02 Oct 2005 @ 11:39 AM 

Sabtu petang sekitar pukul 19.00 WIB seusai makan malam bersama dengan seluruh pimpinan kantor di kawasan Pluit, dalam perjalanan pulang ke kantor di Thamrin, saya mendapatkan telpon dari pimpinan saya yang mendapatkan info perihal Jimbaran di-bom dan minta saya untuk memastikan berita tersebut. Saat itu juga saya menghubungi rekan-rekan di Bali untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Tak lama, saya mendapatkan berita yang cukup menyedihkan, yaitu Jimbaran dan Kuta Square di-bom πŸ™ Berita terus berkembang dan semuanya itu bisa kita lihat dan dengar di koran, televisi dan radio.

Berdasarkan informasi terakhir, bom terjadi di 2 tempat, yaitu Jimbaran dan Kuta Square. Sebelumnya memang sempat ada informasi telah terjadi bom di Hard Rock Hotel dan Nusa Dua, namun kelihatannya ini hanyalah salah persepsi, mengingat Hard Rock Hotel cukup dekat dengan lokasi di Kuta Square dan Jimbaran itu masuk ke wilayah Nusa Dua.

Sedikit gambaran buat rekan-rekan perihal lokasi bom di Bali, Jimbaran yang dimaksud itu tepatnya di pantai Muaya yang terletak bersebelahan dengan Hotel Intercontinental dan Fourth Season. Biasa kami menyebutnya sebagai Jimbaran Baru. Di daerah Jimbaran ada 3 tempat makan seafood bakar tepi pantai, yaitu Kedonganan, Jimbaran Lama, dan Jimbaran Baru. Ketiganya bertetanggaan. Dari ke-3 tempat makan tersebut, menurut saya Jimbaran Baru-lah yang paling favorit, mengingat tempatnya paling luas pantainya dan paling elit karena jumlah turis asingnya lebih banyak, ditunjang dengan harga yang lebih kompetitif. Di Jimbaran Baru ini, saya punya 2 tempat favorit, tempat dimana saya biasa menjamu tamu atau makan bersama teman, yaitu Cafe Menega dan Cafe Surya (eks Ubung). Sangat sedih mendengar bahwa Cafe Menega di-bom πŸ™ Dari perbincangan per telepon dengan pemilik Cafe Surya (yang juga teman baik dari Cafe Menega), saya benar-benar sedih mendengar gambaran lokasi saat kejadian. Saat ini lokasi tersebut masih ditutup. Di Jimbaran Baru, titik bom terjadi di Cafe Nyoman, ini lokasinya di pintu masuk, sedangkan Cafe Menega ada di tengah lokasi. Jarak keduanya lumayan jauh, sekitar 100-200 meter, ada paling tidak 10 Cafe di antaranya. Sedangkan di Kuta Square, lokasi bom ada di R.AJA’S (begitu tulisan sebenarnya) Bar & Restaurant. R.AJA’S ini terletak di sentral pertokoan Kuta Square, tempat paling padat bagi pejalan kaki dan kendaraan yang akan menuju ke pantai Kuta. R.AJA’S ini sangat ramai karena makanan di sana memang salah satu rekomendasi untuk dicicipi, berselebahan dengan Matahari Departemen Store.

Pada Sabtu kemarin, saya menerima cukup banyak SMS dan telepon yang menanyakan kabar saya; saya mengucapkan terima kasih atas perhatian rekan-rekan semua, bahkan Admin Gadtorade, Mr. Bob, langsung kasih ijin saya kirim berita tanpa tag OOT (Thx bos!). Saya tidak sempat membalas semua SMS yang masuk, mengingat jalur komunikasi hari itu lebih diprioritaskan menghubungi Bali untuk update info di sana plus jalur sangat padat, bahkan K750i saya hang bolak-balik padahal sudah diupdagre firmwarenya (bos Dugem bisa tahu kenapa?). Minggu siang saya bertolak balik ke Bali, satu jam sebelum SBY bertolak ke Bali juga.

