01 Jan 2006 @ 11:55 AM 

Aku terbangun dari tidurku karena kedinginan. Ternyata Tahun Baru baru saja kulewati dalam tidurku. Ya, malam pergantian tahun ini memang berjalan seperti malam-malam yang lain. Ditambah lagi kesehatanku yang makin memburuk. Memang, selama 1 bulan terakhir aku cukup sering sakit-sakitan. Saat terakhir cek-up ke dokter, aku sempat diingatkan akan tensi darahku yang naik. Saat mudik sehari sebelum Natal pun aku menyetir dalam keadaan kurang fit, dan sekarang aku benar-benar harus banyak beristirahat karena ternyata tensi darahku naik cukup tinggi.

Sepanjang tahun 2005 kulewati begitu saja. Belakangan ini aku begitu banyak merasakan kepahitan yang kutinggalkan di tahun 2005. Begitu banyak kenyataan dan realita yang kulihat dan kuhadapi yang begitu mengecewakan aku. Aku belajar bahwa tak ada yang bisa kupercayai selain diriku sendiri dan apa yang kuyakini. Orang-orang yang kukenal lewat tindak-tanduknya yang “terlihat” bijak atau suci, ternyata penuh dengan kebohongan dan ambisi diri. Bahkan seseorang yang sempat dekat denganku pun ternyata menyisakan tak lebih dari sebuah kenyataan pahit bahwa aku telah dipermainkan.

Hmmm… tahun yang cukup berat telah kulalui. Pekerjaan rutinitas pun terus akan berjalan. Tak terasa telah 1,5 tahun aku menginjak dan bernaung di Pulau Dewata. Begitu banyak emosi telah kumainkan di sana. Memang, awal tahun lalu aku tak pernah membayangkan akhir tahun yang akan kuhadapi akan seperti sekarang ini. Begitu banyak perubahan yang tak terduga terjadi. Perubahan terbesar yang mengubah pola hidupku berawal dari goncangnya industri reksadana pada bulan April dan September. Ditambah lagi dengan kejutan ledakan bom Bali ke-2 yang memukul seluruh masyarakat Bali. Semuanya itu terasa lengkap saat aku pun melihat kenyataan bahwa memang aku harus mengandalkan kekuatan sendiri dalam menjalankan tugasku.

Memang, tahun 2005 bukanlah tahun yang kulewati tanpa kegembiraan dan suka cita. Ada banyak pula yang kuterima di tahun itu. Ada beberapa teman maya yang kuperoleh di tahun itu, yang berasal dari berbagai kalangan. Memang, kami belum pernah bertemu, hanya terhubung lewat dunia maya karena hobi yang sama; namun pertemenan itulah yang setidaknya memberikan sedikit penghiburan padaku. Di tahun 2005 pula aku berkesempatan mengunjungi kota Kupang, sebuah pengalaman yang cukup berkesan. Yang jelas, aku bersyukur bahwa aku bisa melihat lebih banyak tipe manusia dan aku bisa bertindak sebagai diri sendiri di tahun itu.

Malam makin larut… dan kembali aku merasakan keheningan dalam kamarku ditemani oleh suara jangkrik. Suara terompet dan letusan petasan telah berhenti. Suara knalpot dan klakson tidak lagi terdengar. Ku makin merenungkan jejak langkahku di belakang. Aku memang tak ingin menoleh ke belakang, aku hanya ingin menatap jalan di depanku yang masih terbentang. Aku hanya ingin mengambil hikmah dari semua pengalamanku di tahun lalu. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berserah pada Dia yang telah mengatur jalanku. Malam ini kuberdoa agar di tahun yang baru ini aku sanggup untuk tetap melangkah… Sayup-sayup suara speker laptopku mendendangkan lagu Aku Ingin Pulang dari Ebiet G. Ade. Ya… saat ini aku benar-benar letih dan ingin pulang ke pangkuanNya…

Kemanapun aku pergi
Bayang – bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S’lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab s’mua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du… du… du…

Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa – bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…
U… hu…
Aku ingin pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…

Selamat menempuh hidup yang baru!

JN. Rony
20060101

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 14 Nov 2005 @ 11:50 AM 

Ungkapan itu sebenarnya sudah kupikirkan sejak setahun yang lalu. Sekitar 5 tahun yang lalu aku pernah menulis tentang peranan Gereja di dunia maya, internet, yang sudah mulai menggeliat. Begitu banyak situs dan milis muncul dan tenggelam seiring perjalanan 10 tahun aku bergelut di dunia maya. Aku pribadi mengikuti milis dalam jumlah yang cukup banyak. Dari sekian banyak milis yang kuikuti, ada beberapa yang punya ciri khas yang patut dibanggakan, yaitu rasa kekeluargaan dan persahabatan antar anggotanya. Suasana ini saya dapatkan baik di milis rohani, juga di milis hobby yang saya ikuti; bahkan ada 1 milis jual-beli yang persahabatannya sangat erat, sehingga dipastikan orang yang niat nipu di sana berpikir 10x. Hal ini dikarenakan cukup banyak member milis yang bersedia dengan suka rela menjadi perantara bila terjadi transaksi antar kota, pakai dulu baru bayar, barang ga sesuai iklan, uang dikembalikan, dsb. Inilah tipikal sebuah komunitas yang harus kita kembangkan di dunia nyata.

