu gereja yang tergolong megah di Bali. Jika tahun lalu aku sempat mengeluhkan perihal pengaturan pada upacara yang penting dalam kalender liturgi Katolik tersebut, ternyata kali ini terulang kembali bahkan rasanya makin parah saja. Belajar dari pengalaman sebelumnya aku datang 1 jam lebih awal, berharap tidak berebut daun palem dan bisa mendapatkan barisan depan. Ternyata kali ini, daun palem harus dikumpulkan untuk diberkati bersamaan, kemudian dikembalikan lagi ke umat. Duh! Jujur, ini cara terbodoh yang pernah kudengar 🙁 Mungkin bagi umat yang hanya menjadikan daun palem sebagai pelengkap misa (karena namanya saja Minggu Palma), hal tersebut tidak akan berefek apapun, namun bagi umat yang ingin memberkatkan daun palemnya untuk dipasangkan pada salib, tentu hal ini menjadi konyol. Bayangkan bagi mereka yang memiliki banyak salib, sudah susah-susah membawa banyak daun palem, begitu dikumpulkan bisa dipastikan untuk mengumpulkan kembali daun palem tersebut adalah hal yang mustahil. Itu sebabnya aku melihat beberapa orang enggan mengumpulkan daun palem yang mereka bawa. Aku heran, bukankah prosesi pemercikan daun palem yang dibawa oleh umat adalah sebuah tradisi yang perlu dilestarikan? Dengan cara pemercikan yang tadi kulihat, maka daun palem yang terperciki oleh air suci praktis hanyalah daun-daun yang berada di tumpukan teratas. Lalu, saat pembagian daun palem… seperti yang kuduga, terjadilah kericuhan karena panitia yang membawa daun-daun palem tersebut jadi sasaran rebutan. Hal ini tentu membuat suasana sakral sebuah misa jadi lenyap. Setelah itu, saat memasuki gereja… masih seperti tahun sebelumnya, tidak terkoordinasi dan semua saling berebutan masuk. Hal ini dikarenakan panitia sama sekali tidak mengatur barisan sejak awal. Sedih sekali melihat gereja semegah itu namun umat-umatnya (termasuk aku) seperti sekumpulan orang-orang barbar yang berebut kursi. Lalu sepanjang misa, koor dengan semangatnya bernyanyi sekeras-kerasnya (maklum, sound systemnya baru dipasang tambahan lagi), tanpa peduli saat itu diperlukan keheningan ataukah tidak. Intinya, kacau!

Well… belajar dari pengalaman lalu, aku berusaha untuk tidak memusingkan kekacauan tersebut. Inilah adalah saat menyambung Sang Kristus di gerbang Yerusalem! Yerusalem, Yerusalem… lihatlah Rajamu! Hosana, terpujilah… Kristus Raja Maha Jaya! Memang suasana perarakan yang kurasakan sangat berbeda jauh, malah bisa dikatakan tidak ada perarakan sama sekali… Yang pasti, kegembiraan Yerusalem tak berlangsung lama, sebab tak lama kemudian Yerusalem berbalik mengadili Yesus secara tak adil. Seorang senior yang menanggapi kegalauanku dalam mengambil sebuah keputusan mengatakan dalam SMS-nya bahwa Yesus pun dalam mengambil keputusan harus sampai berdarah-darah. Memang, hatiku serasa hancur saat mendengarkan mazmur antar bacaan: Allahku ya Allahku… mengapa Kau tinggalkan aku? Itulah jeritan hati Yesus saat disiksa dan disalibkan, sebagai konsekuensi keputusan yang Dia ambil, yaitu demi penebusan dosa-dosa kita… manusia yang sangat dikasihi-Nya.

Minggu Palma ini adalah awal dari perayaan misteri Tri Hari Suci yang akan kita masuki beberapa hari lagi. Dalam Minggu Palma ini kita diajak untuk lebih merefleksikan diri, siapakah kita? Apakah kita selama ini bertindak sebagai umat Yerusalem yang dengan semangat bersorak-sorai menyambut kehadiran Yesus, lalu dengan mudahnya berbalik mencela dan berteriak “Salibkan Dia!” pada saat Yesus diadili? Ataukah kita selama ini bertindak sebagai Pilatus yang “jaim” sehingga untuk menjaga wibawanya maka tidak berani menyuarakan kebenaran dan kemudian cuci tangan dari masalah yang dihadapi? Ataukah kita selama ini seperti Yudas yang setiap saat makan-minum bersama Yesus, namun kemudian “menjual” Yesus hanya demi 30 keping perak? Ataukah kita seperti Petrus yang “sok jagoan” membela Yesus, tapi pada saat Yesus diadili, dia malah menyangkal bahwa dia termasuk murid Yesus? Atau, siapakah kita? Pra-Paskah yang dimulai dengan penerimaan abu sampai Minggu Palma adalah masa-masa dimana kita semua diajak lebih menyelami kehadiran Yesus di kehidupan sehari-hari. Lewat puasa dan pantang, kita diajak untuk turut merasakan sedikit dari penderitaan yang dialami Yesus. Terlebih lagi, lewat pertobatan kita diajak untuk kembali ke jalan yang benar.

