23 Jul 2006 @ 3:45 PM 

Mengenang masa lalu memang perlu kita lakukan untuk merefleksi diri kita dengan melihat perbedaan antara diri kita yang lama dengan yang saat ini. Dengan mengenang masa lalu tersebut kita bisa melihat apakah saat ini diri kita telah menjadi lebih baik atau malah mengalami kemunduran. Namun mengenang masa lalu jangan dijadikan agenda yang terlalu rutin karena bisa pula membuat kita terjebak masa waktu yang telah lewat dan tak lagi nyata.

Seminggu terakhir ini aku banyak menembus batas waktu untuk kembali ke masa lalu. Semua berawal dari kepasrahan diriku karena keputus-asaan dalam mencari kost. Kemauan boleh sekeras baja… namun tubuh itu lemah… dan akhirnya akupun harus kembali berpasrah pada jalan yang telah ditetapkanNya untukku. Aku mencoba menyelami perjalanan hidupku saat ini. Lagi-lagi dalam beberapa kesempatan aku mencoba untuk melihat ke belakang, tentang apa yang sudah kulakukan, apa yang kualami dan apa yang membuatku tetap bertahan selama ini.

Entah kebetulan atau memang itulah jalan yang harus kulalui… dalam seminggu terakhir aku bertemu dengan beberapa teman lama. Teman-teman yang pernah mengisi hari-hariku di masa lampau. Pertemuan kembali itu baik hanya sekedar via friendster, email, chatting, atau malah bertemu muka karena teman tersebut sedang berkunjung ke Bali atau aku yang sedang ke Jakarta. Rasa kangen dan senang, semua bercampur menjadi satu, karena beberapa di antaranya adalah teman yang sudah lebih dari 10 tahun tak berjumpa.

Bertukar cerita, mungkin akan sangat memboroskan waktu mengingat lamanya tak bertemu. Namun semuanya itu bisa mengobati hati-hati yang rindu maupun jiwa-jiwa yang lelah. Lewat cerita-cerita masa lalu itu pula, aku bisa melihat kembali diriku di masa kecil, remaja, hingga dewasa. Memang, beberapa bagian dari diriku berubah sangat drastis… namun ada sebagian dariku yang ternyata belum bisa berubah.

Waktu telah membentuk aku hingga sekeras saat ini, bahkan terlalu keras. Beberapa orang yang mengenal aku secara dekat mengatakan aku terlalu keras pada idealisme atau prinsip yang kupegang. Mungkin ada benarnya, namun aku sungguh tak kuasa untuk melanggar keyakinanku dalam hidup, walaupun aku sungguh berusaha lebih memahami dan memaklumi bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan lewat cermin-cermin masa lalu yang telah dibawakan padaku melalui orang-orang yang pernah mengisi hari-hariku di masa lalu, aku senantiasa disadarkan bahwa aku sungguh beruntung!

Hmmm… seketika segala harapan, cinta, dan imanku kembali dikuatkan dan disegarkan kembali… Memang, tubuhku saat ini masih tetap lemah… namun aku yakin selama harapan, cinta, dan iman masih melekat dalam diriku… aku akan tetap bisa bertahan…

Bila masih mungkin kita menorehkan batin
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi
Ho ho ho du du du
Du du du ho ho ho

Kita masih ingat tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang terpilih menghadap
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasihNya, hanya atas kehendakNya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatannya

Sampai kapankah gerangan?
Waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng, semuanya terdiam
Semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu

by Ebiet G. Ade (Masih Ada Waktu)

Dalam keheningan malam,

JN. Rony
20060723

akankah cintaku bersemi kembali?

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal
 11 Jul 2006 @ 3:43 PM 

Aku masih tak percaya akan konfirmasi berita yang baru kuterima. Siang tadi aku mengkonfirmasikan kabar burung tentang seorang romo yang kukenal dekat. Ya, kasus klasik terulang… si romo sudah menikah dan melepaskan jubah pastornya. Sedih, tak ada ungkapan yang bisa mengungkapkannya. Berulang-ulang aku mengkonfirmasikan pada orang-orang yang aku tahu kenal dekat pula dengan romo tersebut dan semuanya membenarkan. Bahkan sampai aku bertanya pada pimpinan kongregasinya pun jawaban yang kuterima masih sama. Namun, aku masih tak percaya!