Sedikit gambaran kondisi di Bali pasca Bom Bali 2, kondisi airport makin diperketat. Bagi yang akan mengunjungi Bali, dimohon tidak membawa barang-barang yang aneh-aneh, karena urusannya bisa panjang. Sebisa mungkin tidak membawa barang-barang yang dikategorikan “berbahaya”. Dalam pesawat tadi siang, saya menjumpai cukup banyak rekan-rekan pers dari dalam dan luar negeri. Semuanya memboyong peralatannya yang canggih-canggih. Setidaknya saya tadi melihat wartawan dari TV7, TransTV, dan Bloomberg. Setibanya di Bali, jalanan sekitar Kuta penuh dengan polisi dan mobil tim gegana terlihat berseliweran di jalan. Belum lagi ambulans yang meraung-raung minta jalan. Lalu tadi sempat pula terlihat rombongan VIP dikawal ketat.

Malamnya, sehabis makan, saya mencoba mendekati TKP di Kuta Square dengan mobil. Suasana mendekati Kuta sangat sepi. Di sepanjang jalan Kartika Plasa (jalan menuju Kuta Square) sangat lenggang. Paling tidak, kalau mau saya bisa memacu mobil saya sampai 60 km/jam, hal yang tidak mungkin dilakukan di hari biasa, namun tentunya itu tidak saya lakukan, bisa ditangkap Brimob euy! πŸ™‚ Di hotel-hotel sepanjang jalan itu, penjagaan luar biasa ketat; apalagi di kawasan Kartika Plaza dan Discovery Shopping Mall milik TW, wah… full Brimob. Memang masih terlihat ada turis lokal dan asing yang masih berjalan-jalan di sana, namun frekuensinya sangat sedikit dan banyak toko memilih tutup. Semakin mendekat lokasi Kuta Square, kondisi makin mencekam dan sepi. Jalan di Kuta Square ditutup dan dijaga ketat oleh aparat dan pecalang (polisi adat). Saya mengambil jalan memutar dan akhirnya melewati sisi ujung Kuta Square yang dekat dengan TKP. Di sana pun terlihat berlusin-lusin polisi dan beberapa truk polisi parkir di sana. Kelihatannya masih dilakukan olah TKP dan masyarakat bergerombol menonton dari batas “police line”, namun itupun tidak terlampau banyak, sehingga dari mobil pun saya masih bisa melihat ke arah TKP. Benar-benar suasananya mati dan gelap.

Dari sana saya memasuki pantai Kuta dan melewati Hard Rock Hotel dan memastikan bahwa bom di Hard Rock itu memang hanya kesalahan persepsi. Selanjutnya saya memasuki kawasan “Legian Street” tempat “Bali Blast” 3 tahun lalu. Di jalan yang anti-lancar (karena selalu macet) ini mobil masih bisa melaju cukup kencang. Pub & Bar yang biasanya ramai, terlihat sepi. Toko-toko souvenir lebih banyak yang memilih tutup. Resto dan Cafe juga sepi. Memasuki “Ground Zero”, suasanya juga sepi, tidak seperti biasanya yang padat dengan pengunjung yang berfoto ria. Intinya… Bali kembali “mati” seperti 3 tahun lalu! Memang diberitakan di radio dan televisi bahwa exodus belum terjadi dan turis masih melakukan aktivitasnya, namun suasananya berbeda… menurut saya sich ini sepi sekali! Padahal, bulan September kemarin merupakan “peak-season” turis asing di Bali. Bisa dikatakan semua hotel di kawasan Kuta penuh.

Walau saya bukan warga Bali, namun setahun tinggal di Bali membuat saya bisa turut merasakan betapa susahnya bangkit dari “Bali Blast” 12 Oktober 2002 lalu. Bom kali ini momentnya sangat krusial, mengingat: BBM baru naik cukup tinggi, menjelang 1 tahun pemerintahan SBY, menjelang masa puasa dan Rabu besok adalah hari raya Galungan, hari suci umat Hindu Bali yang harus dirusak oleh bom. Terlebih lagi, 2 minggu lagi kita memperingati pula 3 tahun Bom Bali yang efeknya ke seluruh dunia. Semoga otak pelaku bom bunuh diri ini bisa segera diringkus. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, pendatang seperti saya di Bali akan sedikit mengalami “kesulitan”, karena seperti yang lalu, sweeping identitas bagi pendatang dan razia mobil non DK (plat luar Bali), akan ditingkatkan.

