17 Jul 2001 @ 4:27 PM 

Prigen, 4-8 Juli 2001 – Tahun ini Keuskupan Surabaya “ketiban sampur” jadi tuan rumah dari beberapa event besar. Selain Konvenda, Keuskupan Surabaya juga ditunjuk sebagai Panitia Pelaksana Pertemuan Nasional (Pernas) Liturgi yang dihadiri oleh utusan dari Komisi Liturgi Keuskupan se-Indonesia serta para pakar liturgi dan KWI (Konperensi Waligereja Indonesia). Tema yang dibahas adalah Perayaan Ekaristi Pasca 2000.

Persiapan demi persiapan pun dilakukan demi terlaksananya acara yang cukup penting (namun sayang kurang diperhatikan oleh umat) ini. Pada tanggal 2 Juli, satu per satu peserta Pernas mulai berdatangan dan diterima serta diinapkan di Paroki Kepanjen dan pada tanggal 4 Juli (Rabu), peserta pun dibawa oleh panitia menuju Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) untuk mengikuti misa pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Sutrisnaatmaka dan Mgr. John Liku-Ada’ dan disertai dengan pameran barang-barang liturgi dan hiburan seni. Setelah misa dan ramah-tamah, para peserta dari 34 Keuskupan di Indonesia ditambah dengan para dosen liturgi dan dewan pleno Komlit KWI diangkut dengan bis menuju ke Griya Samadhi St. Vincentius a Paulo, Prigen. Selama 3 hari 3 malam para peserta mengadakan sidang berkaitan dengan Perayaan Ekaristi yang baik, baik melalui presentasi yang dibawakan oleh para wakil komisi liturgi ataupun sharing kelompok.

Merupakan sebuah anugerah redaksi WPP bisa memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi di dalam event ini. Bersama dengan redaksi majalah KOKI (Kontak Paroki) Gereja Kelsapa (Kepanjen) dan ditemani oleh 4 orang frater yang bertugas sebagai notulen, kami bekerja pagi-siang-malam untuk membuat notulensi yang langsung dicetak dan dibagikan pada peserta hari itu juga. Berhubung kami kewalahan, maka didatangkan 2 orang relawan dari PDPP keesokan harinya untuk membantu. Ber-8 kami tidak tidur untuk mengetik, mengedit, mencetak semua notulensi yang dihasilkan dari tiap sidang. Untunglah rasa capek itu terobati oleh suasana ceria dari kebersamaan kami dan didukung oleh fasilitas dari suster pengelola yang sangat memuaskan (trim’s ya suster Vero!), termasuk koneksi internet di kala kami capek :)

Sidang demi sidang pun membuahkan bahasan-bahasan yang bertujuan menciptakan Perayaan Ekaristi yang baik dan benar. Topiknya memang cukup berat, mengingat para pakar yang yang hadir seperti Stefan Leks; Ernest Mariyanto; Rm. Martin Sardi, OFM; Rm. Piet Go, O.Carm; Rm. Antonius Soetanta, SJ; Rm. Prier, SJ; Rm. Martasudjita, Pr.; Rm. Bosco, O.Carm; serta Mgr. John Liku-Ada’ sebagai Ketua Komlit KWI dan masih banyak lagi pastor, suster, dan awam yang menjadi pemerhati liturgi. Hasil dari Pernas ini diharapkan mampu membenahi Tata Perayaan Ekaristi baik dari segi imam, petugas, dan umat.

Akhirnya pada malam terakhir digelar hiburan untuk menghilangkan kepenatan selama Pernas yang diisi oleh Paduan Suara Anak-Anak dari Paroki Salib Suci (Tropodo), Akustik dari Paroki Marinus Yohanes (Kenjeran), dan kesenian Kentrung dari Blitar Selatan. Kemudian pada hari Minggu, misa penutupan Pernas dipusatkan di Gereja St. Theresia Pandaan yang dipimpin oleh Mgr. John Liku-Ada’ dan dilanjutkan dengan bazar. Setelah itu, para peserta pun kembali ke Prigen untuk mendengarkan hasil Pernas dan siangnya para peserta diantar dengan bis kembali ke Surabaya untuk pulang ke tempat tujuan masing-masing.

