08 Oct 2008 @ 4:52 PM 

Untung ataukah malang? Pertanyaan ini tidak berani kujawab, sebab memang aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan. Namun memang liburan lebaran kali ini “kelihatan” aku telah salah mengambil keputusan untuk mudik. Berawal dari mepetnya keputusan untuk mudik, aku akhirnya menyetir dalam keadaan yang kurang fit dan dalam waktu yang salah. Sejak awal beberapa teman sudah mengingatkan bahwa aku akan terjebak kemacetan di penyeberangan Gilimanuk – Ketapang, dan ternyata terbukti! Untuk menyeberang saja aku butuh waktu 4 jam, padahal biasanya tidak lebih dari 1 jam, apalagi kalau jadi mobil terakhir dalam kapal, bisa hanya 45 menit saja sudah sampai di seberang. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya perjalanan kutempuh dengan waktu kurang lebih 14 jam. Perjalananku kali ini hanya demi menuntaskan misi membeli “mainan baru” untuk mencoba mengisi waktu luang dan mengurangi kebosananku. So, sepanjang liburan hanya kupergunakan untuk mempelajari “mainan baru”-ku itu.

Nah, sesudah cukup bete dengan antrian lama dan perjalanan panjang yang melelahkan itu, sesampai di Probolinggo AC mobil tiba-tiba mati. Doh! Kacau dah! Akhirnya setelah putus asa nyoba-nyoba ga berhasil, kutempuh perjalanan 4 jam tersisa dengan tanpa AC di tengah siang terik yang bukan main. Doh! Sesampai di Surabaya, segera ke Auto 2000 untuk cek AC, ternyata magnetiknya rusak dan yang bikin shock, katanya spare partnya hampir sejuta! Argh!!! Itu karena partnya ambil dari toko, karena di Auto 2000 sedang kosong. Duh, dilema juga karena toko-toko sudah banyak yang tutup karena lebaran. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu hari Senin pagi saja dan ke bengkel AC yang bisa kasih harga yang lebih bersahabat.

Senin pagi segera kutuntaskan AC dan setelah mobil bisa dapat hawa dingin nan sejuk, aku segera kembali ke Denpasar dengan harapan bisa tiba sore hari. Perjalanan kembali ternyata tak berbeda jauh dengan perjalanan ke Surabaya sebelumnya, banyak sekali para bikers (mudikers yang pakai sepeda motor) berseliweran di jalan, membuatku harus lebih berkonsentrasi. But, yeah… shit always can happen anytime. Baru saja keluar dari Probolinggo (napa ya bermasalah terus di sono?), tahu-tahu mobil di depanku berhenti mendadak! Gosh! Injak sekuat tenaga sampai mentok ternyata tidak cukup menghentikan menghentikan laju mobilku. Brak! Kap mobil Avanza menghantam bagian bawah bak pick-up Mitsubishi di depanku dan tak lama disusul suara BRAK! dari belakang. Sepintas kulihat di spion, ada motor menabrak mobilku. Argh… mati dah. Semoga ga sampai ada korban jiwa, pikirku. Ga butuh waktu lama untuk bikin jalanan yang sudah kecil itu macet dan datanglah pak polisi yang gagah dan baik hati meminta kami ber-3 (pick-up, aku dan motor) ke pos polisi yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kejadian. Singkat cerita, muka manis bapak polisi ternyata punya tujuan tidak lain dan tidak bukan membuat kami makin lelah menunggu dan menunggu. Kemudian datanglah seorang bapak polisi yang ternyata bos di pos tersebut dan bla-bla-bla, ujung-ujungnya dia mengatakan bahwa kami semua harus pergi ke kantor polisi Probolinggo menghadap atasannya lagi dan bla-bla-bla. Kontak kami menolak dan bilang bahwa sejak awal kami tidak ada masalah satu sama lain dan kami memutuskan untuk tidak meneruskan masalah tabrakan sial tadi. Namun, si bapak polisi yang terhormat dan baik hati itu ternyata gigih dalam memperjuangkan “hukum” (yang ga jelas yang mana) dan mengatakan bahwa “seharusnya tadi tidak perlu memanggil dia dan selesaikan sendiri.” Lah? Siapa juga yang manggil dia kalo bukan anggotanya sendiri? Siapa juga yang nyuruh kami semua kumpul dan nunggu kalo bukan anggotanya? Setelah diberondong dengan “permohonan” selesaikan kasus di tempat dengan “musyawarah” barulah keluar “resep” agar kami tidak perlu pergi ke kantor polisi, yaitu dengan memberikan uang jaminan sebagai ganti kendaraan tidak ditahan, per mobil dikenakan 500 Ribu. Dieng! Itulah wajah pak polisi kita yang setia melindungi dan mengayomi masyarakat. Akhirnya karena masing-masing punya kesibukan dan hari pun makin gelap, akhirnya kami masing-masing menyerahkan uang 500 Ribu pada si bapak yang masih pasang tampang “ja-im” dan “shy-shy cat” langsung menutupi tumpukan uang di meja dengan kertas. Dasar!

Well… diperas atas nama hukum, apes banget! Padahal mobilku udah jelas parah rusaknya, masih aja diperas. Akhirnya kuteruskan perjalanan dan baru tiba di kost pukul 4 pagi! Ngeliat model aparat yang ga tau malu cuma bisa membuatku ngelus dada. Gimana negara ini mau maju kalo yang menyebut dirinya penegak hukum ternyata malah sengaja menyulitkan warga, bukannya menyelesaikan perkara secepat mungkin. Benar juga kalo ada istilah: “kalo bisa dipersulit, buat apa dipermudah?”

What can i say? Makan tuh duit pak, semoga ga bikin perut mules…

JN. Rony
20081008

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalink
Tags
Categories: Intermezo


 

Responses to this post » (None)

 
Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

Tags
Comment Meta:
RSS Feed for comments

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.