15 Jun 2005 @ 11:28 AM 

Aku kembali terbangun dari tidurku. Jam di kamarku masih menunjukkan pukul 4 lewat beberapa menit. Sudah beberapa hari terakhir aku selalu terbangun, begitu juga aku selalu tertidur saat masih berhadapan dengan laptopku yang ada di samping tempat tidurku. Memang sudah 1 bulan terakhir aku selalu pulang larut malam dari kantor dalam kondisi payah dan capek. Hampir setiap malam pula aku hanya makan 2 bungkus nasi jinggo, mengingat jam aku pulang sudah hampir tidak ada orang berjualan makanan dan selera makanku juga sudah hampir hilang. Praktis aku sempat dijuluki spesialis nasi jinggo oleh teman se-kost, karena aku terus berpindah penjual saat membeli nasi murah meriah khas Bali itu.

Nasi jinggo memang bisa dibilang makanan khas Bali. Seperti halnya nasi kucing di Jogja, nasi jinggo ini per bungkusnya juga murah sekali, ada yang seribu, ada juga yang seribu lima ratus; jadi sesuai dengan porsi nasinya yang hanya sekepalan tangan. Penjual nasi jinggo banyak sekali, dalam 1 jalan bisa terdapat belasan hingga puluhan penjual nasi jinggo, tergantung seberapa panjang jalan tersebut. Tempat jualannya pun bisa bertetangaan sangat dekat, kurang dari 10 meter. Mereka ini berjualan saat matahari mulai terbenam hingga dagangannya habis, biasanya bisa sampai dini hari. Biasanya penjual nasi jinggo yang laris, dangangannya akan habis sebelum pukul 10 malam. Jadi walaupun penjualnya bisa ratusan dalam 1 malam di kota Denpasar ini, namun ada penjual-penjual tertentu yang punya “nasib” lebih baik dibandingkan penjual lainnya. Kalau meminjam istilah seorang temanku di Surabaya: “dagangan boleh sama, tempat jualnya juga boleh tetanggaan, tapi nasib beda-beda”. Sejenak aku mencoba merenungkan fenomena nasi jinggo ini. Sekilas mirip dengan profesi yang saat ini sedang kugeluti, yaitu memasarkan reksadana.

Bila mau dilihat, perkembangan reksadana Indonesia 2 tahun terakhir sangatlah pesat, bahkan paling pesat di Asia Pasific. Ibarat nasi jinggo yang mur-mer, reksadana juga merupakan alternatif murah untuk berinvestasi di pasar modal; demikian pula ibarat penjual nasi jinggo, penjual reksadana pun bak jamur di musim hujan; praktis dagangannya walau mirip-mirip tapi banyak sekali, tidak kurang dari 200 produk reksadana telah tercatat di bursa. Layaknya “makanan emperan”, nasi jinggo sering membuat sakit perut, terutama bila penjual/pembuatnya kurang higienis; maka di industri yang kugeluti ini juga pernah membuat para investor pemula menjadi panik bahkan sampai merugi. 2 bulan terakhir industri reksadana kembali digoncang oleh penarikan dana besar-besaran akibat kerugian yang dialami oleh sejumlah reksadana yang dipasarkan oleh perusahaan/bank ternama; praktis efeknya menyebar kemana-mana akibat pemberitaan negatif di media. Bahkan ada 1 manager investasi yang mengalami penarikan dana hingga 10 triliun.