Kali ini aku ingin membahas tentang milis diskusi ini. Sejak 3 tahun terakhir aku memang tidak banyak aktif di milis ini, sehingga begitu banyak anggota baru yang tidak kukenal, baik lewat email; apalagi rupa. Hanya beberapa member lama yang masih kontak, baik via email, chatting ataupun telpon. Memang aku hanya muncul bila terjadi kekacauan atau malah aku yang membuat kekacauan itu ya? Seiring dengan waktu, satu per satu member yang kukenal mulai menghilang; entah mengundurkan diri, tetap ikut namun tenggelam di tengah hiruk-pikuk pekerjaan (seperti aku), ataukah meninggal. Namun yang pasti, aku mencermati di milis ini pun mulai timbul rasa persaudaraan. Pertemanan yang akrab dapat terjalin lewat apa saja… yang jelas pelopor turat di milis diskusi ini adalah misa jumat pertama. Lalu mulailah hangat-hangatnya milis single-katolik, dan lain sebagainya. Dalam pertemanan ini pun sempat terjadi beberapa insiden yang kurang mengenakkan; bahkan aku pun sempat terkena imbasnya. Saat itulah aku mulai tersadar… wake up! Milis ini sudah masuk ke dunia nyata!

Awal tahun ini aku sempat mengatakan satu point penting saat turat, yaitu jangan bawa milis dalam imanmu. Hal ini karena aku melihat kecenderungan beberapa member di milis ini mendasarkan imannya pada ada yang terjadi di milis. Milis ramai, iman hidup… milis ribut, iman surut… milis tengkar, langsung bilang… katolik itu payah yah! Ini yang ga bener! Bagiku, orang yang demikian memang sebaiknya ga perlu jadi katolik, mending cepetan pindah aja. Aku pribadi banyak belajar tentang iman di milis rohani, sebut saja milis terkenal tempoe doeloe… milis istana Paroki-Net yang termasyur itu, lalu disambung Paroki-Net Surabaya, Api-Katolik, Serayu-Net, Liturgia, dan masih banyak lainnya termasuk salah satunya milis Diskusi Katolik ini. Namun dari perjalananku… aku menemukan bahwa sesungguhnya iman itu kembali pada diri kita, bagaimana kita mendalami iman kita… bukan pada apa yang terjadi dalam diskusi kita di milis. Itu kenapa, bila mau diperhatikan… walaupun milis ini topik bahasannya berat-berat… namun sesungguhnya inti atau spirit dari iman itu sudah memudar… sehingga keberadaan milis menjadi sekedar perkumpulan teolog tingkat tinggi.

Menjelang pertengahan tahun aku kembali terlibat pada hubungan dekat dengan salah seorang penghuni milis. Mungkin kata orang itu cinta lokasi. Lokasinya? Ya milis diskusi. Saya rasa sebagian member sudah tahu dengan siapa dan mungkin bila ada yang ketinggalan info, saya kabarkan lagi bahwa kami sudah tidak lagi bersama. Ok, aku tidak akan membahas tentang kami… namun kembali aku menyoroti kondisi milis ini yang secara tidak langsung berpengaruh pada kami. Saat awal-awal, aku dikejutkan atas berita-berita yang kudengar bahwa cukup banyak member yang “menyayangkan” hubungan kami, tepatnya itu… kok jadian ama saya, gitu lho. Begitu banyak member milis ini yang menyatakan keberatannya dan menginginkan skenario yang lain. Yang membuat saya lebih terkejut lagi, ada selibater yang terlibat dalam urusan ini… ini yang mungkin mengecewakan saya. Jodoh di tangan Tuhan… lalu kenapa manusia berani men-vonis-nya? Well… saya akui saya orang yang bengal di milis ini. That’s the fact; karena saya demikian juga akibat bentukan dari alam. Namun, tetap saja (menurut saya), cara-cara yang terjadi di milis ini sudah tidak benar! Pertemanan? OK! Namun jangan sampai buta oleh “pertemanan” itu. Saya contohkan di milis lain yang saya ikuti, yang terdiri dari multi-etnis dan aliran; kebersamaan tetap bisa dipupuk dengan batasan-batasan. Walaupun saya kenal baik dengan owner/admin milis, namun bila saya melanggar kesepakatan bersama… ya saya tetap dihukum. Di milis, hukuman bisa dalam bentuk karantina (tidak bisa kirim email) untuk waktu tertentu, sampai pada banned.