Aku mengenal sosok gembala yang satu ini sejak tahun 2000. Masa itu adalah masa-masa dimana aku mengalami perang batin dan harus hidup sendiri di luar lingkungan rumah. Romo ini bisa dibilang sangat-sangat banyak membantu aku saat itu. Mulai dari mendamaikan aku dengan diriku sendiri, hingga aku bisa bekerja sendiri. Cukup sering aku dilibatkan dalam kesehariannya di dalam pastoran, hingga saat dia dipindah pun aku turut diboyong ke tempat tugas yang baru. Sampai saat aku harus pindah ke Bali pun, dalam suatu waktu aku masih menyempatkan diri untuk pulang bila dia membutuhkan bantuan pada komputernya. Hingga tak lama kemudian, tahun lalu dia diberangkatkan ke luar negeri untuk studi.

Bulan lalu, aku mendapat kabar burung tentang romo ini; namun saat itu aku menolak dengan tegas berita tersebut. Aku yakin bahwa romoku bukanlah manusia yang selemah itu dalam menghadapi cobaan. Apalagi baru beberapa minggu sebelumnya aku masih berbicara di telepon tentang kepulangannya ke Indonesia dan ingin singgah di Bali. Barulah tadi entah ada firasat apa aku mencari tahu lebih dalam tentangnya pada sesama romo kongregasinya. Hmmm… sampai detik ini aku masih tidak percaya…

Yeah… romo memang juga manusia. Seorang romo memang bukan Tuhan. Namun, bagiku seorang romo adalah utusan Tuhan, wakil Tuhan di dunia ini. Seorang romo bisa menjadi panutan seorang anak yang mendambakan dirinya bisa jadi seorang romo kelak. Seorang romo bisa pula menjadi tumpuan mengaduh seseorang apabila dirundung masalah. Namun, seorang romo bisa pula terlena akan sosok yang kerap mencurahkan hatinya. Memang, begitu banyak godaan di sekitar seorang romo. Ibarat benih yang ditebar begitu banyak, namun hanya sedikit yang bisa bertumbuh dan dipilih.

Tak terasa 6 tahun sudah aku mengenal sosok romo yang funky ini. Sosoknya yang ceplas-ceplos membuatku merasa akrab dan nyaman saat bertukar pikiran dengannya. Namun, sekarang semua itu tinggal menjadi kenangan. Entah sekarang dia dimana, tak ada yang tahu. Entah kapan bisa bertemu dengannya lagi, aku pun tak tahu. Reaksi apa kalau nanti bertemu, aku juga tak tahu… Semua itu masih jadi teka-teki di antara aku dan beberapa teman semasa PD dulu. Dan bagi kami, kasus si romo juga masihlah misteri yang belum bisa kami percayai. Namun, apapun faktanya nanti, bagiku dia tetaplah romo bagiku…

Untuk itulah aku berdoa bagi semua selibater… agar mereka mampu bertahan dalam cobaan panggilan hidup mereka… Amin.

JN. Rony
20060711

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo
 

Pindah

 
 10 Jul 2006 @ 3:41 PM 

Malam ini lagi-lagi aku harus mengemasi barang-barangku. Yeap, lagi-lagi aku pindah ke kost yang baru. Tak terasa 2 tahun sudah aku menempati pulau yang terkenal dengan bisnis pariwisatanya. Selama itu pula aku berpindah-pindah tempat tinggal dan ini adalah tempat ke-4 aku yang akan kuhuni. Mencari kost yang nyaman untuk ditempati di Bali memang susah-susah-gampang. Awal mula aku memasuki Bali, telah kurasakan betapa susahnya saat itu mendapatkan kost, sebab saat itu rata-rata kost yang kutemukan hanyalah berupa kamar kosong tanpa perabot. Inilah yang menjadi ciri khas kost-kostan di Bali dan jadilah aku kost tapi serasa kontrak, karena harus melengkapi kamar dengan berbagai kebutuhan pokok. Dalam perjalanan waktu, aku sempat cukup lama menempati 1 rumah kost, namun akhirnya aku pun harus pindah karena makin lama tempat itu makin jorok dan lingkungannya pun makin tak nyaman lagi untuk kutinggali.