Suatu kali pernah kubertanya pada teman-temanku yang telah tinggal lebih lama di Bali, “gimana nasib nasi jinggo yang tidak habis terjual malam ini? Dimakan sendiri, dibuang atau dijual lagi keesokan harinya?” Nasi jinggo itu isinya nasi putih (sekitar 1 kepalan tangan orang dewasa), sedikit daging (mayoritas ayam, ada beberapa yang menyediakan daging sapi) yang di-suwir, sedikit kacang/tempe goreng, sedikit kelapa parut halus yang digoreng, dan sambal; yang kemudian dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Pokoknya jumlah “lauk” dalam 1 bungkus nasi jinggo itu bisa dihitung dengan menggunakan jari tangan. Nah, berhubung lauk dan nasi yang sudah tercampur, maka bila lewat dari semalam tentunya nasi bisa punya kecenderungan untuk menjadi basi. Lalu bagaimana dengan nasi jinggo yang tidak habis terjual? Inilah yang menjadi tanda tanya hingga sekarang. Itu kenapa aku pun kalau membeli nasi jinggo juga cenderung mencari penjual nasi jinggo yang “populer” alias ramai, untuk menghindari hal yang tidak kuinginkan, seperti dapat nasi kemarin misalnya. Demikian halnya di industri reksadana, ada reksadana yang laris manis dan ada pula reksadana yang hidup segan mati tak mau. Bagi investor yang terlanjur masuk ke reksadana “sekarat”, tentunya harus membuat sebuah keputusan bertahan atau cut-loss. Namun, memilih produk yang terlalu laris pun tidak selalu menguntungkan, karena selalu saja ada hal yang harus dikorbankan. Seperti halnya analogi orang Indonesia yang selalu mencari barang “bagus, banyak, cepat, murah” yang hampir mustahil itu; maka demikian pula di industri reksadana, produk yang “stabil, bunga tinggi, likuid, bebas biaya” tentu sulit. Pepatah “there’s nothing perfect in this world” agaknya harus disadari pula dalam industri ini. Jadi pasti ada salah satu aspek, entah itu kestabilannya atau bunganya atau likuiditasnya, atau biaya jual-belinya yang harus dikorbankan. Aku sendiri selalu menekankan pada setiap orang (baik investor maupun tim di kantor) bahwa tidak ada investasi yang bunganya tinggi tapi resikonya nol. Jadi hukum dasar ekonomi benar-benar berlaku di sini: “high risk = high return, low risk = low return”.

Penjual nasi jinggo kebanyakan adalah kaum hawa, ada si “mbok” yang mulai uzur, ada pula “gek” yang punya paras lumayan. Pernah suatu kali kubaca di koran, tentang penjual nasi jinggo yang laris karena penjualnya cantik, sehingga banyak “bli” yang suka nongkrong dan makan di sana. Namun, penjual yang masuk kategori cakep ini tentunya rawan godaan dari pembeli atau pemabuk yang lewat. Memang, untuk mendapatkan minuman ber-alkohol di Bali relatif lebih mudah dan murah. Alkohol umum sekelas bir “bintang” sudah mirip seperti air minum kemasan, penjual alkohol berkelas (wine, liquior, margaritta, dsb.) cukup banyak, belum lagi “arak bali” yang ilegal (tanpa cukai dan setifikasi) yang kabarnya tingkat alkoholnya bisa mencapai 40% pun cukup mudah didapat. Hal ini yang membuat di Bali cukup banyak pemabuk, entah itu orang lokal ataupun turis asing. Jadi bila mau aman, maka penjual nasi jinggo pun harus pandai memilih lokasi berjualan. Kalau mau aman, biasanya mereka mencari lokasi di bawah lampu jalan, di emperan toko besar, di pinggir jalan yang ramai, atau mungkin ditemani oleh teman-temannya. Dalam industri reksadana, godaan pun kadang timbul. Selalu saja ada calon investor “nakal” yang kemauannya “aneh-aneh” sebagai syarat agar dananya mau dipindahkan ke reksadana yang ditawarkan oleh penjualnya. Aku sendiri pun cukup heran dengan fakta adanya penjual reksadana yang bersedia di-“aneh-aneh”-i oleh calon investor demi mendapatkan dananya. Aku heran mengingat komisi/fee yang didapat di industri ini tidaklah besar, sangat tidak sebanding dengan “pengorbanan harga diri” yang harus diberikan. Namun, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing. Yang jelas aku selalu menekankan pada timku agar selalu berjualan dengan harga diri karena toh apa yang kami jual adalah sesuatu yang sah dan saling menguntungkan. Dengan demikian relasi yang kami bangun dengan investor adalah relasi yang sehat dan saling membantu.