Sebenarnya, indikasi serangan bom ini sudah ada sejak akhir Agustus lalu, karena saat itu di salah satu hotel di dekat Kuta Square ditemukan bom aktif yang berhasil dijinakkan. Saya ingat betul karena keesokan harinya saya merasakan penjagaan sangat ketat di bandara, saat saya harus terbang ke Jakarta menghadiri rapat kantor. Sayangnya ternyata sebulan kemudian, aparat dan intel kita masih bisa kecolongan juga; parahnya bomnya di beberapa tempat dan berurutan. Walau efeknya tidak sebesar Bom Bali 3 tahun lalu, namun banyaknya bom bisa memicu ketakutan juga.

Bali adalah indikator keamanan Indonesia. Bila Bali tak lagi aman, dimana lagi tempat yang aman di Indonesia untuk dikunjungi? Bahkan beberapa turis lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia. Maka tak jarang terlontar pertanyaan, “Indonesia ada di sebelah mananya Bali?” Saya pribadi berdoa untuk korban Bom Bali 2 ini dan berharap agar Bali tidak lagi masuk ke dalam daftar “travel warning”, karena dengan begitu berarti akan mematikan hidup orang Bali, yang penghasilannya didapat dari pariwisata.

Sekian ulasan dan oret-oret dari saya. Rencananya saya mau mencoba pula meninjau TKP di Jimbaran, namun masih mencoba mencari jalan agar bisa masuk, karena saat inipun lokasinya dihalangi “police line”. Semoga Bali bisa segera pulih…

From Bali with love, peace and wave…

JN. Rony
20051002

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo
 21 Jan 2005 @ 11:22 AM 

Dalam beberapa hari ke depan, rupanya saya memang diminta untuk beristirahat melepaskan segala kesibukan saya di luar kamar. Dengan adanya kecelakaan kecil yang mengakibatkan saya susah berjalan untuk beberapa hari memberikan saya kesempatan untuk banyak berdiam di dalam kamar dan hiburan saya hanyalah seperangkat komputer yang bisa berfungsi sebagai banyak hal, mulai tv, mp3, dvd, internet, dan di antaranya adalah untuk membuat refleksi lagi (setelah sekian lama absen :).

Saya pernah berjanji pada beberapa rekan untuk membuat satu tulisan perjalanan singkat dari milis ini… sebuah milis yang menurut saya fenomenal (salute to JK). Saya kira sekarang cukup tepat untuk menuliskannya πŸ™‚ Oret-oretan ini adalah tentang perjalanan milis dan sepak terjang saya πŸ™‚

Secara tepat, saya lupa kapan milis diskusi yang dikomandani Jeffry Komala ini lahir, sekitar tahun 2000-an ya? Yang jelas dalam arsip email yang ada di komputer saya saat ini menunjukkan bahwa sudah terdapat diskusi yang cukup ramai pada bulan September 2001. Saya sendiri sudah bergabung sebelum itu, namun beberapa hari sebelum serangan yang menghancurkan twin tower WTC di New York, terjadi pula “kecelakaan” pada komputer saya yang mengakibatkan hilangnya semua data yang ada, maka arsip sebelumnya benar-benar hilang, entah siapa lagi “anggota tua” yang suka mengarsip email di milis ini. Yang saya ingat adalah saya bergabung tak lama setelah milis ini lahir. Sebelum di milis ini, saya lebih banyak berdiskusi di milis Paroki-Net Surabaya yang juga fenomenal (setelah sebelumnya di ParokiNet :), bersama dengan beberapa “pentolan” di milis ini, di antaranya MoNi. Bertemunya saya dengan milis ini pun hanya kebetulan, efek dari browsing yang akhirnya membawa saya mencoba milisnya Jeffry ini. Waktu itu memang sedang mulai timbul bibit-bibit maraknya milis rohani, namun saat awal bergabung saya agak pesimis mengingat banyak milis rohani yang saya coba namun semuanya berakhir dengan sepi dan mati.

Perkenalan awal dengan milis diskusi ternyata berlanjut, mengingat diskusi yang ada cukup menarik, waktu itu yang saya tahu anggota aktifnya tidak banyak, seingat saya tidak sampai 50 orang yang aktif setiap harinya berkirim email. Seiring waktu, mulailah banyak imam yang join ke dalam milis ini dan disertai pula keluarnya beberapa imam yang sudah join sejak awal mengingat kesibukan mereka dan semakin ramainya frekuensi milis ini; salah satunya adalah MoNi yang akhirnya juga meninggalkan komunitas ParokiNet Surabaya (entah karena kemauan sendiri atau karena ada masalah denganserver saat itu :). Tahun-tahun itu pula saya masih aktif mengikuti setiap diskusi yang ada di milis.