Pencarianku selama 6 bulan lebih akhirnya tertambat pada 1 tempat kost yang masih baru dan mungkin bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama. Bagaimana tidak, lahan tempat kost ini sangat luas dan masing-masing kamar dilengkapi dengan AC dan garasi pribadi. Selain itu penataan kamar dalam bentuk rumah-rumah kecil serta kebun di masing-masing rumah terasa apik. Ditambah lagi, lingkungannya yang agak jauh dari keramaian, bahkan kamarku bertetanggaan dengan sawah yang cukup luas, membuat suasana sekitar cukup hening dan enak dijadikan tempat beristirahat. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun memutuskan menempati kamar kost ini, apalagi harga sewa per bulannya tidaklah terlalu mahal, jika dibandingkan dengan fasilitas yang diberikan. Namun, ternyata masalah di kamar kost ini mulai kelihatan, yaitu luas kamar yang lebih kecil dibandingkan kamar lama, sehingga awalnya aku cukup mengalami kesulitan mengatur barang-barangku yang terlanjur banyak. Ditambah lagi, ada beberapa hal yang terlupakan oleh pemilik kost, seperti bagian belakang kamar tempat menjemur yang tak beratap dan tidak ada tempat mencuci piring. Masalah yang paling menganggu adalah bak kamar mandi yang bocor! Karena terlanjur pindah, maka kuniati untuk merenovasi sedikit kamar kost ini dan hasilnya ada yang terselesaikan, namun ada juga yang tidak bisa diperbaiki, salah satunya adalah bak kamar mandi yang bocor itu.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi ternyata keadaan makin parah. Bocor ini membawa masalah pada lantai kamar. Jadilah sekujur tubuhku selalu sakit bila bangun tidur. Lantai kamar selalu terasa dingin dan semut-semut di tembok serta tanah melakukan exodus, mungkin karena liangnya kebanjiran air dari kamar mandiku. Mengingat pemilik kost tidak memberikan respon berarti saat kukomplain perihal kondisi kamar, akhirnya kuputuskan kembali mencari kost baru. Satu bulan aku mencari kost baru, tapi lagi-lagi tidak ada yang cocok, entah karena kondisi kamarnya yang tidak bagus atau harganya yang terlalu mahal. Akhirnya karena sudah tak tahan lagi dengan kondisi kamar yang super duper dingin, kuputuskan mengambil 1 kamar kost yang paling lumayan di antara yang ada. Kemarin aku sudah membersihkan dan memindahkan sedikit barangku ke kamar baru. Malam ini hampir 1/2 kamarku kupindahkan ke dalam mobil. Kurasa 2 kali pindahan lagi maka barang-barangku pindah semua. Memang sekarang ini untuk pindahan butuh 4 kali pindahan, beda dengan awal mula di Bali yang cukup dengan 2 kali pindahan.

Well, masalahku belum selesai sampai di sini, karena sampai sekarang pun aku tidak merasa nyaman dengan kondisi kost yang baru. Apalagi belakangan aku baru tahu, pemilik kost ini entah terlalu kaku atau kasarnya bodoh, tidak mengijinkan penghuni memasang gembok pengaman di pintu kamar. Bagaimana aku bisa tenang, jika hanya mengandalkan kunci kamar yang tentunya pemegang kuncinya bukan hanya aku, sedangkan di dalam kamarku terdapat cukup banyak barang berharga? Selain itu tidak ada tempat untuk memasang antena TV. Konyolnya, penghuni tidak diperkenankan memasang sesuatu di depan bangunan, karena dianggap akan membuat jelek bangunan, hanya boleh memasang di samping atau belakang bangunan, padahal jelas-jelas arah antena TV harus menghadap ke depan bangunan dan di samping maupun di belakang tidak terdapat bagian yang bisa ditempeli antena luar. Sialnya lagi, kemarin kutemukan pula bahwa bak kamar mandi juga bocor! Namun, karena di kamar ini dilengkapi dengan ranjang, meja, lemari, kursi; kuputuskan untuk menempati sementara sambil kembali mencari kamar kost lainnya. Sedih… Belum pindah sudah harus menyiapkan kepindahan berikutnya.

Hmmm… inilah dilema yang kuhadapi saat ini. Harus mencari tempat tinggal yang nyaman, namun dengan bujet terbatas. Inilah pencarianku selama hampir 1 tahun terakhir. Entah kenapa aku jadi teringat akan komentar yang selalu diberikan oleh seorang uskup yang kukenal bila menanggapi tulisanku, yaitu bahwa aku sedang dalam sebuah pengembaraan hidup. Memang benar, inilah pengembaraanku, perjuanganku, dan pencarianku. Entah sampai kapan aku harus tinggal di Bali, aku pun tak tahu. Saat ini aku hanya mencoba untuk berpasrah pada rencana yang sudah digariskan untukku. Aku hanya bisa berdoa… dan berharap…

Dalam kesunyian malam,

JN. Rony
20060710

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.