Aku sadar bahwa aku masih manusia yang penuh dengan dosa. Aku sadar bahwa diriku belumlah sempurna dan memiliki banyak keterbatasan. Aku merasa apa yang kuperbuat belumlah cukup untuk menjadikan diriku layak dan pantas di hadapan-Nya. Mungkin pada akhirnya aku pun harus memahami konsep “i am no one, i am nothing”, sehingga aku bisa menekan segala ego dan kekhawatiran yang ada dalam diriku dalam menyambut kedatangan-Nya dalam diriku. Hmmm… malam makin larut, kurasakan begitu banyak berkat sudah kuterima selama ini. Lewat pengalaman sehari-hari yang kadang kuabaikan, kurasakan begitu besar kuasa dan kasih-Nya padaku. Aku berharap, melalui refleksi Paskah ini aku dapat menjadi manusia yang lebih sempurna dan layak untuk menghadap ke hadirat-Nya. Terima kasih Tuhan, atas segala penyertaan, berkat dan rahmat yang selalu berlimpah hari demi hari dalam hidupku. Biarlah apa yang terjadi padaku hari demi hari, hanyalah demi kemulian-Mu saja, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin!

Dalam segala hal, aku ingin bisa menunjukkan bahwa aku ini anak Allah!

JN. Rony
20080316

to be or not to be, that’s the question!

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 09 Mar 2008 @ 4:40 PM 

Apa yang menjadi tanda bahwa orang itu sudah dewasa atau masih anak-anak? Pertanyaan itu dilontarkan kepadaku dari mulut mungilnya. Agak sulit bagiku untuk menjelaskan, mengingat memang tidak ada aturan baku untuk mengukur tingkar kedewasaan seseorang. Akhirnya kujawab, orang bisa dewasa bila mampu bertanggung jawab atas pikiran dan perbuatannya. Yang kutahu bahwa kedewasaan membuat orang lebih bijaksana dalam berpikir, berucap dan bertindak. Beberapa waktu yang lalu aku pernah menuliskan Jadi Tua Itu Pasti, Jadi Dewasa Itu Pilihan, yang terinspirasi oleh sebuah iklan rokok. Memang kedewasaan tidak identik dengan umur.

Sejenak pikiranku melayang pada seorang teman yang nun jauh di negeri orang. Mungkin dia ini salah satu contoh sebuah kedewasaan dalam diri orang yang masih muda. Bekerja keras dan menyekolahkan adik-adiknya ke luar negeri dengan harapan ingin adik-adiknya menjadi sukses. Bentuk kecintaannya mampu mengalahkan keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, sebuah pengorbanan besar untuk seusia dia. Well… kukatakan padanya, bahwa aku sangat bangga dan salut pada prestasinya. Tidak semua orang bisa seperti itu dan dalam dirinya itulah tercermin sebuah kedewasaan.

Bicara tentang pengorbanan, kuteringat pada seorang teman saat ini kembali tinggal di Surabaya. Saat ini dia memiliki 2 orang anak dan suami yang bekerja di kota lain. Dalam sebuah kesempatan chatting, dia pernah bilang bahwa kadang dia bosan karena jarang keluar rumah untuk bersenang-senang, mengingat ada 2 orang anak yang harus dijaga; ditambah lagi posisi suami yang beda kota sehingga jarang bertemu. Namun pengorbanan itu diambil sebagai bentuk kecintaan pada keluarganya. Memang temanku ini tipikal ibu rumah tangga sejati, pekerjaan sehari-hari menjaga dan mengurus anak, diselingi dengan main game komputer 🙂 Aku salut dan angkat topi padanya, sebuah kedewasaan pun tercermin dalam diri temanku ini. Kedewasaan yang mampu mengorbankan keinginan pribadi demi keluarga.