Capek, kurang tidur, jenuh, itulah keluhan kami sepanjang Pernas. Namun semua itu tidaklah berarti dibandingkan apa yang kami dapat selama Pernas. Persahabatan, keceriaan, pengetahuan, itulah semua yang kami rasakan sebagai berkat tersendiri. Redaksi WPP mengcapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Sian Chen sebagai redaksi KOKI yang telah bersedia menemani, serta untuk Denny dan Imelda yang bersedia ‘diculik’, serta tak lupa pula untuk para frater (Fr. Paryono, O.Carm; Fr. Wahyu, O.Carm; Fr. Yoseph, O.Carm; dan Fr. Ferry, OFM) yang telah banyak membantu dan menceriakan suasana ruang sekretariat Pernas Liturgi. Specially untuk Sr. Vero, KYM dan si kecil Joshua (dengan ‘klintingan’ kecilnya), serta Sr. Sisilia, KYM untuk makanannya. Tak lupa untuk Rm. Agus, CM yang telah mempercayakan tugas ini pada kami di PDPP. Semoga dengan Pernas Liturgi 2001 dapat semakin menyemarakkan Perayaan Ekaristi yang baik dan benar, terutama untuk kaum muda Gereja.

JN. Rony
20010717

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:16 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Reportase
 17 Jul 2001 @ 4:25 PM 

Tumpang, 7-13 Juli 2001 – Kembali pada tahun ini digelar Camping Rohani untuk para siswa kelas 3 SMP sampai 3 SMU. Acara yang rutin diadakan dari tahun ke tahun ini tetap saja memperoleh antusias yang besar dari seluruh penjuru kota. Hal ini terbukti dengan dibanjirinya Pertapaan Karmel dengan lebih dari 1250 orang peserta! Namun hal ini telah diantisipasi oleh para suster di Pertapaan Karmel dengan telah menambah kapasitas ruang tidur dan tenda, serta ruang makan. Selama kurang lebih seminggu, para peserta akan diberi pengajaran di tengah suasana pegunungan yang dingin-dingin-sejuk.

Sesuai dengan tema Camping Rohani tahun ini, yaitu “Memasuki Millennium III bersama Bunda Maria”, maka topik-topik pengajaran yang diberikan tentulah seputar peranan Bunda Maria dalam Gereja dalam kaitannya dengan devosi para karmelit kepada Bunda Maria dari Gunung Karmel yang dikenal dengan Skapulir Coklatnya. Hal ini dikarenakan tahun 2001 ini adalah peringatan 750 tahun skapulir coklat, skapulir yang dipakai oleh para karmelit, maka sebagai kenang-kenangan, para peserta masing-masing diberi skapulir coklat. Selain pengajaran-pengajaran, para peserta juga diajak untuk berdoa Yesus, mengenal karunia-karunia Roh Kudus, dan adorasi (penyembahan kepada Sakramen Mahakudus). Selain itu juga ada sesi tanya jawab dan pengarahan tentang seks dan narkoba, serta beberapa acara permainan untuk rekreasi.

Seperti halnya para peserta, para panita pun berasal dari berbagai kota, seperti Surabaya, Malang, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. Bahkan tahun ini yang cukup menggembirakan, ada serombongan bis peserta dari Palangkaraya yang rela menempuh perjalanan 3 hari lamanya dengan berganti-ganti angkutan untuk mengikuti acara Camping Rohani ini. Selama seminggu, suasana Pertapaan Karmel yang biasanya hening menjadi ramai dan penuh dengan manusia dengan berbagai karakternya. Mengingat jumlah peserta yang sedemikian banyak, hampir saja para panitia dan para suster serta frater menjadi kewalahan menghadapi para peserta. Hanya saja rasa lelah itu terhibur oleh karya-karya Roh Kudus yang bekerja. Cukup banyak para peserta yang dijamah secara khusus oleh Roh Kudus, baik berupa karunia ataupun panggila n untuk hidup selibat.

Tak terasa seminggu pun berlalu dan acara Camping Rohani diakhiri dengan menggelar misa sore di Gua Maria, pentas drama yang cukup memukau (walau waktu persiapannya yang begitu singkat) dan api unggun serta berbagai macam kembang api yang menghiasi langit malam Pertapaan Karmel dengan sangat indah. Lewat api unggun ini pula dijadikan simbol “pembakaran” dosa-dosa dari para peserta yang ditandai dengan ikut dibakarnya sebuah hati besar bermahkotakan duri yang telah diisi dengan dosa-dosa yang telah ditulis pada secarik kertas. Malam itu adalah malam terakhir, malam dimana para peserta diutus untuk melebarkan Kerajaan Allah. Dan keesokan harinya, Camping Rohani pun ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Malang, Mgr. Herman Yosef dan ditutup secara simbolis dengan memukul gong dan pelepasan balon-balon.

