20 Oct 2004 @ 6:20 PM 

Beberapa hari terakhir ini aku cukup direpotkan oleh semut-semut kecil yang berkeliaran di dalam kamarku… Awal mula aku menempati kamar ini, boleh dibilang bebas dari berbagai macam serangga, namun mungkin karena barang-barang sudah ditempatkan pada posisi masing-masing, lalu juga adanya persediaan makanan di kamar, membuat pasukan semut mulai bergerilya mencari ransum untuk gudang mereka. Herannya, sampai hari ini aku belum bisa menemukan jalur perjalanan semut-semut tersebut, jadi keberadaan mereka mau tak mau masih terus ada.

Awalnya aku betah saja membunuh satu per satu semut-semut yang terlihat, kadang kala kalau di tembok terlihat barisan semut, kusemprot dengan HIT (kalau ga ada yang lebih bagus dari hit, buat apa pilih yang lain?), namun lama-kelamaan aku gerah juga karena sudah berhari-hari semut-semut itu selalu hadir seolah tak pernah habis dan jera melihat teman-teman pendahulunya kubasmi dengan kejamnya.

Di saat senggang, kadang aku memikirkan perilaku semut-semut tersebut… dan mau tak mau aku harus salut dan angkat topi untuk mereka. Kenapa begitu? Sebab mereka begitu gigihnya dalam mencari ransum, serasa teringat akan moto para pejuang kemerdekaan dulu… mati satu tumbuh seribu atau maju terus pantang mundur, dsb. Para semut-semut kecil ini tetap nekat kembali ke tempat yang sama atau bahkan mengejar makanan yang kupindahkan tempatnya. Tujuan mereka serasa satu… bergotong-royong dan bahu-membahu mendapatkan target mereka, yaitu makanan! Apa yang dilakukan semut-semut itu sedikit banyak bisa kita terapkan dalam keseharian kita, terutama dalam lingkungan pekerjaan.

Ada seorang kawan yang menuturkan kisahnya padaku, sebut saja Joni. Si Joni ini bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang cukup sukses dan memiliki jaringan di seluruh Indonesia. Posisi yang dimiliki oleh Joni adalah sebagai salah satu pimpinan cabang yang bisa dibilang sukses pula. Awal mula Joni bekerja di perusahaan ini, semuanya terasa bersahabat dan indah, apalagi saat itu Joni mendapatkan banyak support dari sesama rekan kerjanya. Seperti semut-semut tadi, Joni dan seluruh team bekerja sama dengan satu tekat membesarkan perusahaan tempat mereka bekerja. Satu waktu, perusaahaan mereka membukukan hasil yang melampaui target dan hal ini disambut gembira oleh ratusan karyawannya. Saat itu mulailah ada perbaikan nasib di antara para karyawan, mulai gaji, bonus, tunjangan, fasilitas, dsb. Sayangnya, keberhasilan ini membuat beberapa orang jadi lupa daratan, mengingat seolah-olah mereka mendapatkan durian runtuh dalam jumlah yang besar, sehingga bisa dipakai berjualan durian. Mulailah terjadi saling sikut-menyikut, saling menuduh, saling menjatuhkan dan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Joni adalah salah satu korban dari persaingan tidak sehat tersebut. Dalam hati, Joni sangat kecewa dengan kondisi tersebut dan memutuskan mundur dari perusahaan tersebut. Tak lama berselang, perusahaan Joni ini dituntut pailit karena ditemukan terjadinya korupsi besar-besaran di dalam perusahaan oleh orang-orang yang tamak dan buta karena kesuksesan sesaat yang mereka capai. Menurut Joni, mereka lupa saat-saat mereka saling bahu-membahu membangun perusahaan dengan susah-payah, hanya karena uang, jabatan dan fasilitas yang mereka dapat lebih dari yang biasanya mereka terima akibat sukses tersebut. Beruntunglah Joni sudah memutuskan untuk keluar sebelum terkena kasus.

