26 Nov 2006 @ 4:00 PM 

Melanjutkan perjalananku mencari arti kehidupanku, dalam setiap kesempatan aku bertemu dengan orang-orang, baik yang telah lama kukenal maupun yang baru kukenal, aku mencoba untuk terus menggali sebuah misteri ilahi akan kehidupanku. Hidup itu aneh, fantastis, sekaligus penuh dengan misteri. Dalam beberapa kesempatan aku bertemu dengan teman-teman yang “terpaksa” hidup dan tinggal di kota-kota kecil hanya karena keadaanlah yang menuntut mereka untuk hidup di sana. Beberapa orang temanku adalah contoh orang yang lahir dan dibesarkan di kota besar yang akhirnya saat ini harus hidup dan tinggal di kota kecil, mereka harus meninggalkan segala fasilitas dan hingar-bingar yang dulu dengan mudah didapatkan, untuk menetap di kota yang jauh dari keramaian. Dalam perjalananku yang sekaligus mengunjungi mereka, walaupun aku merasakan kebosanan mereka akan rutinitas hidup di kota kecil yang miskin hiburan, aku dapat merasakan pengorbanan mereka akan tanggung jawab dan tugas yang harus mereka emban. Aku sungguh salut dan patut belajar dari mereka, teman-teman yang berusaha untuk tabah menjalani hidup mereka. Memang, kunci dari sebuah kesenangan adalah bagaimana kita mengolah sebuah situasi yang membosankan sekalipun menjadi menyenangkan. Inilah yang mungkin belum mampu kulakukan, sekalipun aku saat ini tinggal dan hidup di sebuah pulau yang termasuk salah satu destinasi favorit dunia.

Dalam sebuah kesempatan aku bersama dengan seorang teman, aku mencoba mengangkat kebosanan dengan bercerita tentang masa lalu. Kami bercerita tentang betapa senangnya saat-saat lalu, pergi makan bersama di warung emperan, menonton bersama, jalan-jalan, dsb. Saat yang menyenangkan ketika semuanya masih bujangan, semuanya berubah saat satu per satu dari kami ada yang menikah hingga saat ini sudah ada yang mempunyai beberapa orang anak. Intensitas pertemuan pun berkurang karena bagi yang berkeluarga tentu harus mengutamakan keluarganya. Aku pun banyak belajar dari teman-temanku yang berkeluarga itu, terutama menghadapi anak kecil, sebuah hal yang dulunya kuhindari namun mengingat “keponakan”-ku makin banyak, mau tak mau aku mulai terbiasa dengan kehadiran anak-anak di sekitarku.

Manusia akan berubah, itulah makna yang saat ini sedang kucoba untuk kucerna. Sebuah pemahaman yang dulunya kurasa telah kupahami, namun ternyata pemahamanku begitu dangkal sehingga pada saat itu tiba, aku sungguh tak siap menghadapi sebuah perubahan. Sebuah perubahan yang diiringi dengan tanggung jawab dan konsekuensi pasti akan dihadapi oleh setiap orang. Beberapa waktu lalu aku sempat menuliskan tentang menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Kusadari bahwa saat ini aku telah makin tua, namun aku mencoba untuk merefleksikan diri, apakah aku telah dewasa? Beberapa waktu lalu, telah kulakukan sebuah kebodohan terbesar sepanjang hidupku. Sebuah tindakan yang akhirnya merugikan diriku dan telah merenggut segala kebanggaan yang telah dengan susah payah kuraih di masa lalu serta menghancurkan mimpi-mimpiku di masa depan. Saat itu tiada lagi yang tersisa dalam diriku selain rasa malu yang teramat sangat. Lewat bantuan beberapa orang, aku mencoba untuk bangkit kembali dan lewat sakramen tobat aku memperoleh pengampunan atas kesalahanku itu. Namun, setiap tindakan tentu memiliki konsekuensi yang harus dihadapi, inilah yang belum sanggup kuhadapi. Takut? Mungkin itulah yang membuatku lebih memilih hidup dalam pelarian dan pengasingan daripada menghadapi sebuah perubahan.

Hmmm… entah apa rencana Tuhan atasku, lewat berbagai peristiwa aku seolah ditegur dan disadarkan agar lebih sering bersyukur atas apa yang telah kuperoleh saat ini. 3 tahun sudah, aku makin jauh dari hadirat-Nya, entah perbuatan nekat apa saja telah kulakukan sepanjang 3 tahun ini, semua tindakan yang hanya didasarkan atas intuisi dan emosi tanpa pemikiran yang matang, dan terutama tanpa berkonsultasi dengan Dia yang selama ini setia menjagaiku. Lewat perjalanan dan pencarian jati diri ini, mataku seolah dibukakan dari tidur yang lelap. Dalam kesendirian inilah kuperoleh hikmah atas segala peristiwa yang telah kulakukan, sebab dan akibat, itulah perubahan yang harus dihadapi.

Malam makin larut, hawa panas masih saja menghinggapi kota ini seiring enggannya hujan turun. Kucoba untuk menata kembali masa depanku. Dalam kesendirianku ini, kucoba menyiapkan diri menghadapi perubahan akibat dari sebuah konsekuensi. Aku sadar akan pengorbanan yang harus kulakukan nanti, berharap jika saatnya tiba aku telah siap. Sampai kapan pengasingan ini kujalani, aku tak tahu. Aku hanya terus berdoa agar Tuhan mau mengampuni aku dan melapangkan jalanku untuk kembali kepada-Nya. Seperti nasehat guruku, sekalipun bersalah mintalah pembelaan pada Tuhan, yakin bahwa Tuhan berbelas kasih dan mau membelaku. Hidupku tak lagi seperti yang dulu, itu adalah kenyataan dan itulah yang harus kuhadapi… Tubuhku makin basah oleh keringat, agaknya putaran kipas anginku tak sanggup melawan hawa panas… ditemani oleh suara tenor dan bass Il Divo, kututup malamku dengan sebuah permohonan maaf pada orang yang melahirkanku…

Mama, thank you for who I am
Thank you for all the things I’m not
Forgive me for the words unsaid
For the times I forgot

Mama remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I’ve changed along the way [along the way]

And I know you believed
And I know you had dreams
And I’m sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, yeah I miss you

Mama forgive the times you cried
Forgive me for not making right
All of the storms I may have caused
And I’ve been wrong, dry your eyes [dry your eyes]

Cause I know you believed
And I know you had dreams
And I’m sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, yeah I miss you

Mama I hope this makes you smile
I hope you’re happy with my life
At peace with every choice I made
How I’ve changed along the way [along the way]

Cause I know you believed in all of my dreams
And I owe it all to you, Mama

JN. Rony
20061126

thx to all of my real friends, mereka yang setia mendampingiku di saat suka dan duka…

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalink
Tags
Categories: Personal


 

Responses to this post » (None)

 
Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

Tags
Comment Meta:
RSS Feed for comments

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.