Dari arsip yang saya baca kembali, terlihat pada tahun-tahun awal milis ini sudah sangat hebat! πŸ™‚ Saat itu terbentuklah pelayanan distribusi film rohani, tim doa, dompet peduli, dsb. Dari peserta diskusinya pun sudah beragam, yang saya ingat betul adanya seorang kristen taat (Mr. JP) yang ikut meramaikan milis mula-mula, namun diskusi tetap terkontrol. Seiring dengan pertumbuhan milis diskusi, lahir pula milis Api Katolik dan tak lama pula lahir juga milisnya tanah Purwokerto – Serayu-Net, dan masih banyak milis lainnya seperti milis para webmaster katolik – all-for-one, dsb. Saya sendiri saat itu juga bergabung dengan milis-milis baru tersebut, walaupun ada yang jenuh karena “isi” dari tiap milis tersebut gampir sama mengingat anggotanya juga hampir sama. Seiring perkembangan, saya memutuskan meninggalkan Api Katolik karena pertimbangan ini-itu. Sedangkan Serayu-Net saya lihat punya jalur diskusi tersendiri, mengingat ini milisnya keuskupan Purwokerto, tentunya akan berbeda dengan milis diskusi.

Tahun-tahun awal milis diskusi mulai dihebohkan dengan diskusi seputar patung Bunda Maria menangis darah di Surabaya, tepatnya di rumah Bpk. Thomas (alm.) yang sempat menjadi pro dan kontra. Saya baru dapat info kalau pembimbang Bpk. Thomas juga ada di milis ini πŸ™‚ Waktu itu saya sempat berseteru dengan anggota yang pro Bpk. Thomas (guys, remember Patricius? πŸ™‚ yang akhirnya hilang ditelan bumi. Saat itu pula Frater Wid sudah mulai akrab dipanggil Romo :p Tak lama setelah itu mulailah “perang urat syaraf” secara rutin di milis, sebut saja kasus “stoneddeejays dontlie” (Mr. Leo, how r u?); lalu munculnya milis “Indonesia-2001”; tak terkontrolnya milis “ApiK”; bertebarannya milis berawalan “Api” sebagai kelanjutan dari rusaknya “ApiK”; kasus “Surat Domba” di Keuskupan Surabaya (Mr. Lamuri, How r u? :), lalu rame-ramenya diskusi dengan Ursula (hi! how r u? :), dan masih banyak lagi (yang terakhir sempat anget with Mr. Tony :). Tak ketinggalan di milis ini juga telah mengalami beberapa peristiwa, seperti bom Bali, kematian dari papanya Jeffry (Oct 2002), dibajaknya tulisan Rm. Gani (yang akhirnya berbuah diterbitkannya buku karya MoNi), meninggalnya Uskup Surabaya – Mgr. Hadiwikarta, sampai digantinya perangkat komputer yang jadi jantung milis dan web gerejakatolik pada pertengahan 2002.

Walaupun begitu banyak kehebohan yang ada di milis, namun rata-rata kehadiran lawan bicara yang heboh itu datang dan pergi bagaikan tsunami di Aceh. Bagi sebagian anggota milis ini, mungkin komentar-komentar saya di milis dirasa mengganggu dan “kurang beriman”, namun itulah saya. Saya pribadi telah mengalami pasang surut dalam mengikuti Gereja Katolik, mulai dari sekedar ke gereja sampai aktif dalam dunia karismatik dan akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti cara kuno dan konservatif dalam beriman. Buat saya sekarang, beriman adalah bagaimana saya berpraktek dalam iman, bukan sekedar teori muluk dan berada di awang-awang. Begitu banyak orang-orang yang saya kenal berbicara soal iman, kerendahan hati, teologi yang tinggi, ajaran kasih, cinta Kristus, dsb. namun dalam tindakan ternyata NOL besar. Saya dibesarkan di lingkungan yang cukup keras dan membentuk saya untuk selalu bisa melindungi dan melayani diri sendiri tanpa bantuan orang lain; maklum hidup sebagai minoritas di era Soeharto memang menuntut keluarga saya untuk bisa hidup super mandiri: bertindak secerdik serigala dan berotak selicin musang. Karena itulah bagi saya, orang-orang yang tiba-tiba datang ke milis dan menyuarakan hal-hal yang muluk-muluk apalagi disertai dengan emosi dan kesombongan diri adalah tindakan super najis. Namun, saya pun tetap membagi 2 hal dalam milis ini, yaitu perkara iman dan perkara netiket. Perkara iman saya pribadi bukanlah orang yang suci, sehingga biarlah yang meladeni mereka yang lebih berkompeten, sedangkan saya lebih menyoroti perkara netiket. Hidup dalam masyarakat tentunya punya norma, demikian pula di milis… so, berdasarkan netiket itu pulalah saya bersuara vokal.