Kisah Joni tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi apabila mereka yang ada di perusahaan tersebut mau mencontoh kerja para semut kecil. Banyak orang mengatakan bahwa semut adalah pekerja yang tak kenal lelah. Koloni semut seakan-akan bekerja sepanjang waktu. Sekalipun mereka mendapatkan “jarahan” dalam jumlah besar di rumah kita, mungkin saat kita bepergian cukup lama dan membiarkan makanan dalam keadaan terbuka, atau mungkin kita ceroboh dalam menyimpan bahan makanan, dsb.; namun para semut-semut tersebut tetap akan mencari dan mencari sumber makanan yang bisa mereka ambil. Target lebih yang mereka peroleh bukan mengartikan bahwa mereka boleh berhenti bekerja. Semut juga patut diacungi jempol untuk kerjasamanya. Walaupun mereka kecil, namun mereka bisa mengangkut barang-barang yang ukurannya beberapa kali lipat dari tubuh mereka. Mereka saling bahu-membahu dalam setiap pekerjaan. Inilah yang sering dilupakan orang… saat susah, orang cenderung untuk saling berbagi… namun saat sukses, orang akan berusaha berebut kesuksesan tersebut.

Aku sangat suka dengan buku berjudul “Who Moved My Cheese?” yang bertutur tentang 3 ekor tikus dalam perjalanan mereka mencari keju dalam sebuah labirin. Saat ketiga tikus tersebut menemukan ransum keju dalam jumlah besar, mereka berpesta pora dan menikmati hidup mereka dengan keju-keju tersebut. Setiap hari mereka menuju ke tempat yang sama dan menghabiskan keju-keju yang ada di sana. Saat persediaan keju mulai menipis, mulailah terjadi perpecahan di antara mereka: tikus pertama yang sudah dimabuk oleh kesuksesan tidak percaya bahwa keju telah habis dan selalu berharap apa yang menimpa mereka ini hanyalah mimpi. Setiap hari tikus pertama selalu kembali ke tempat tersebut sambil berharap bahwa keju-keju yang kemarin hilang tersebut sudah dikembalikan lagi ke tempat semula dan setiap hari yang diperoleh oleh tikus pertama hanyalah rasa kecewa. Tikus kedua memutuskan untuk mencari “gudang” keju yang baru, namun yang dia peroleh hanyalah sisa-sia keju busuk yang sudah ditinggalkan oleh penghuni lama. Mengetahui hal ini, tikus kedua mulai menyesali dirinya dan terpuruk dalam kesedihan mendalam. Sedangkan tikus ketiga, semenjak ransum mereka hampir menipis, dia sudah mengajak teman-temannya untuk mencari “gudang” baru sekedar berhaga-jaga bila ransum keju mereka habis, namun idenya selalu ditolak oleh kedua temannya dengan alasan mereka masih bisa makan kenyang di tempat itu. Akhirnya tikus ketiga pun sudah mulai mencari jalan baru dalam labirin yang membingungkan tersebut dengan menyisihkan waktunya. Setiap pagi, tikus ketiga ikut bersama kedua temannya untuk makan keju, namun siang hari tikus ketiga meninggalkan mereka untuk mencari persediaan keju baru. Saat keju telah habis, tikus ketiga sudah mendapatkan “gudang” baru untuk dirinya.

Analogi ketiga tikus yang mencari keju ini cukup bisa menggambarkan sikap kita dalam pekerjaan. Tikus pertama menggambarkan orang yang silau karena kemapaman yang diterima sehingga saat masalah datang, dia tidak bisa menerima dan menganggap kesuksesan telah direnggut darinya. Atau mungkin seperti kasus si Joni di atas, orang yang silau karena kesuksesan sesaat sehingga lupa akan masa-masa berat yang telah mereka lalui. Tikus kedua menggambarkan orang yang mau mencari sumber baru saat kesuksesannya pudar, namun saatnya sudah terlambat. Orang ini tidak mau berjaga-jaga sejak awal, namun lebih memilih bersantai menikmati kesuksesannya dan saat semuanya sudah hilang, orang ini sudah kehilangan sumber lain karena kalah cepat dengan orang lain. Tikus ketiga menggambarkan orang yang dalam pekerjaannya selalu waspada dan mawas diri. Dia tidak mudah terbuai oleh kesuksesan yang berhasil diraih sekalipun itu sukses besar. Oleh karena itu, sekalipun sudah berhasil meraih targetnya, dia tetap berusaha untuk mencari target baru dalam pekerjaannya. Analogi tikus ketiga ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh koloni semut.