Usai sudah Camping Rohani Siswa. Tapi apakah usai sampai di situ? Tidak! Acara Camping hanyalah sebagian kecil dari tugas perutusan. Diharapkan setalah camping kita dapat semakin melayani sesama dengan kasih. Capek, itu menghinggapi semua panitia dan para suster dan frater, namun rasa bahagia dan ceria telah menutupi semua itu. Proficiat untuk para panitia! Proficiat pula untuk para suster Putri Karmel! Terlebih lagi, Proficiat untuk semua peserta! Selamat bekerja di ladang Tuhan!

JN. Rony
20010717

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:16 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Reportase
 05 Mar 2001 @ 3:52 PM 

3-5 Maret 2001

Tumpang here we come! Mungkin itulah kalimat yang kira-kira bisa menggambarkan suasana hati saat anak-anak PePe berangkat dari kota kita yang sedang kebanjiran ini menuju ke Pertapaan Karmel yang suasananya jauh lebih tenang ketimbang suasana kota Surabaya. Kali ini pemberangkatan dibagi menjadi 4 kloter, dengan kloter 1 mobilnya Pak Su sebagai pimpinan yang memproklamasikan diri berangkat pukul 10 WIB! Setelah melalui proses jemput-menjemput, terisilah mobil kebanggaan Pak Su sebanyak 6 orang. Berbekal harapan menghindari kemacetan di Achmad Yani, maka diputuskan lewat jalur Petra, eh… ternyata nggak kalah macet, alhasil kloter 1 sukses masuk pintu tol Gempol sekitar pukul 15.00 WIB! Gileee benerrrr… :)

Dalam perjalanan, kloter 1 mampir makan… hmm… nyam… nyam… ikan bakar Cianjur! Lalu kami meneruskan perjalanan dan ternyata… memasuki kawasan Taman Dayu kami bertemu dengan kloter 2 (mobilnya Joki) yang sedianya berangkat dari Surabaya pukul 15.00 WIB! :) Lalu kami beriringan menuju Malang, tempat yang dipilih kloter 2 untuk mampir mengisi perut dan kloter 1 meneruskan perjalanan ke Tumpang. Sekitar pukul 18.45 WIB kami masuk ke Pertapaan dan hampir bersamaan antara kloter 1, 2 dan 3 (mobilnya Deddy) dan melapor ke resepsionis dan diberi tempat di Wisma Yerusalem. Setelah membongkar muatan kami ke dalam kamar masing-masing, kami pun makan dan memulai acara kami di ruangan kami, yaitu ruang makan sebelahnya dapur, dengan bernyanyi-nyanyi bersama. Di sinilah retret kami resmi dimulai…

Sabtu, 3 Maret – Malam pertama kami isi dengan sebuah game dan sesi yang diisi oleh Rm. Sugeng, Pr. dari Malang. Setelah melalui game yang cukup seru (romonya juga ikutan main), mulailah sesi yang membahas tentang menerima diri sendiri. Dalam sesi ini dijelaskan oleh romo dengan gayanya yang lucu dan diselingi dengan banyak tawa (padahal 2 kelompok retret lainnya dalam suasana silentium :). Sesi ini diakhir sekitar pukul 22.00 WIB dan saat itulah kloter 4 sampai! :) Ternyata mereka ini juga terjebak kemacetan di Achmad Yani (sorry guys, kami lupa ngontak kalian :). Sesi boleh selesai, tapi bukan berarti bubar… karena kami sibuk berakrab ria dengan romo sehingga tak terasa jam menunjukkan pukul 23.00 WIB dan kami pun bubar dan melanjutkan obrolan di kamar! (di saat tetangga kami udah pada bobok semua).

