27 Jan 2008 @ 4:30 PM 

Jendral itu telah pergi… Siang tadi, Jendral tua itu akhirnya menutup mata setelah cukup lama berjuang melawan sakitnya. 32 tahun berkuasa ternyata benar-benar membuat karisma dan wibawanya masih terasa hingga hari ini, walaupun 10 tahun sudah tak lagi merajai negeri ini. Aku teringat 12 tahun lalu saat sang ibu tiada, negeri ini seolah disulap menjadi negeri yang berduka, tak ada moment tanpa mengenang sang ibu… dan hari ini ingatan itu serasa di-rewind dalam pikiranku. Hampir semua stasiun TV berlomba menanyangkan kilas balik perjalanan sang Jendral tua. Banyak tokoh numpang nampang mengungkapkan kekagumannya pada sang Jendral tua dan untuk sesaat, lenyaplah segala kontroversi hukum yang sebelumnya terus-menerus menghantamnya.

Dari diskusiku dengan beberapa teman, berbagai respon kurasakan. Ada yang bersimpati atas sakitnya, ada pula yang bersorak dan menganggap sakitnya itu sebagai karma atas segala perbuatannya, dsb. Dari berbagai tayangan kilas balik perjalanan hidup sang Jendral, terkesan begitu banyak jasa-jasa yang telah diberikan oleh sang Jendral pada negeri ini. Well… saat sang Jendral berkuasa aku memang masih terlalu kecil untuk mengerti arah kepemimpinannya… yang kutahu adalah aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan sebagai keluarga keturunan Perancis, kata seorang teman… maksudnya Peranakan Cina Surabaya. Masa-masa aku bersekolah hingga lulus SMA adalah masa dimana aku harus merasakan hidup sebagai warga negara kelas 2, dimana lebih banyak aturan-aturan yang harus kami jalani tanpa bisa melawan. Istilah “cino singkek” begitu akrab di telingaku semenjak aku menginjak TK nol kecil. Well, namun aku tetap menjalani kehidupanku mengingat kami sudah terlatih menghadapi “propaganda” saat itu.

Semenjak sang Jendral lengser keprabon oleh paksaan reformasi, negeri ini toh tak kunjung selesai persoalannya, terlalu kronis kata beberapa pakar, sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Pemimpin telah berganti, namun tetap saja belum ada perubahan berarti, bahkan bagi mereka yang merasakan 6 jaman, ada yang berpendapat bahwa jaman kedualah yang terbaik mengingat saat itu mencari nafkah dirasa paling mudah dibandingkan saat ini. Namun tentunya sepak terjang sang Jendral pun meninggalkan luka mendalam bagi sebagian orang, entah yang berseberangan pendapat atau hanya sekedar orang yang berada di tempat dan waktu yang salah. Sekarang, Cinta dan Benci berbaur mengantarkan kepergian sang Jendral ke alam baka.

Hmmm… memang, sang Jendral adalah sosok karakter yang kuat dalam bersikap; namun sang Jendral pun manusia yang punya keterbatasan. Kulihat ada hal-hal positif yang telah diwujudkan sang Jendral bagi negeri ini; di sisi yang lain aku pun melihat ada hal-hal yang dihancurkan oleh sang Jendral. Dielukan dan dihujat, itulah akhir kepemimpinan sang Jendral. Bagiku, akhir hidup sang Jendral menyisakan rasa sedih, prihatin dan gembira dalam diriku. Sedih, karena negeri ini harus kehilangan seorang Jendral Besar yang karismanya begitu besar dan berjasa begitu besar bagi bangsa ini; Prihatin, karena sang Jendral harus mengalami tarik-ulur nyawa dengan sang malaikat maut, entah karena fisiknya yang kuat ataukah itu hukuman akibat dosa-dosa semasa hidupnya; dan Gembira karena sang Jendral Tirani itu akhirnya pergi juga, cukup sudah penderitaan yang telah ditimbulkannya pada negeri ini. Pada akhirnya, aku pun harus belajar untuk melepaskan kepergian sang Jendral dalam damai, berdoa semoga sang Jendral dapat beristirahat di alam baka sambil melihat secara jelas negeri ini dari atas sana. Manusia hidup dengan 2 sisi, baik dan buruk; aku mencoba untuk melihatnya pada sosok sang Jendral yang tentu tak sempurna. Aku hanya berharap semoga dengan kepergian sang Jendral dapat membawa negeri ini lebih baik di hari esok.

Betapa hatiku tak’kan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku tak’kan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini p’lipur lara nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh s’ribu
Tanah Air jaya sakti

Gugur bungaku di taman bakti, di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambah sari, Tanah Air jaya sakti

Selamat jalan Jendral! Requiescat in Pace!

JN. Rony
20080127
In Memoriam: HM. Soeharto

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo
 01 Jan 2008 @ 4:28 PM 

Tak terasa tahun 2007 telah berlalu dan tahun 2008 telah kumasuki. Kusadari telah lama aku tenggelam dalam kesibukan tanpa sempat merefleksi diriku. Di hari pertama di tahun yang baru ini, aku ingin melepaskan segala aktivitasku dan melihat sejenak ke belakang, apa yang sudah kujalani.

Sebagai seorang melankolis aku menilai diriku cukup banyak melalui masa-masa sedih di tahun 2007. Dentum-dentum suara kembang api yang terdengar dari dalam kamarku mengingatkanku pada malam tahun baru 2007 lalu… kuakhiri tahun 2006 dan kumasuki tahun 2007 dengan cukup sukacita. Yeah… mungkin karena di tahun 2007 aku kembali bisa mencintai seseorang. Well… walaupun toh akhirnya tidak bisa berjalan dengan mulus, namun aku mempelajari banyak hal dan lebih memacu diriku menjadi lebih baik.