Selama 3 tahun arsip yang ada saya coba baca ulang, banyak sekali terjadi diskusi hangat bahkan panas, namun toh tak pernah bisa membuat milis ini runtuh, karena semuanya didasarkan atas dasar niat baik untuk berdiskusi, di samping kerja Jeffry sebagai moderator yang saya acungi jempol; di kala tuntutan pekerjaannya yang super sibuk di sebuah instansi yang merupakan tempat kerja paling sibuk nomer 2 dari semua tempat kerja yang ada (versi saya), namun masih menyempatkan menulis sedemikian banyak di milis. Jadi saya rasa buat mereka yang mau mengacau di milis harap berpikir 10 kali, mengingat di milis ini juga telah terbentuk beberapa “watcher” sukarela untuk menanggulangi tindakan kerusuhan tersebut, sebagai bukti cinta pada Jeffry πŸ™‚

Dari sisi keanggotaan, saya lihat hingga saat ini masih banyak anggota senior yang aktif hingga sekarang, seperti Frater Widyo, Romo Gani, Romo Teja, Romo Seger, Mam Densy, lalu bapak-bapak berikut: Babe Re, Daniel, Andreas, David W, Kartono, Eric, Seng Goan, Yoga, Jerry, David Tjandra, dan masih banyak yang ga bisa disebutkan satu-satu… namun saya melihat terjadinya regenerasi dalam berdiskusi, dari yang dulunya kebanyakan dijawab oleh Jeffry, namun sekarang sudah begitu banyak pakar-pakar Gereja Katolik yang bersuara. Salute untuk Anda semua! Saya sendiri sejak tahun 2004 lebih banyak memfokuskan diri pada pekerjaan sehingga tak banyak bersuara di milis (kecuali untuk ribut tentunya :). Inilah dinamika milis diskusi sepanjang perjalanannya, semakin matang dan solid; walaupun kadang terlihat heboh dan panas.

Lalu saya cukup banyak menyoroti suara dari rekan-rekan soal perbedaan pendapat, yang menimbulkan pertanyaan buat saya: apakah dengan mengaku sebagai orang Katolik (agamanya sama) lalu kita tidak boleh punya pandangan/pendapat yang berbeda? Saya rasa sah-sah saja… toh pengalaman iman tiap orang berbeda. Justru pengalaman iman itulah yang coba kita cari melalui diskusi di milis ini. Saya lihat sebagian dari rekan di milis mengharapkan milis ini selalu damai, tentram, aman dan berisikan hal-hal yang indah. Menurut saya, bila demikian adanya, milis diskusi tidak akan bertahan lama. Mengapa? Sebab artinya milis ini hidup di awang-awang. Beriman pada Kristus tidaklah selalu indah dan mengenakkan. Justru saya banyak belajar dari perbedaan dan dari sana iman saya semakin teruji, apakah saya setia pada Gereja Katolik atau tidak. Saya banyak melihat rekan-rekan saya menyerah dengan berbagai alasan dan pindah ke gereja tetangga. Justru bila kita selalu senantiasa hidup dalam lingkaran kenyamanan, maka pas ada serangan kecil saja, iman kita langsung goyah. Inilah yang saya sukai dari milis diskusi, yaitu perbedaan dan keragaman diskusi yang terjadi, yang saya tidak temukan dalam milis rohani manapun yang pernah saya jelajahi. Kebanyakan milis rohani malah hanya berisikan email-email cerita hasil forward yang ga jelas menambah iman atau hanya sebagai sampah iman yang bertebaran di dunia maya.