Pikiranku kembali termenung saat menunggu jam pulang kantor ini… aku mencoba untuk menilai diriku, termasuk tikus yang manakah aku?

Cheeseee!!!

JN. Rony
20041020

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Renungan
 16 Oct 2004 @ 6:17 PM 

Tak terasa sudah 3,5 bulan kumendiami kota Denpasar ini. Selama itu pula aku banyak mendapatkan pengalaman baru. Malam ini aku kembali mencoba untuk merefleksikan diriku di tengah keheningan malam di balkon kamar kostku ditemani oleh seekor nyamuk beserta teman-temannya.

Bulan pertama aku memasuki Bali adalah bulan dimana kondisiku sangat tertekan. Saat itu aku sedang diliputi oleh banyak sekali masalah. Mungkin saat itu badanku sedang sangat capek, mengingat himpitan pekerjaan dan persiapan pindahan saat itu benar-benar mendesak. Bila kupikir kembali ke belakang, keputusanku untuk menerima posisi di Bali adalah sebuah keputusan yang tergesa-gesa dan kurang matang. Entah apa yang saat itu kupikirkan, yang jelas saat keputusan itu kuumumkan, begitu banyak yang kurang setuju atau kaget dengan keputusanku. Itu sebabnya saat itu emosiku sungguh tak terkontrol, hampir setiap hari kepalaku pusing karena marah. Begitulah kujalani hari-hariku dengan arah yang tak pasti. Apalagi saat itu aku bisa dikatakan seorang diri tanpa relasi ataupun teman.

Saat awal kutiba di kota yang baru ini, yang terpikir olehku adalah mencari gereja dimana aku bisa ikut misa. Setidaknya menurutku itu bisa sedikit menghibur aku yang tanpa kenalan. Akhirnya aku pun menemukan 1 gereja yang dekat dengan kost tempat kutinggal dan aku mulai mencoba misa di sana. Namun, yang terjadi adalah kebosanan yang teramat-sangat, suatu hal yang tidak pernah kurasakan dalam 5 tahun terakhir. Sampai akhirnya kuputuskan untuk misa di gereja yang lain saja.

Seiring dengan waktu, aku berusaha untuk selalu merefleksi diriku kembali. Lewat dukungan dari beberapa romo pembimbingku dan juga beberapa teman akrabku, aku selalu berusaha bertukar pendapat dan pengalaman baik via telepon maupun email. Selain itu aku berusaha untuk memahami budaya dan kebiasaan lingkungan di sekitarku ini. Dari sana aku melihat begitu banyak hal-hal yang unik dan menarik tentang kehidupan di Bali, yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh kita yang hanya pernah ke Bali untuk keperluan berlibur saja.

Memasuki bulan ketiga, aktivitasku mulai lancar, seiring dengan pindahnya kost dan kantorku ke tempat yang baru. Saat-saat inilah yang kupakai untuk berdamai dengan keadaan. Memang kadang-kadang aku masih menyimpan kemarahan, namun aku berusaha untuk mengolahnya dan menahan emosi semampuku. Dan Puji Tuhan… sebagian besar aku berhasil mengalahkan diriku dan tidak sampai emosi yang berlebihan. Bahkan aku pun mencoba untuk berdamai dengan cinta… berdamai dengan masa lalu… berdamai dengan diriku sendiri…

Dalam pekerjaan di kantor pun demikian, aku banyak mengalami kesulitan mengingat tidak adanya kenalan di kota ini. Saat awal kumulai tugasku di sini, bagaikan 1,5 tahun lalu saat aku pertama kali bekerja di perusahaan ini. Namun, aku selalu mencoba untuk optimis dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dan memang, lewat banyak kejadian… campur tangan Tuhan banyak bekerja di dalam pekerjaanku hari demi hari. Walaupun saat ini target yang harus kucapai masihlah jauh, namun hasil yang kuperoleh cukup membuktikan bahwa kuasa Tuhan ikut bekerja.