Bila sebuah makanan dikatakan laris, artinya tentu tidak jauh dari masalah selera atau bisa juga dibilang enak. Demikian halnya dengan nasi jinggo ini, ada yang enak dan ada yang tidak. Bila dilihat sepintas, lauk dari nasi jinggo ini tidak berbeda jauh satu sama lain, namun apa sesungguhnya yang membedakan? Dari sekian banyak pendapat yang coba kudapatkan, rata-rata menjawab kelezatan nasi jinggo ini terletak pada sambal-nya. Memang, unsur sambal inilah yang membuat pemakan nasi jinggo menjadi lahap saat menyantap menu sederhana ini. Aku sendiri membuktikan bahwa dari penjual nasi jinggo yang satu dengan yang lain, rata-rata hampir sama isinya; memang ada beberapa yang special, misalnya diberi sedikit telor dadar yang disuwir. Pernah suatu kali aku mendapatkan nasi jinggo yang “parah” menurut seleraku: nasinya sedikit, ayamnya lebih banyak kulit/jerohan, kacang bisa dihitung pakai 1 tangan, dan sambalnya… puedas! Phew, sehabis makan nasi itu, mulut serasa terbakar. Sedangkan nasi jinggo yang enak, daging ayamnya cukup banyak, dan sambalnya walau pedas, namun enak bila dimakan bersama nasi , karena sambalnya bukan sambal melulu, melainkan sudah diramu bersama bumbu lainnya. Kembali ke persoalan industri reksadana, yang mungkin antara satu produk dengan produk yang lain bisa dikatakan sama, yaitu reksadana. Namun, perbedaannya ada pada “rasa”-nya. Soal rasa tentunya harus melihat ke belakang dapur si koki; bagaimana dia memilih bahan, meramunya, memasak dan menyajikannya. Dalam industri reksadana, peran serta “koki”, dalam hal ini tim investasi, sangat berperan dalam menentukan kinerja reksadana tersebut. Tim investasi sebagai koki saat “memasak” sebuah reksadana tentu punya gaya tersendiri, ada yang masaknya kalem, ada yang masaknya ramai, dsb. Tipikal investasi yang konservatif maupun agresif inilah yang nantinya menentukan hasil dari sebuah reksadana. Untuk itu sebagai investor tentunya harus jeli dalam memilih reksadana yang cocok dengan seleranya. Bila salah memilih koki, tentunya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Mungkin nasi jinggo adalah makanan emperan yang sangat sederhana, namun bagiku nasi jinggo adalah salah satu komoditi yang perlu dicoba bagi setiap orang yang bermalam di Bali. Aku selalu menyempatkan menyajikan menu nasi jinggo bagi setiap tamuku yang datang berlibur ke Bali. Praktis dengan mencoba sendiri dan tahu mana penjual nasi jinggo yang enak dan higienis akan membuatku mudah memperoleh nasi jinggo bagi para tamuku tersebut, setidaknya mereka bisa mencicipi hidangan sederhana khas Bali tanpa takut terkena diare. Seperti halnya para penjual nasi jinggo yang setia menjajakan dagangannya setiap malam, demikian pula aku pun masih akan memasarkan reksadana sebagai sebuah pilihan investasi masa depan. Untuk itu dibutuhkan kepercayaan dari para investor. Memang, dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi reksadana, hal yang terpenting adalah soal kepercayaan. Kepercayaan antara investor pada perusahaan maupun pada penjualnya. Bila penjualnya saja sudah tidak bisa dipercaya, apalagi produk yang dijualnya? Beberapa kali ada 1 investorku yang selalu mengingatkan: “bilang-bilang ya kalau kamu pindah dari Bali.” Maksudnya, dia kemungkinan akan menarik dananya bila aku sudah tidak di Bali lagi, sekalipun aku tetap berada pada perusahaan ini. Menurutnya, dia ikut reksadana hanya karena ada kontak person yang dia percayai, thats all. Semasa belum pindah ke Bali pun, ada beberapa investor yang mengingatkan agar dia diberitahu bila aku sudah tidak lagi berada di perusahaan ini. Well, menurutku hal ini adalah wajar di dunia keuangan. Memang dalam industri keuangan, kepercayaan adalah faktor yang paling utama; apalagi untuk industri reksadana yang baru hidup (lagi) 5 tahun terakhir ini.