Itulah sekelumit perjalanan milis diskusi dari tahun ke tahun dengan beberapa perkembangannya. Demikian pula sedikit tentang apa yang saya yakini selama mengikuti milis ini. Buat saya simple kok, diskusi tidak selalu berakhir dengan keputusan yang sama, karena nanti namanya jadi musyawarah untuk mufakat. Diskusi iman tentu akan berbeda hasil bagi setiap orang, karena yang namanya iman adalah pengalaman paling pribadi dari setiap orang yang manjalaninya. Walaupun kita satu atap dalam Gereja Katolik, tapi jalan yang kita tempuh akan berbeda; ada yang lurus dan lancar, namun ada yang harus melewati jalan berliku-liku. Tidak ada yang salah atau benar dalam pengalaman iman, selama semuanya berusaha menggali dan mencari kebenaran akan Kristus. Maka marilah kita berdiskusi dengan benar, janganlah berdiskusi dengan tujuan pembenaran diri dan penyombongan iman. Selain itu, sebagai pengguna dunia maya, kita pun dituntut untuk belajar dalam bermasyarakat di dunia maya. Dunia nyata punya aturan, demikian pula dunia maya, jangan asal tabrak saja. Saya pribadi kurang menyukai birokrasi dan peraturan, namun semua itu tentunya akan tetap ada dan akan selalu dilanggar. Namun dengan kesadaran untuk beretika baik di milis tentu akan bisa membuat suasana diskusi di milis menjadi nyaman, sekalipun topiknya sepanas apapun. Dan bila tetap ada yang keras kepala, tentunya saya masih akan setia meladeni karena saya paling suka ama urusan dunia macem ini; mungkin sudah suratan untuk jadi “raja setan”, julukan yang diberikan junior saya di kala SMA dulu πŸ™‚ Sayang hingga saat ini belum ada berani bertemu, melainkan hanya berani berkoar-koar mengacau di milis πŸ™‚

Selamat hari raya Idul Adha!

JN. Rony
20050121
“Penting atau tidak penting, yang penting tidak merasa diri paling penting”

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo
 07 Feb 2003 @ 4:45 PM 

Sudah 15 tahun lebih saya menempati rumah di kawasan timur Surabaya ini. Saya ingat persis saat pertama kali memasuki rumah ini, kiri dan kanan, muka dan belakang saya adalah sawah dan lahan siap bangun, hanya tetangga saya persis yang rumahnya sudah berdiri. Namun, karena mereka masih tinggal di rumah lama, maka praktis keluarga saya termasuk keluarga pertama yang tinggal di gang ini. Kawasan saya bertumbuh pesat dan lambat laun menjadi ramai, sampai saya sering kali agak “mangkel” kalo dibilang, “wah, orang kaya nich… tinggal di kawasan elit”. Saya pikir, kalo memang saya baru pindah 5 tahun terakhir, mungkin saya memang kaya… tapi lihat donk harga rumahnya saat 15 tahun lalu… sapa yang mau tinggal di sini? Sawah semua! Mall belum ada, bahkan tukang tambal ban pun belum ada. Gara-gara nekat tinggal di sini (tapi memang harus), sendirian di saat rumah-rumah yang lain belum jadi, rumah kami harus mengalami perampokan yang menghabiskan seluruh harta benda di rumah (sedih rasanya memikirkan hal itu). Memang saat itu di kampung belum terbentuk korps hansip seperti sekarang yang tambah hari para hansip itu tambah “metesek” (istilah suroboyo untuk menjengkelkan) dan minta para penghuni menghormati mereka, sesuai dengan moto mereka (yang ditempel di pos mereka): “Anda sopan, kami segan”. Saya pikir, sapa yang menggaji mereka? Bukannya mereka pegawai kita?