Dalam pertemanan, awalnya aku cukup kesulitan menemukan teman di sini. Hal ini dikarenakan kost pertamaku lebih banyak dihuni oleh keluarga dan teman lama yang kutahu semuanya sudah tidak lagi berada di Bali. Namun, secara perlahan aku banyak dikejutkan oleh pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja dengan teman lama, baik teman SMA maupun teman kuliah. Ditambah lagi perkenalan dengan beberapa teman sesama perantauan dari tempat kost yang baru. Dari sanalah aku melihat bahwa Tuhan tetap setia menjagaku.

Aku teringat akan perjalananku ke kota Negara 2 minggu yang lalu, dimana aku benar-benar merasakan penjagaan Tuhan atasku. Selama perjalanan, aku menyetir mobilku dengan kondisi yang terus mengantuk, padahal sebelum berangkat aku sudah beristirahat cukup. Aku sungguh bersyukur bisa sampai dengan selamat. Saat pulang, aku mengalami kejadian yang cukup mengagetkan… karena rasa kantuk yang semakin menjadi, aku melanggar rambu dan dengan cepat aku tersadar dan segera kembali, namun saat itu ternyata aku sudah “ditunggu” oleh seorang polisi. Singkat cerita, urusan “kesalahan tak disengaja” ini diselesaikan dengan “uang damai”. Tak lama kemudian, aku kembali dikejutkan oleh sepeda motor yang menyalip dari sebelah kiri di jalan yang berbelok dan aku merasakan bahwa badan mobilku bersenggolan dengan kedua pengendara motor yang tak berhelm tersebut. Saat itu aku melihat bahwa motor itu mulai oleng, namun untunglah si pengemudi cukup cekatan sehingga mereka tidak sampai jatuh dan dengan rasa tak bersalah mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan gaya zig-zag mereka. Memang di Bali, banyak kecelakaan disebabkan oleh sepeda motor yang bisa dibilang “ugal-ugalan” di jalan. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bila sampai terjadi kecelakaan, mengingat sudah ada banyak kasus (di antaranya dialami oleh adik dari teman kostku) yang merupakan kesalahan dari pengendara motor, namun yang di-vonis adalah pemilik mobil. Bahkan ada kasus bis yang sampai dibakar di daerah tersebut.

Malam semakin larut… dan nyamuk pun semakin banyak… tapi aku masih tetap ingin bersyukur atas penjagaan Tuhan hingga saat ini. Masih begitu banyak kesulitan yang akan kuhadapi di depan mata, namun aku percaya dan mencoba untuk selalu berserah pada Tuhan. Aku juga mencoba untuk selalu mengambil hikmah dalam setiap peristiwa hidupku. Aku tahu bahwa masih banyak ketidakpuasanku saat ini, namun aku mencoba untuk mengolahnya dan menjadikannya sebagai suatu berkat. Aku percaya bahwa dalam setiap kesulitanku, Tuhan selalu menjagaku… terutama kedua santo pelindungku yang senantiasa menjagai aku. Dalam setiap doaku pula, aku selalu berdoa pada Santo Ignatius dari Loyola, sosok manusia yang penuh perjuangan dan tak kenal menyerah yang akhirnya mampu menyerahkan dirinya secara utuh pada penyelenggaraan Tuhan. Aku sungguh ingin belajar dari kegigihan Ignatio di kota ini… dan aku percaya bahwa di dalam kemarahanku sekalipun, di sana pun selalu ada berkat yang melimpah…

Selamat malam Indonesia!

JN. Rony
20041016

dari yang terbuang…

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Personal

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.