01 Apr 2007 @ 4:18 PM 

Pekan Suci sudah dimulai, diawali dengan perayaan Minggu Palma. Sorak sorai yang terasa “dipaksakan” sambil melambai-lambaikan daun palma serasa tak sabar ingin masuk ke dalam gereja. Maklum, saat itu matahari sedang terik-teriknya memancarkan keagungannya yang panas menyengat. Orang-orang yang berdiri di lapangan di luar gereja berusaha untuk melindungi dirinya dari panas dengan berbagai cara, ada yang jongkok dan berharap berlindung di bawah bayangan orang di depannya, ada yang menutupi kepalanya dengan sapu tangan, ada yang menutupi mukanya dengan segenggam daun palem yang dibawanya, ada pula yang berdiri di pojok-pojok halaman gereja yang ternaungi oleh atap atau pohon. Saat itu, prosesi awal perayaan Minggu Palma serasa menyiksa dan kelamaan. Kotbah sang pastor terasa menambah beban sengatan matahari di kulit. Saat sang pastor mulai berjalan memercikan air suci untuk memberkati daun palem yang dibawa, seketika semua yang berdiri di pojok-pojok halaman gereja berkumpul dan melambaikan daun palemnya. Usai sang pastor melewati dan memercikan air berkat, maka orang-orang tadi kembali lagi berlindung di tempat yang teduh. Pintu gereja pun dibuka… sang pastor dan para petugas liturgi segera memasuki gedung gereja… seketika halaman gereja berubah menjadi pasar. Orang-orang bergerombol saling berebut memasuki gedung gereja yang dingin dan sejuk. Tidak tampak suasana tertib dan khidmat layaknya orang memasuki tempat ibadah. Memang, saat itu bisa dikatakan sebagai saat-saat yang menentukan… bisa dapat tempat duduk atau tidak! Memang, kapasitas tempat duduk di dalam gedung gereja tidak sanggup menampung semua umat yang hadir saat itu. Ditambah lagi tidak adanya pengaturan dari pihak panitia misa Pekan Suci.

Itulah sekelumit keluh-kesah yang timbul saat aku mengikuti misa Minggu Palma di sebuah gereja di Bali. Baru kali ini aku mengikuti misa Pekan Suci di Bali, sebelumnya aku selalu pulang dan mengikuti Pekan Suci di Surabaya. Sedih bercampur jengkel timbul ketika aku melihat betapa kacaunya sebuah perayaan kudus yang seharusnya berlangsung dengan khidmat berubah layaknya pasar. Kejengkelan itu dimulai ketika memasuki halaman gereja, aku yang notabene tidak mempunyai tanaman palem, mau tak mau harus menggantungkan diri pada palem yang disediakan oleh gereja, entah itu gratis ataupun dengan menyumbang. Yang terjadi adalah orang-orang berebut palem di halaman depan gereja, dan seperti biasanya tentu yang diperebutkan adalah pucuk-pucuk palem yang bagus agar terlihat indah saat dipasangkan di salib di rumah. Aku pun terpaksa ikut berdesakan dalam memilih daun-daun palem yang tersisa di meja dan beruntung aku mendapatkan beberapa pucuk palem walaupun kondisinya kurnag bagus (karena daunnya kelihatannya berpenyakit/berjamur). Namun satu hal yang membuatku jengkel adalah ternyata cukup banyak orang-orang berebut daun palem itu hanya sebagai pelengkap misa, tanpa membawanya pulang alias sehabis misa daun palem itu dibuang begitu saja di dalam gereja! Padahal cukup banyak daun-daun palem itu adalah pucuk-pucuk palem yang bagus, selain itu kebiasaan membuang sampah di dalam gereja itu sungguh-sungguh sebuah perbuatan yang tidak menghargai gereja sebagai tempat yang suci. Tak cukup itu, banyak orang yang berebut masuk ke dalam gereja hanya untuk memperoleh duduk, padahal sepanjang misa mereka malah sibuk dengan memberi anaknya makan, dsb. Sebuah pemandangan yang menyedihkan, menurutku.

Yerusalem, Yerusalem… lihatlah Rajamu! Hosana, terpujilah… Kristus Raja Maha Jaya! Itulah lagu yang membangkitkan semangat perayaan Minggu Palma, yang mengulang sorak-sorai para murid menyambut Yesus memasuki gerbang Yerusalem. Aku jadi berpikir: “Hei! Mengapa aku harus jengkel? Mengapa aku harus marah? Untuk apa sebenarnya aku datang dan mengikuti misa ini?” Saat itu aku jadi malu pada diriku sendiri, mengapa aku memusingkan orang lain? Bukankah aku datang ke misa ini untuk menghadap Tuhan? Injil hari ini memberikan gambaran bagaimana Yesus diadili secara tidak adil kemudian disalibkan hingga wafat. Padahal sebelumnya jelas-jelas Yesus disambut bagaikan seorang Raja yang memasuki kota. Aku pun menyadarkan diriku bahwa aku mungkin termasuk orang-orang yang saat sama dengan mereka yang menyambut sekaligus menyalibkan Yesus.

Paskah tak lama lagi, lewat serangkaian peristiwa perjalanan Yesus menuju kayu salib kita diajak merenungkan arti keberadaan di kita di dunia, merenungkan dan merefleksikan seluruh perjalanan hidup kita. Sebagai manusia, kita pasti akan sering terjatuh dalam dosa dan kesalahan, namun hakekat yang terpenting bagi seorang manusia adalah keinginan untuk bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Lewat puasa dan pantang sebenarnya kita diajak untuk merasakan sedikit dari penderitaan Yesus, di samping agar kita lebih bisa mengendalikan diri kita terhadap hawa nafsu, amarah dan keinginan untuk berbuat jahat. Dengan menyadari dosa dan mau bertobat, menandakan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib tidaklah sia-sia. Itulah yang diharapkan oleh seorang Anak Manusia yang rela mengorbankan nyawaNya demi orang-orang yang dicintaiNya. Kini pilihannya kembali pada kita, apakah kita mau menghayati makna Paskah dengan sebuah pertobatan ataukah hanya sekedar rutinitas tanpa arti?

Yerusalem, Yerusalem… lihatlah Rajamu! Hosana, terpujilah… Kristus Raja Maha Mulia!

JN.Rony
20070401

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalink
Tags
Categories: Personal


 

Responses to this post » (None)

 
Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

Tags
Comment Meta:
RSS Feed for comments

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.