Minggu, 4 Maret – Pagi-pagi kami bangun dan mandi (tapi saat itu komunitas lain sedang doa Yesus) dan langsung makan pagi dan melanjutkan sesi kedua, yaitu tentang memahami orang lain, juga oleh Rm. Sugeng. Sesi ini pun dibawakan secara menarik dan masih dalam suasana penuh tawa. Dalam sesi ini kami betul-betul dibuat mengerti bahwa dalam pelayanan itu perlu memahami diri sendiri dan orang lain. Sekitar pukul 09.00 WIB sesi diakhiri dan kami mengikuti Misa Minggu di kapel atas bersama-sama dengan komunitas yang lain dan umat dari luar. Setelah itu kami melanjutkan dengan game yang berkaitan dengan sesi 2 tadi. Game ini sungguh seru dan bahkan sempat menyerap penonton dari luar ruangan kami yang merelakan dirinya mengintip kami dan ikut-ikut tertawa. Suasana pertapaan benar-benar dibuat geger oleh PePe! :) Habis game, kami tidur… tepatnya kembali ke wisma tapi tidak tidur semua, melainkan ‘cangkruk’ alias ngobrol. Sorenya, kami mandi dan bersiap untuk game dan sesi 3. Kali ini sesi diisi oleh Rm. Hudiono, Pr., juga dari Malang. Sayang, romo sedang menderita radang tenggorokan sehingga terus terang kami pun kasihan melihat romo harus berjuang ekstra keras untuk berbicara (trim’s ya mo, atas pengorbanannya… semoga cepat sembuh!). Dalam sesi ini dijelaskan sisi suka dan dukanya ikut pelayanan, dalam hal ini komunitas PePe sebagai sebuah PD dan semuanya itu diangkat dari suka dan duka tiap-tiap peserta retret, jadi sungguh aktual. Mata kami terbuka bahwa dalam pelayanan tidak hanya ada suka saja, melainkan banyak sekali duka yang harus kami rasakan. Pukul 19.00 WIB, sesi berakhir dan romo segera pulang untuk beristirahat, sedangkan kami makan (dengan cepat) dan melanjutkan sesi 4 yang dibawakan oleh Bapak Hidayat, yang sekilas bertampang serem, namun mampu mengocok perut kami semua dengan tingkah polahnya yang sekelas dengan “Srimulat” atau “Ketoprak Humor” :) Kitab Suci benar-benar dikupas oleh pak Hidayat yang ‘mantan’ Islam taat ini berkaitan dengan pemahaman diri sendiri. Sesi berlangsung sampai sekitar pukul 20.30 WIB dan acara kami lanjutkan dengan PD yang dibuat mirip dengan doa Taizé, yaitu menggunakan media lilin yang cukup banyak. Dalam PD ini terasa sekali bahwa kuasa Roh Kudus yang hadir sungguh luar biasa, seperti yang diutarakan oleh sebagian besar anak tim PePe. Pukul 23.00 WIB, PD berakhir dan kami kembali ‘cangkruk’ di Wisma sampai larut malam dan bobok…

Senin, 5 Maret – Kembali pagi-pagi kami bangun (juga saat Doa Yesus) dan mandi lalu makan. Setelah makan, kami bersama melakukan doa rosario di Gua Maria atas dan foto-foto sejenak lalu kami masuk kembali pada sesi terakhir, yaitu tentang Dosa dan Tobat menurut Kitab Suci yang kembali dibawakan dengan pak Hidayat dengan gaya Srimulatnya itu… Oleh beliau, dipaparkan banyak sekali perihal dosa-dosa dan perilaku tobat yang harus dijalankan sebagai umat kristiani dan semuanya itu berdasarkan pada Kitab Suci yang menjadi makanan beliau setiap hari. Sesudah itu kami bersama-sama dengan komunitas lain mengikuti misa penutup di kapel atas yang dipimpin oleh Rm. Arie, O.Carm. Setelah misa, kami menikmati makan siang dengan gaya lesehan “mbambung” di ruang makan dan menghabiskan hampir 1 toples besar krupuk (padahal kelompok lain yang lebih banyak pesertanya cuma habis 1/2 toples) lalu foto-foto lagi dengan gaya funky. Sehabis makan, kami pun berkemas-kemas untuk pulang. Saat inilah sempat terjadi sedikit ‘kecelakaan’ ada beberapa orang yang terkena ‘siraman’ air sejuk. :) Setelah berkemas, kami pun pamit pada para suster dan frater dan sekitar pukul 14.30 WIB kami telah meninggalkan Pertapaan Karmel menuju kembali ke kota kami, Surabaya, tepat kami akan melayani kembali dengan semangat dan motivasi yang baru. Kali ini dalam diri kami terngiang lagu yang menjadi janji kami, “Here I am, Lord!”

JN. Rony
20010305

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:16 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Reportase

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.