Dalam pekerjaan, tak terasa pula aku akan memasuki tahun kelima aku mengabdi di perusahaan ini. Susah dan senang telah kulalui, namun tahun 2007-lah kurasakan sebagai tahun penuh air mata dan keringat. Baru saja kesenangan kulalui dengan kepergian ke Malaysia, aku harus mendapati kenyataan bahwa orang yang selama ini aku percayai dan kubimbing, melakukan kejahatan yang melibatkan sejumlah nasabah kami. Pikiranku seolah beku saat harus menangkap dan tanganku kelu kutahan untuk tidak melayangkan pukulan saat menginterogasi. Jujur, dalam hatiku sungguh marah dan ingin sekali melayangkan pukulan dan tendangan. 3 bulan lamanya aku harus berjuang sendirian dan menerima nada-nada sinis dari banyak pihak. Belum lagi sangsi moral yang harus kuterima hingga saat ini. Unfair? Maybe… itulah yang sejujurnya kurasakan…

Bencana seolah tak bosan mampir ke negeri ini. Gempa, banjir, gunung meletus, dan segala macam bencana bermunculan dan menunjukkan kekuatannya menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Apa yang salah di negeri ini? Itulah yang sering ditanyakan oleh banyak orang. Aku pun pernah bertanya demikian, walaupun tak mendapatkan jawabannya. Mungkin yang bisa kulakukan adalah berpasrah pada kehendak Yang Maha Kuasa. Kuyakin bahwa segala yang terjadi tak akan lepas dari rencanaNya.

Memasuki bulan September, sebuah berita yang mengejutkan kuterima. Seorang sahabat hendak menikah! Jujur, jantungku saat itu juga seolah berhenti sejenak dan pikiranku berusaha untuk mencerna berita yang seperti mimpi di siang bolong. Harus kuakui, ada kekecewaan yang timbul, tapi sebagai seorang sahabat aku mencoba memendam kekecewaan itu walaupun sangatlah berat. Seribu satu alasan mungkin bisa diperdebatkan tapi apalah gunanya? 500 km pun ketempuh dan senyum pun harus kupasang demi kebahagiaan seorang sahabat yang sudah memutuskan jalan hidupnya.

Kini, di dalam kesendirianku aku mencoba untuk merangkum semua peristiwa yang sudah kulalui, mengambil hikmahnya dan berusaha untuk menorehkan hal-hal yang baik dalam buku kehidupanku dan meninggalkan yang buruk di belakang bersama dengan berlalunya tahun 2007. Aku mencoba untuk bercermin dan bertanya pada diriku: Apa rencanaku untuk tahun 2008? Apa yang sanggup memotivasiku menjadi lebih baik? Apa yang harus kuperbaiki dari diriku? Seorang teman chatting menuliskan: No body’s perfect. Betul sich… Mungkin perasaan takut akan kegagalan dan tak sempurna itu yang selalu mengangguku dan meresahkanku setiap saat. Jadi, apakah yang membuatkan begitu sedih malam ini? Apakah kekecewaan akan pekerjaan? Cinta? Teman? Atau? Aku tak tahu… yang kutahu adalah saat ini aku merasakan kesepian yang teramat sangat. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mencoba untuk tetap tegar dan menyerahkan penyelenggaraan hidupku kepada Tuhan. Dia memiliki rencana atasku, biar Dia-lah pula yang menempaku. Seorang senior yang sering kupanggil dengan sebutan “Panglima” berkata padaku: pedang saat ditempa, tidaklah enak… namun itulah proses untuk menajamkan pedang tersebut dan membuatnya berguna. Dengan segala kegagalan yang kualami, diharapkan aku menjadi makin matang dan mampu meraih kesuksesan di masa depan.

Malam makin larut, suara bising knalpot sepeda motor mulai menghilang. Lagu Kisah Tak Sempurna milik Samson masih terus mengalun di MacBook yang kupakai. Aku masih termenung, berusaha untuk memutar kembali film kehidupanku yang terekam dalam ingatanku… Life so mysterious… itulah yang makin kusadari, seiring berjalannya waktu. Begitu banyak hal yang tak diduga bisa terjadi. Namun inila rahasia hidup yang membuat hidup kita lebih berarti. Selamat tinggal 2007, selamat datang 2008! Aku akan bertahan sampai kapanpun… sampai kapanpun!

To my sis: Happy New Year! Miss u so much… Really miss our moment at 2005 new year’s eve. Really miss our chit-chat and share the story of us.

To my bro: Happy New Year! Hope you really find your happiness. Maybe still hard for me, but no need to worry lah!

To Clod: Happy New Year! Thx, you help me a lot in this 2 years.

To all of my friends: Happy New Year! Thx guys n gals… tanpa kalian, mungkin aku tak bisa bertahan sejauh ini.

To all my spiritual teacher: Happy New Year! Terima kasih atas waktu yang senantiasa diberikan untuk mendengarkan segala keluh kesah dan dukungan doa yang tiada henti untukku.

And to all of you: Happy New Year! Hope this year will be better and brings more joy, more bless, more love in our life. I love you all!

Dalam kasihNya…

JN. Rony
20080101
Maafkan aku yang tak sempurna… – Samson

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.