Tahun bertambah, pembangunan meningkat. Sekitar 1 kilometer dari komplek saya dibangun dengan megah Asrama Haji beserta Rumah Sakit Haji (yang dibantu pemerintah Arab Saudi) dengan peralatannya yang canggih (maklum, bantuan!). Tapi sayang… karena perlakuan penggunanya membuat Rumah Sakit ini tidak jadi RS taraf internetional, tapi tidak lebih dari Rumah Sakit Daerah yang parah dan gak layak rawat. Seiiring dengan perkembangan pula, maka Asrama Haji di tempat ini mulai dipakai untuk penampungan kloter-kloter Haji di sebagian Indonesia Timur. Dengan adanya para “tamu Allah” ini, suasana sekitar pun marak… penjaja makanan dan lainnya bertebaran di sana-sini… sungguh menguntungkan bagi orang yang tinggal di sekitar sana untuk membeli makanan yang sebelumnya agak susah. Praktis, Asrama Haji pun semakin ramai, selain dijadikan penampungan kloter, juga sering dipakai untuk penampungan atlet bila ada event olahraga atau bahkan tempat rapat partai tertentu. Pokoknya multifungsi dech! Saya sendiri sampai penasaran juga ingin tahu “jerohannya” Asrama Haji yang kabarnya bisa menampung ribuan orang itu. Yah, berkah pun bertebaran bila ada event-event membuat para pedagang pun ada yang “mematenkan” stand mereka di sepanjang jalan depan Asrama Haji. Beberapa warung telah saya coba dan sajiannya pun lumayan. Mereka pun rata-rata punya pelanggan dari rumah-rumah di sekitar sana.

Namun di samping berkah, ada juga yang bikin sebel bila musim haji tiba. Apa itu? Di antaranya adalah rombongan pengantar! Sampai saat ini yang paling dikeluhkan adalah rombongan pengantar yang bisa bermobil-mobil dan dengan seenaknya sendiri menempel tulisan rombongan calon jemaah haji daerah xxx, bikin jalanan macet! Padahal yang ngangkut CJH-nya sendiri saja sudah bis-bis besar, masih ditambah mobil kecil-kecil, banyak lagi. Saya pribadi heran, padahal si CJH kalo udah masuk ke Asrama Haji, praktis mereka dan pengantar udah gak bisa ketemu, kecuali by phone yang antrinya panjang banget. Ngapain juga pake diantar orang satu kampung? Itu mo ngantar atau mo jalan-jalan atau jeleknya mo pamer? Ok-lah jangan kita persoalkan masalah itu, toh itu urusan mereka mau mengantar sanak-saudara, teman, atau bahkan orang yang kebetulan satu kampung dengan si CJH; yang sangat disayangkan adalah… mereka dengan enaknya parkir di sepanjang jalan raya (karena di jalan depan Asrama Haji udah gak nampung) dengan radius 1 kilometer di seputaran Asrama Haji. Udah gitu, berhentinya di depan rumah-rumah orang lalu gelar tikar dan seperti sedang piknik. Makan-minum-tidur dan buang sampah sembarangan… mau dilarang, nanti bakalan ribut… gak dilarang, ntar yang ngerasain banjir khan yang punya rumah, bukan mereka!

Problem lainnya adalah corong speaker Asrama Haji yang tak kenal waktu dalam mengumumkan kedatangan, keberangkatan, atau panggilan. Keras sekali… dalam radius 1 kilometer bisa terdengar… bayangin dech… kamar saya yang nempel di pekarangan depan… phew… sepanjang hari harus mendengarkan “teng-tong-teng-teng! panggilan kepada xxx dari kloter yyy, ditunggu saudaranya di depan pagar”. Sapa yang gak sebel coba? Dan yang paling menjengkelkan adalah TELPON! Krang-kring-krang-kring, isinya: “Assalamualaikum… pak tolong dipanggilkan xxx” atau “Asrama Haji?” dan sebagainya dech… phew… pokok kalo musim haji, telpon rumah jadi posko haji juga dech! Sudah lapor Telkom bolak-balik, tapi tetep saja gak ngefek… ganti jalur di STO juga sama saja. Malah dulu lebih parah… rumah kami jadi 2 markas, kalo gak “Asrama Haji?” ya “Taxi Zebra?” Payah gak? Pernah malam-malam jam 2 dini hari, telpon bunyi terus… pas diangkat, lha kok… “Pesen taxi 1 unit…” Wah… mangkel dech… akhirnya ya kalo terus-terus bunyi, telpon kami cabut kalo malam… dan sialnya, pernah ada saudara yang calling dan gak bisa masuk, apalagi pas itu belum punya handphone.