Pengalaman mencari nasi jinggo yang enak di Denpasar sedikit banyak membantuku untuk menghemat uang makan malamku. Pengalaman memasarkan reksadana pun banyak membantuku berelasi dengan banyak orang. Lewat semua peristiwa itu aku banyak mendapatkan pelajaran berharga . Kini industri yang kugeluti semakin menggeliat dan menjadi lebih kompleks. Aku dituntut untuk lebih memahami seluk beluk industri ini lebih dalam. Hari ini mungkin adalah salah satu hari dimana aku memperoleh manfaat dari industri ini, semuanya itu tak lepas dari peran serta seluruh tim yang bekerja bersamaku. Selain itu tentu atas berkat dan rahmat dari Tuhan yang selalu menjaga aku. Aku kembali termenung… memikirkan tentang pekerjaan yang harus kulakukan hari ini… dan juga memikirkan nasi jinggo mana yang yang akan kubeli malam nanti…

“Cintailah pekerjaanmu, tapi jangan pernah jatuh cinta kepada perusahaanmu, karena kamu tidak pernah tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu” — Narayana Murthy

Salam bonus,

JN. Rony
20050615

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Renungan
 02 Feb 2005 @ 11:25 AM 

Kemarin, aku mendapatkan email iklan jorok dari sebuah milis yang kuiikuti. Email tersebut dikirimkan tidak pada tempatnya, karena milis itu adalah milis pengguna PDA, sedangkan emailnya berisikan tawaran bisnis “esek-esek” dari seorang yang mengaku sebagai makelar DDM (Dodol Daging Mentah). Di email yang cukup panjang tersebut, disebutkan banyak nama ABG cewek dan cowok sampe ibu-ibu muda yang siap melayani Anda 24 jam πŸ™‚

Atas dasar keisengan, akhirnya kuforward email tersebut ke beberapa orang yang kukenal dekat. Tujuannya, tak lain ingin mengetahui reaksi mereka; sekaligus menyajikan informasi nyata walaupun sedikit menjijikkan. Dan seperti dugaan, reaksi yang kuterima hampir senada… intinya jijai πŸ™‚

Dari sekian teman yang mereply email jorok tersebut, aku mendapatkan beberapa kritikan sampai cacian atas email tersebut. Alasannya aku gak pantas mengirimkan email tersebut, atau inikah tingkah orang yang ngaku aktif di gereja, atau sudah jadi bejatkah aku kok sampai masuk ke bisnis esek-esek, atau lainnya lagi… dan rata-rata menempelkan “cap negatif” padaku πŸ™‚

Satu hal yang kupetik di sini adalah orang akan dengan mudah memberikan “cap negatif” pada tindakan seseorang yang dinilai menjijikkan atau berdosa. Aku jadi membayangkan, apabila aku saja yang hanya mem-forward email tersebut diberi cap yang jelek, bagaimana dengan nama-nama “ahli pijat aurat” yang ada di dalam email tersebut? Sudah barang tentu kita akan semakin najis melihat mereka. Bisa dibayangkan apabila ternyata di antara nama-nama yang ada tersebut adalah seseorang yang kita kenal? Tetangga? Saudara? Teman? Anak? Cap apa yang akan kita berikan pada mereka?

Aku jadi teringat pada seorang teman sekaligus guru saat aku masih aktif di karismatik. Saat itu teman ini begitu bersemangatnya ingin menobatkan seorang saja (tidak 2 atau lebih) perex (perempuan experimen) yang mangkal di salah satu diskotek di jantung kota Surabaya. Namun, entah apa saja usaha yang sudah dilakukannya, tapi hal tersebut tidak pernah kesampaian hingga hari ini. Harus diakui, mendekati komunitas bisnis esek-esek memang tidaklah mudah, apalagi sampai menobatkannya.

Aku pun teringat akan seorang romo yang kukenal yang dulunya (entah apa sekarang masih) membentuk komunitas yang menampung PSK kelas teri di stasiun Wonokromo Surabaya. Dari sharing cerita yang kuterima, tidaklah mudah mendekati mereka ini. Para PSK yang bayarannya mungkin hanya cukup buat makan nasi pecel, karena memang yang dilayani adalah orang-orang di sekitar stasiun yang kumuh dan jorok itu.

