25 Sep 2001 @ 4:35 PM 

Siang itu seperti biasanya aku bekerja di pastoran untuk membuat warta paroki mingguan. Di tengah asyiknya yang disertai dengan agak terburu-buru karena waktu yang mepet, konsentrasiku sedikit terganggu oleh suara-suara dari anak-anak yang berlarian di halaman pastoran. Mulanya tidak begitu kuhiraukan karena aku harus menyelesaikan warta itu dalam waktu kurang dari 1 jam. Yang aku tahu ada beberapa anak SD sedang bermain di halaman bawah yang kelihatan dari jendela ruangan tempat aku menggerakkan mouseku.

Lama-kelamaan aku mendengar suara-suara itu semakin ramai saja. Dengan enggan kutengokkan kepalaku untuk melihat kegiatan mereka. Ternyata mereka yang tadinya beberapa, sekarang sudah semakin banyak, mungkin sekitar 20-30 anak. Tiba-tiba kuteringat masa kecilku, dimana aku pun bermain seperti mereka, berlari, berteriak, pokokya bermain sepuas hati. Kucoba melihat permainan apa yang sedang mereka lakukan, ternyata mereka sedang bermain sandiwara. Ya, bermain sandiwara memang cukup populer di kalangan anak-anak seusia SD, demikian pula aku dulu. Yang agak aku herankan, ternyata cukup banyak suara anak-anak laki yang turut serta dalam permainan itu. Lalu kudengar ada sekelompok anak-anak laki sedang merencanakan permainan mereka sendiri, jumlah mereka kurang lebih 10 orang anak. Mulanya aku berpikiran bahwa mereka akan melakukan permainan yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki, tapi alangkah kagetnya aku! Dari teriakan-teriakan mereka terdengar bahwa mereka sedang merencanakan permainan sandiwara kisah sengsara Yesus! Ouw… sungguh sebuah permainan yang tak lazim dimainkan oleh anak-anak. Diselingi dengan instruksi dari seorang anak, mereka memerankan peristiwa Yesus saat disiksa dan dimahkotai duri.

Sejenak aku terdiam dan berhenti dari pekerjaanku. Aku sungguh heran, di saat permainan anak-anak semakin canggih, ternyata masih ada anak-anak yang berusaha menghayati iman yang mereka bawa dalam permainan mereka. Di tengah maraknya playstation, game komputer, internet, film kartun, dan masih banyak hiburan yang menarik di mal-mal ternyata mereka masih ingat akan iman mereka. Mungkin kita pun bisa belajar dari anak-anak itu. Samar-samar seakan kumendengar Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

JN. Rony
20010925

yang ingin kembali jadi anak-anak

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Renungan

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.