Pikiranku makin melayang… memang tidak banyak orang bisa menjadi dewasa saat ini. Begitu banyak kemudahan dan kenyamanan ditawarkan oleh dunia, sehingga seringkali membuat orang cenderung memilih yang mudah, yang enak, yang praktis dalam segala hal, tanpa memikirkan orang lain atau masa depan. Aku teringat dalam beberapa kesempatan mencari karyawan baru, begitu banyak lulusan sekarang ingin mencari pekerjaan yang mudah namun dengan gaji yang besar. Berbagai titel sarjana disandang hanya sekedar hiasan. Menyedihkan memang, mungkin era globalisasi telah membentuk sebuah pola baru, ataukah aku yang terlalu kuno? Yang jelas, aku tetap percaya bahwa seleksi alam tetap akan berjalan… yang produktif akan bertahan dan yang tidak menghasilkan akan tersingkir dengan sendirinya.

Hmmm… memang sulit untuk menjadi dewasa ya, begitu banyak tuntutan tanggung jawab yang harus kita pikul. Dengan memutuskan menjadi dewasa, seseorang harus siap mengorbankan sebagian sifat kanak-kanak dalam dirinya. Namun, sifat kanak-kanak tetaplah perlu, untuk menjaga keseimbangan dalam diri, asalkan waktu dan tempatnya harus tepat. Dengan bisa membagi waktu, kapan saatnya bekerja, kapan saatnya sekolah, kapan saatnya bermain, kapan saatnya bercanda, kita sudah membuktikan bahwa kita bisa menjadi dewasa, terlepas berapapun umur kita. Aku sadar bahwa aku pun belum dewasa sepenuhnya, namun aku mencoba untuk lebih bertanggung jawab pada pikiran, perkataan dan perbuatan. Lamunanku buyar, aku harus segera mengemasi koperku… nanti malam aku terbang kembali ke Bali untuk kembali melanjutkan perjuanganku di sana. Seperti kata Andrie Wongso, sang motivator: “Success is My Right”, demikian pula aku percaya bahwa jadi dewasa itu memang pilihan!

Sampai berjumpa lagi Surabaya…

JN. Rony
20080309

dedicated to beau & clod – you are so amazing!

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 06 Mar 2008 @ 4:38 PM 

Kamis, 06 Maret 2008

Welcome home! Finally, landing juga pesawat yang kutumpangi untuk mudik ke Surabaya, kota tercinta. Perjalanan kali ini cukup melelahkan, mengingat aku terbang sehari sebelum hari raya Nyepi, dimana perayaan ini “disakralkan” di Bali. Sampai kini pun masih belum bisa kuterima dengan akalku, kenapa perayaan Nyepi itu dipaksakan kepada semua orang yang tinggal di Bali, walaupun tidak ikut merayakan. But, daripada ambil pusing, yang kulakukan ya kabur setiap tahunnya, sebab untuk stay 24 jam penuh di kamar kost tanpa boleh bersuara dan menyalakan cahaya adalah sungguh tidak mungkin untukku yang tidak suka dengan cahaya remang-remang (lampu kamarku saja pakai 45 watt) dan hiburanku di kamar, apalagi kalo bukan Trans TV… milik kita bersama… hehehe :p

So, sejak 2 minggu lalu aku sudah memutuskan untuk pulang dan jika tahun-tahun sebelumnya aku selalu berkendara dengan mobil, kali ini aku memilih dengan pesawat, mengingat tahun ini aku tidak bisa libur terlalu lama. Dengan mempertimbangkan waktu dan harga, terpilihlah Mandala untuk tumpanganku ke Surabaya. Not bad lah… dengan harga sekitar 700-an ribu untuk pulang-pergi, bisa naik pesawat Airbus A319/A320 yang katanya baru! (padahal neh, di kursi pesawat aku temuin stiker bekas tiket dari kota Liverpool, hahaha… baru direkondisi kaleee!), namun yang bikin deg-deg-an itu jam terbangnya mepet ama pergantian hari… jam 21.45. But, ga ada pilihan lain, sebab pesawat lain rata-rata terbang saat jam kantor belum usai. Nah, canggihnya Mandala nich… perubahan jadwal diberitahukan lewat SMS bow! 2 hari setelah tiket di tangan, datanglah SMS yang memberitahu kalau jadwalku diubah ke jam 22.30. Dieng! Gila, kupikir… tapi mau apa lagi? Selang beberapa hari… si Mandala bikin ulah… eh, aku di SMS lagi… katanya jadwal diubah ke jam 21.30. Lagi-lagi karena alasan operasional. Dah gitu pake ditelpon, ya udahlah… better kalo bisa terbang lebih awal. Malam hari sehari sebelum terbang, tahu-tahu ada SMS masuk… dodol! Si Mandala kasih tahu kalau jadwal diubah ke 23.05. Damn! Gilak abis, so paginya kumarah-marahin tuh Call Center mereka, intinya aku mau kepastian bahwa tuh pesawat pasti terbang, sebab kalau tidak lebih baik aku bawa mobil aja siangnya. Setelah memastikan pesawatnya penuh, aku rada tenang walau tetap aja ada perasaan nervous. Setidaknya kalau sampai batal terbang, bisa ada gerombolan penumpang yang bikin huru-hara masal di airport, hehehe :p