Aku juga teringat pada seorang rekan di Jakarta yang dulunya tidak percaya bahwa dunia sudah semakin bobrok dengan maraknya prostitusi di Jakarta dan kota lainnya. Ketidakpercayaannya itu ditunjukkan saat kuperlihatkan daftar-daftar tempat hiburan yang full service dengan bisnis esek-esek itu.

Well… itulah dunia kita… kenyataan yang harus kita terima bahwa banyak godaan di sekitar kita. Saat kuliah, di fakultasku marak dengan rumor adanya sepasang kakak-adik yang pekerjaannya menjadi perex. Sepintas dilihat, memang dandanan dan perilaku mirip dengan deskripsi perex yang beredar di masyarakat. Selang beberapa tahun, aku sempat bertemu dengan keduanya di luar kampus bersama ibu mereka yang ternyata adalah orang yang cukup terkenal di kalangan gereja dan merupakan donatur yang cukup besar. Nah, hingga saat ini pun tidak ada yang pernah tahu kebenarannya… apakah mereka berdua benar-benar perex? Ataukah mereka hanya korban cap negatif akibat “kulit luar” mereka? Andaikan benar mereka perex, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka berasal dari keluarga yang beriman.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa hampir di setiap kota sudah ada bisnis esek-esek bahkan secara terang-terangan. Seorang teman saat ke Bali pernah bertanya padaku: “Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat melihat seorang bule berjalan dengan seorang wanita lokal dengan pakaian yang super sexi?” Aku yakin yang ada di benak kita kebanyakan adalah “wah… CO (cewek orderan) nich”. Memang cap negatif itu patut dimaklumi, karena di Bali begitu banyak pasangan yang terlihat “kontras” saat berjalan: putih – hitam, alias bule – lokal. Namun apakah semuanya itu prostitusi? Tentu tidak, karena di antara sekian pasangan antar etnis itu, ada yang benar-benar cinta. Hanya saja entah kenapa dandanan cewek (baik pasangan maupun sekedar CO) yang berjalan bersama para bule itu selalu bisa dikategorikan sexi. Ada sich yang bilang karena “tuntutan” dari pasangan bulenya.

Minggu depan umat Katolik sedunia sudah mulai memasuki masa pra Paskah, yang dimulai dengan hari Rabu Abu. Abu dimaksudkan agar kita sadar bahwa kita hanyalah berasal dari debu/tanah yang kotor. Selama 40 hari itu pula, kita ditantang untuk mengendalikan hawa nafsu kita dan merefleksi diri kita dalam bentuk pantang dan puasa. Kita pun diminta untuk merasakan Jalan Salib Kristus.

Aku ingin sedikit mengutip kisah yang ada pada Injil Yohanes 8:2-11; di sana diceritakan bahwa seorang perempuan kedapatan berzinah dan dibawa kepada Yesus. Para ahli Taurat dan orang Farisi menyebutkan menurut hukum Taurat, maka perempuan tersebut harus dilempari dengan batu. Namun, Yesus malah berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes menulis bahwa satu per satu orang mulai meninggalkan kerumunan itu dimulai dari yang tertua. Kisah ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak berdosa. Dosa besar atau kecil itu hanyalah takaran saja, intinya tetap satu: DOSA.

Beberapa hari lalu aku menemukan jurnal dari seseorang di internet yang mengetengahkan bisnis esek-esek di beberapa kota di Indonesia. Capek juga bacanya, karena sedemikian panjang. Dan banyak hal yang kutemukan cukup mengagetkan karena sama sekali tak terduga sebelumnya. Kembali ke bisnis esek-esek… apakah yang akan kita lakukan apabila kita bertemu dengan salah seorang “ahli pijat aurat” tersebut? Bagaimana pula reaksi kita bila di antara mereka adalah orang-orang yang kita kenal atau bahkan kita sayangi? Inilah tantangan kita sebagai umat beriman.

Selamat menyambut Imlek dan Rabu Abu!

JN. Rony
20050202

eks bisnis makelar dan perantara, apa lu mau gua ada.