Itulah susah yang dirasakan selama ini… mau protes, gimana ya… khan mereka juga mau menjalankan ibadah mereka… jadi lambat laun, udah kebal dech orang komplek di sini… mau diapakan lagi, ya nggak? Tapi, 2 hari ini mata saya jadi terbuka lagi… ternyata kesusahan yang didatengkan akibat musim haji ini lebih luas dari yang saya perkirakan… Berawal dari woro-woro dagangan saya ke milis, jualan VCD Maria Rembulan Kristus dan CD Alkitab Elektronik. Dari sekian puluh rekan-rekan yang memesan, ada juga rekan dari pulau paling “pucuk” (ujung) Indonesia… dari Papua (apa kabar Papua! :), yaitu 1 di Timika dan 1 di Biak. Sesuai prosedur, saya hanya baca pricelist kurir ke sana dan saya kabarkan pada mereka. Setelah disetujui, maka kiriman pun saya siapkan untuk dikirim. Yang pertama saya kirim adalah ke Timika. Waktu saya datang ke kurir dan bertanya, “kiriman ke Timika berapa lama mbak?” Maksud saya agar saya bisa mengabarkan pada pemesan range waktu pengiriman, agar bila terlambat/tidak sampai saya bisa klaim ke mereka. Tapi alangkah kagetnya saya begitu dijawab, “wah.. pak, lama sekali lho… kita gak berani terima.” Saya tanya, “Berapa lama?” Pikir saya paling 2 minggu… eh.. lha kok dijawab “MUNGKIN 1 bulan, itu saja gak pasti”. Dieng! Ada apa gerangan? Ternyata ini akibat musim haji… semua pesawat dipakai untuk ngangkut para “tamu Allah” dan calon “haji mabrur” itu dan praktis membuat semua kiriman mandeg total di terminal Makassar, karena akses ke Indonesia Timur harus lewat Makassar. Lalu saya coba kontak ke beberapa kurir besar, seperti TNT… mereka malah bilang, “kami tidak berani janji…” Aaaaa!!! Pagi ini saya coba lagi kontak ke Pandu Logistik, sebab menurut rekan di Timika, di sana ada perwakilannya… dan mereka juga bilang, “gak berani janji, kiriman ke Indonesia Timur sedang macet total.” Lalu saya kontak Tiki, hasilnya malah lebih tegas, “kiriman ke Indonesia Timur untuk sementara tidak diterima.”

Hmmm… kenapa ya… kok harus sampai mengorbankan banyak orang hanya demi menjalankan ibadah? Kalau lingkungan sekitar saja yang direpotin, saya bisa maklum… khan namanya juga tetangga. Tapi ini udah lingkup nasional… transportasi mandeg total… padahal Indonesia Timur khan juga INDONESIA! Kenapa harus sampai dikorbankan? Bagi saya sungguh menggelikan, di saat kita menjalankan ibadah untuk menjadi suci tapi tanpa disadari kita sudah membuat dosa kepada banyak orang… trus makna kesuciannya dimana? Hmmm… apa ini karena negara ini terlalu fanatik terhadap 1 agama? 1 pulau? 1 kota?

Tulisan ini saya buat atas dasar kekecewaan bertahun-tahun yang terpendam dan tidak menuntut untuk ditanggapi. Saya sadar inilah Indonesia, negara yang dicaci oleh warganya sendiri, tapi mau ditinggal juga berat… toh ini tanah kelahiranku…
Lebih jauh, kasus di atas bisa direfleksikan ke dalam kehidupan rohani kita… apakah dalam menjadikan diri kita suci itu kita TIDAK MENYAKITI orang lain? Sebab seringkali (dan bahkan sudah pernah mengalami sendiri) dalam aktif pelayanan, kita banyak membuat orang lain sedih/kecewa/marah akibat tindakan kita yang didasari dengan alasan “demi memuliakan/memperluas kerajaan Allah”.

Saya pikir, kerajaan Allah masih bisa diperluas tanpa menyusahkan orang lain, benar bukan?

JN. Rony
20030207
yang sedih gak bisa berbagi dengan rekan di timur sana…

Posted By: Mamoru
Last Edit: 19 Jun 2011 @ 03:15 PM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
Categories: Intermezo

 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 2
  • Posts/Pages » 139
  • Comments » 0
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

About



    No Child Pages.