Sore tadi, setelah bursa tutup… aku langsung menuju ke bandara sambil mampir dulu untuk berbuka puasa. Untung masih ada depot yang buka, setelah itu langsung ke bandara, cek-in dan langsung masuk ke lounge. Di sini aku teringat lagi buat segera nutup kartu kredit ABN Amro, ini bank kacau dah… platinum tapi masuk lounge disuruh bayar. Untung ada backup kartu lain, hehehe… 🙂 So, untuk menghabiskan waktu aku pilih 1 meja, duduk, buka laptop dan chatting plus email. Bandara sudah mulai seperti pasar, banyak orang memilih duduk dan menunggu di bandara bahkan sampai di luar ruang tunggu. Memang, sehari sebelum Nyepi yang namanya taxi atau angkutan umum sudah jadi barang langka. Lalu jalanan pun rawan ditutup untuk perayaan perarakan dan pembakaran ogoh-ogoh (buat yang ingin tahu apa itu ogoh-ogoh, search aja di google). Itu alasan lebih baik datang lebih awal ke bandara, aman dah 🙂 Menjelang pukul 10, aku pun pindah ke ruang tunggu rakyat, soalnya lounge tutup. Masuk jam 23, eh… keluarlah pengumuman, pesawat di-delay sampai 23.20. Dieng! Mati dah gw… para penumpang lain pun mulai kelihatan senewennya. Sampai 23.30 pun ga ada tanda-tanda pintu dibuka, mulailah terbentuk kerumuman orang di sekitar pintu… hehehe, siap-siap bikin kerusuhan kalau sampai batal terbang. Untung akhirnya pesawat sukses terbang sekitar pukul 24. Phew… benar-benar hari yang melelahkan, mengingat it’s Nyepi day! Gawat kalau sampai terlantar di bandara gara-gara pesawat batal terbang di jam-jam kritis. Balik rumah? Bisa jadi dicegat di tengah perjalanan. Nginap di hotel? Bakalan susah nyari hotel jam segitu. Tidur di bandara? Hehehe, cari masalah tuh 🙂 Kesimpulannya, better next time ga gambling terbang terlalu mepet dah! Mandala… oh Mandala… benar-benar dodol kau!

Ada kejadian yang selalu mengusikku saat pesawat landing, yaitu masih lemahnya kesadaran dari banyak penumpang yang menyalakan HP saat pesawat masih jalan! Doh! What’s wrong with you, people! Napa sich ga bisa tunggu sampai pesawat benar-benar berhenti? Apa sich bedanya menunggu beberapa menit untuk nyalain tuh HP? Mau pamer HP? Ga laku! Pamer ringtone? Katrok! Atau baru punya HP? Buang aja tuh HP ke laut! Toh, yang jemput pasti tahu lah kalau pesawat juga baru mendarat… seolah-olah begitu penting diri mereka sehingga ga peduli akan keselamatan orang banyak. Ingat! Pesawat walaupun sudah landing, tetap saja bisa kecelakaan, lihat aja kasusnya Garuda yang nyungsep di Jogja tuh. Heran deh… benar-benar seperti orang ga punya pendidikan. So, plis guys and girls… marilah kita sadar diri, mbok ya kalo di pesawat yang masih jalan tuh HP matiin dah… rejeki ga akan lari kok, daripada dapet rejeki tapi nyawa melayang.

Hmmm… cukup dah ngomel-ngomel of the day… now it’s time to sleep… my lovely bed dah nunggu. Buat yang di Bali, selamat Nyepi, selamat berinstropeksi diri dan semoga damai menyertai kehidupan kita semua. Kalo aku, for sure… tempe penyet, here i come! Selamat malam Indonesia!

JN. Rony
20080306
thx dobzi buat kiriman lagu “wait for you”

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal





 Last 50 Posts
 Back
 Back
Change Theme...
  • Users » 2
  • Posts/Pages » 290
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.