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Renungan
 21 Dec 2004 @ 11:16 AM 

Minggu malam kemarin adalah malam penentuan pemenang Penghuni Terakhir, yang hadiahnya berupa rumah senilai kurang lebih 1 Milyar. Di acara yang disebut sebagai Mega Realiti Drama ini para peserta dikumpulkan di rumah tersebut dan hidup bersama selama 100 hari. Acara ini mungkin boleh dikatakan sebagai “pengekor” dari acara yang melibatkan banyak peserta lainnya, yang mulai marak sejak digebernya acara AFI. Sejak itu memang banyak bermunculan acara serupa seperti Indonesian Idol, KDI, dan salah satunya Penghuni Terakhir (PeTir) ini. Aku pribadi tidak selalu mengikuti acara-acara ini karena memang kurang suka, dan aku melihat banyak di antara acara-acara itu terkesan “maksa” mempopulerkan para pesertanya. Namun, khusus untuk acara Rumah Petir ini aku melihat sebagai satu acara yang cukup unik.

Rumah Petir, begitulah istilah dari para peserta acara Penghuni Terakhir yang “dipaksa” hidup serumah tanpa akses ke dunia luar selama 100 hari. Para peserta dijaring dari berbagai kota dan kemudian dari sekian banyak peserta dipilihnya 14 orang penghuni yang saling bersaing untuk menjadi seorang Penghuni Terakhir di rumah mewah tersebut. Hari demi hari dilalui oleh para peserta dengan berbagai aturan yang ditetapkan, lalu pada minggu tertentu mulailah dilakukan “ekstradisi” yaitu pengurangan peserta. Dalam rumah inilah aku melihat banyak sisi kehidupan manusia yang bisa kita lihat dan kita renungkan. Seperti yang dituturkan oleh Mahdi, seorang finalis Petir pada saat detik-detik menjelang pengumuman pemenang, bahwa walaupun di layar televisi terkesan bahagia satu sama lain, namun di rumah itu bagaikan neraka. Well… memang demikian. Dengan sekian banyak peserta, mereka adalah manusia dengan latar belakang berbeda satu sama lain, berbeda adat, agama, keyakinan, motivasi, pola berpikir, cara berbicara, tingkah laku, dsb. Lalu masing-masing pribadi walaupun punya tujuan yang sama, yaitu memenangkan rumah 1 Milyar itu, tapi punya cara yang berbeda untuk mewujudkan tujuannya itu. Saat awal-awal para peserta berkumpul, terlihat jelas ada yang sabar, ada yang pemarah, ada yang lemah gemulai, ada yang supel, ada yang tegas, dsb. Itulah karakter pada penghuni dan selain itu juga bisa kita lihat berbagai cara mereka untuk memperoleh dukungan, mulai dari yang ingin membahagiakan keluarga, menyumbang orang tak mampu, membangun sistem keadilan, dsb. Semua janji-janji indah mereka ucapkan agar memperoleh simpati dari para pemirsa dan mendukung mereka lewat SMS.

Selama beberapa minggu terakhir aku mencoba merenungkan Rumah Petir ini ke dalam kehidupan nyata. Apa yang kita lihat dalam acara tersebut adalah pencerminan kehidupan nyata sehari-hari. Walaupun tanpa ada hadiah rumah mewah, namun dalam keseharian kita, entah di dalam lingkungan masyarakat tempat tinggal kita, dalam kelompok atau organisasi yang kita ikuti, atau di tempat kerja kita; di sanalah terdapat Rumah Petir kita. Masing-masing dari kita mungkin bisa mewakili salah satu dari para peserta di acara itu. Entah seperti Mahdi, Ester, Indri, Alex, Yohan, Iksan, kang Asep, Juli, atau lainnya. Masing-masing punya problem dan karakter tersendiri dalam menjalani hidup dan motivasi yang berbeda dalam mencapai tujuan.