Well… memang tidak salah sebuah dunia maya menjadi kenyataan… namun yang perlu disadari adalah jangan sampai terbawa perasaan. Justru dengan mulai masuknya sebuah dunia maya kepada kenyataan bisa menjadi alat untuk saling membantu antar member. Kalau semuanya hanya didasarkan pada milis… saya jadi curiga… jangan-jangan sekarang paham terima komuni, pengakuan doa, dan pemberkatan lewat email dah dijalankan ya?

Tulisan ini bukan untuk mendiskritkan siapapun… apapun efek yang telah terjadi pada saya, biarlah berlalu. Saya cuman mengajak untuk bercermin kembali pada apa sesungguhnya motivasi kita dalam ber-milis. Saya tahu pasti ada yang ga setuju atau bahkan ga suka dengan tulisan saya ini… silahkan, itu hak Anda. Well… saya rasa cukup sekian unek-unek saya tumpahkan di sini… Tulisan ini bukan untuk diperdebatkan, juga bukan untuk dibanggakan… ini hanyalah ungkapan dari seorang yang lagi sendiri…

From Bali with love, peace and wave…

JN. Rony
20051114

Smoga tercapai… sgala keinginanmu… — Chrisye

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo

 04 Nov 2005 @ 11:46 AM 

Sebulan sudah Bom Bali 2 meledak dan mencengangkan kembali seisi Bali dan dunia… Kali ini aku mencoba untuk membagikan suasana dari Bali pasca ledakan Bom Bali 2.

Beberapa hari setelah bom medelak, aku menyempatkan diri untuk berputar di area Kuta Square… suasana sangat suram dan bagai kota mati. Memang sepintas masih melihat turis-turis baik lokal maupun manca negara… namun kesepian yang terasa berbeda dengan hari sebelumnya. Apakah Bali akan mati lagi? Sungguh, inilah pertanyaan dan kekhawatiran yang kerap diperbincangkan di masyarakat Bali.

Menjelang libur lebaran, aku kembali menyempatkan diri untuk mengunjungi daerah Kuta. Sepi. Itulah yang masih kurasakan. Discovery Shopping Mall yang biasanya ramai pengunjung di hari Sabtu… kudapati lengang dengan parkiran yang seluas-luasnya. “Ini paragh!”, kukatakan dalam hati… Setelah itu, kembali aku mengunjungi lokasi bom di Kuta Square, masih sepi… toko-toko di area tersebut memang sudah buka… R.AJA’s sudah mulai direnovasi… namun dari jumlah kendaraan yang diparkir di pinggir jalan… sangat kontras sekali dengan situasi bulan sebelumnya. Pengunjung yang berjalan kaki pun jumlahnya menurun drastis. Padahal, Kuta Square selama ini selalu padat oleh pengunjung.

Setelah Kuta, kubawa mobilku menuju daerah-daerah yang bertetanggaan dengan pantai Kuta, yaitu Padma, Double Six, Dyana Pura, dan Oberoi. Dari pengalamanku menjelajahi daerah-daerah tersebut… kali ini nuansa sepi pun masih terlihat. Memang di Dyana Pura dan Oberoi, cafe-cafe masih dipadati oleh turis asing… namun frekuensinya terlihat menurun… Dalam hati kujadi makin berpikir, bila begini terus… kapan Bali bisa bangkit kembali?

Beberapa hari lalu aku mendapatkan kabar dari seorang pemilik cafe di pantai Muaya, Jimbaran; yang bertetanggaan dengan cafe Menega yang terkena bom; bahwa lokasi di Muaya akan mulai dibuka kembali tanggal 5 November esok. Setelah sebulan mereka melakukan renovasi, upacara penyucian, dsb… maka kita saatnya mereka berharap untuk bangkit. Lewat telepon, mereka menitipkan pesan agar bila ada tamu, bisa diajak ke sana. Memang, semenjak bom meledak, pantai ini jadi dihindari pengunjung.

Well… benarkah Bali sudah tidak aman lagi? Mungkin saja… namun indikator keamanan itu tentunya tergantung pada kita pula. Di koran yang kubaca dituliskan bahwa tujuan dari teroris adalah untuk menciptakan ketakutan. Nah, apabila kita menjadi takut, itu artinya tujuan dari teroris sudah tercapai. Bali masih indah untuk dikunjungi dan masih banyak tempat yang bisa dijelajahi… jadi kenapa harus takut untuk ke Bali? Beberapa waktu lalu 2 maskapai penerbangan memberikan jatah 5 ribu seat untuk penerbangan ke Bali gratis… toh nyatanya bisa ludes dalam hitungan hari atau bahkan jam. Apakah itu artinya masyarakat kita jadi tidak takut mati bila dapat tiket gratis/murah; namun jadi takut bila harus mengeluarkan uang? Semoga tidak demikian!

From Bali with love, peace and wave…

JN. Rony
20051104

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo





 Last 50 Posts
 Back
 Back
Change Theme...
  • Users » 2
  • Posts/Pages » 291
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.