Bila kita mengikuti latar belakang dan cara para penghuni Rumah Petir dalam mewujudkan impiannya, kita akan melihat beragam motivasi dari masing-masing penghuni yang disertai dengan “janji manis” jika keluar sebagai pemenang. Sadar atau tidak, itu pulalah yang kita lakukan saat kita ingin mewujudkan tujuan kita dalam kehidupan sehari-hari, entah di dalam pekerjaan atau di masyarakat. Hati orang siapa yang tahu, begitu kata pepatah; berlaku juga bagi pertarungan menjadi seorang penghuni terakhir. Namun, lewat acara Rumah Petir inilah kita bisa mencoba merefleksi diri kita, karena di dalam acara ini kita akan bisa melihat sisi lain dari seorang manusia. Ambillah contoh kang Asep, yang terkenal dengan kekaleman sikapnya dan pembawaannya yang tenang dan penengah dalam situasi konflik, pun dapat “marah” dan terbawa emosi yang “tak pantas”; terutama saat Ester ter-ekstradisi oleh Mahdi dan saat kang Asep tidak diselamatkan oleh Indri yang kemudian di-ekstradisi oleh Alex. Lalu bagaimana seorang Juli, yang dengan tingkahnya yang “agak kewanitaan” dan sering dipandang sebelah mata, bisa mempunyai dewi fortuna yang begitu besar, terbukti dia sudah ter-ekstradisi pada pertengahan acara, namun serasa mendapat “durian runtuh” saat mendapatkan amnesti dan bisa kembali bermain di rumah petir bahkan bisa bertahan hingga masuk ke posisi finalis 3 besar; padahal Juli adalah peserta yang hampir selalu mendapatkan polling SMS paling rendah, lebih sering kalah dalam game daripada menang, tidak pernah jadi bos, dan tidak pernah jadi pemegang kunci. Lalu, kita lihat Indri, satu-satunya peserta wanita yang bisa bertahan hingga 4 posisi besar, bersaing dengan ketat melawan dominasi pria, walaupun sayangnya harus ter-ekstradisi menjelang 3 besar. Masih banyak lagi profil-profil unik yang bisa kita lihat dan tanpa kita sadari… diri kitalah yang terpampang pada layar kaca itu.

Dalam keseharian, orang sering menilai kita dari sikap kita. Tak jarang orang lain pun ingin diri kita bertindak seperti yang diinginkannya. Hal ini tercermin pada permainan Rumah Petir, dengan adanya kubu-kubu dari peserta yang punya kans besar untuk menang. Para peserta kuat saling melakukan lobi-lobi untuk mendapatkan dukungan dari para peserta yang “no hope” atau miskin dukungan sms dan jarang menang dalam game. Saat malam ekstradisi, biasanya peserta yang duduk di 3 bangku posisi terendah akan berusaha mengingatkan “hutang budi” yang dimiliki oleh pemegang kunci agar bisa diselamatkan dan yang dimiliki oleh bos agar tidak di-ekstradisi. Kadang ekspresi kekecewaan pun tak bisa dibendung saat seorang peserta harus keluar dari permainan, apalagi saat dia merasa “dikhianati” oleh temannya. Mungkin dalam pekerjaan pun kita akan mengalami hal demikian, bisa jadi kita marah dan kecewa saat seorang rekan kerja yang selama ini dekat, tiba-tiba berbalik melawan kita. Atau mungkin dalam kehidupan bersosialisasi, kita pun sering marah dan kecewa saat seorang teman tiba-tiba bertindak tidak sesuai yang kita harapkan. Bahkan ada satu pendapat dari seorang peserta yang diliputi rasa frustrasi: “tidak tahu lagi siapa kawan, siapa lawan”.

Drama kehidupan dalam permainan Rumah Petir mungkin sudah berakhir (dan rencananya akan dilanjutkan dengan Rumah Petir 2), namun kita dapat mengambil hikmah dari kehidupan bersama yang dijalani oleh para peserta. Dalam drama kehidupan dalam permainan ini kita pun bisa melihat sisi positif dari peserta, bagaimana sikap mereka bisa berubah (dibandingkan saat pertama kali menginjak Rumah Petir), bagaimana sisi persahabatan antar penghuni, bagaimana cara menghadapi suatu masalah, bagaimana cara bertanding dalam game. Siapapun yang akhirnya menang, tentunya punya “beban” membayar “hutang janji”-nya pada keluarga, teman, bahkan masyarakat yang sudah mendukung dia. Jangan seperti yang ditanyakan oleh seorang juri (yang juga psikolog), “apakah kamu seperti orang yang akan terjun payung; saat mau terjun berdoa: Tuhan kalo saya selamat sampai di bawah saya akan potong sapi; saat payung sudah terbuka, doanya diganti: potong kambing; dan saat sudah mendarat: potong ayam dech”. Inilah fenomena yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin diri kita pun sering melakukannya! Kita sering berjanji ini-itu saat kita dihadapkan pada seuntai “benang kusut”, namun saat benang berangsur terurai, janji pun dikoreksi.

Tak terasa Natal dan Tahun Baru akan tiba dalam hitungan hari. Sebagai seorang Katolik, aku pribadi punya “hutang janji” pada Tuhan yang sudah rela turun ke dunia dan mau hidup seperti manusia. Sebagai seorang pribadi, aku pun punya kewajiban dalam menyambut Tahun Baru. Tahun 2004 akan segera berakhir dan di tahun inilah aku akan meninggalkan jejak-jejak langkah kaki yang sudah kutempuh selama 1 tahun. Berbagai peristiwa dan kenangan sudah kualami, baik itu berupa kenangan pahit atau prestasi yang menggembirakan. Dalam tahun 2004 ini pula banyak hal tak terduga telah terjadi dalam hidupku; dimana aku melakukan banyak sekali “hal gila” yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk kulakukan, namun juga aku pun banyak tidak melakukan hal yang seharusnya kulakukan.

Yang pasti… Rumah Petir memberiku 3 inspirasi dan semangat, dimana kita dituntut untuk bermain “segila” mungkin dalam setiap “game of life”. Tidak perlu memusingkan akan menang atau kalah, namun persembahkanlah permainan yang cantik dan yang terbaik dari yang kita punya. Yang kedua adalah bertindaklah seperti diri sendiri, jangan menggunakan topeng. Menjadi diri sendiri akan lebih berharga, sekalipun konsekuensinya adalah dibenci orang lain karena dianggap tidak sejalan. Dan yang terpenting adalah menyerahkan semua proses dan hasilnya pada penyelengaraan Ilahi, karena tanpa berkat dan rahmat Allah, sekeras apapun perjuangan kita tidaklah berhasil.

Pagi ini aku mendapat hadiah ulang tahun yang telat dari seorang teman di Surabaya berupa pohon natal mini yang bertaburkan salju. Aku memang telah lama mengidamkan memiliki sebuah pohon Natal, namun tak pernah kesampaian. Pohon Natal mini ini, walaupun sederhana, namun sangat memberikan kesejukan padaku saat memandangnya. Memang Natal tahun ini agak berbeda bagiku, dimana aku akan merayakannya jauh dari kampung halaman. Aku akan merayakan Natal di tempat lebih sunyi, lebih sepi, dimana aku tidak mengenal banyak orang. Namun, sekali lagi aku percaya bahwa Tuhan punya jalan untukku. Tuhan telah menyiapkan sebuah Rumah Petir untukku di tempat ini. Di kota inilah aku diuji kemampuan, ketahanan, dan keuletanku untuk menjadi seorang pemenang.

Natal semakin dekat… akan kujalani dalam Rumah Petir-ku diiringi dengan lagu Christmas Auld Lang Syne-nya Marc Anthonty:

When mistletoe and tinsel glow
Paint a yuletide valentine
Back home I go to those I know
For a Christmas Auld Lang Syne

And as we gather ’round the tree
Our voices all combine
In sweet accord, to thank the Lord
For a Christmas Auld Lang Syne

When sleigh bells ring, and choirs sing
And the children’s faces shine
With each new toy, we share their joy
With a Christmas Auld Lang Syne

We sing his praises, day of days
And pray next year this time
We’ll all be here, to share the cheer
Of a Christmas Auld Lang Syne

In sweet accord, to thank the Lord
For a Christmas Auld Lang Syne

Merry Christmas Everybody!

JN. Rony
20041221

thx to Aunty Gone for the xmas tree!

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Renungan

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 2
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.